INDRAMAYU, LOGNEWS.CO.ID – Dedikasi dalam bekerja merupakan bentuk tanggung jawab yang patut dihargai. Namun, di balik semangat pengabdian yang tinggi, ada kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Pengalaman inilah yang menjadi pelajaran berharga bagi Sukino, S.Pd., anggota tim keamanan Ma’had Al-Zaytun sekaligus tutor di PKBM Al-Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Setelah mengalami kondisi tubuh yang melemah selama beberapa hari, Sukino akhirnya harus menjalani perawatan medis. Di tengah perjuangannya memulihkan kesehatan, ia justru menemukan pengalaman yang membekas di hati, yakni ketulusan dan kepedulian orang-orang di sekitarnya.
Bagi Sukino, masa perawatan bukan sekadar waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi fisik. Pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan untuk merenungkan arti kesehatan, pengabdian, serta persaudaraan yang hadir ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit.
Ketika Dedikasi Membuat Tubuh Terlupakan
Perjalanan Sukino menuju ruang perawatan bermula pada 10 September 2026. Setelah sekitar sepekan merasakan lemas, batuk, dan pusing yang cukup mengganggu, ia bersama istrinya, Sri Wahyuni, S.Pd., yang juga merupakan tutor PKBM Al-Zaytun, memutuskan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Keduanya mendatangi Klinik Medisina Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, untuk menjalani pemeriksaan darah.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah trombosit Sukino berada pada angka 100 ribu per mikroliter darah, di bawah kisaran normal yang umumnya berada pada angka 150 ribu hingga 450 ribu per mikroliter. Berdasarkan kondisi tersebut, tim medis menyarankan agar Sukino menjalani rawat inap sehingga kesehatannya dapat dipantau lebih lanjut.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas kemampuan yang perlu diperhatikan, sekalipun seseorang terbiasa menjalani aktivitas padat.
Dalam kesehariannya, Sukino dikenal sebagai sosok yang aktif dan memiliki beragam tanggung jawab. Selain menjalankan tugas sebagai anggota keamanan Ma’had Al-Zaytun, ia juga dipercaya mengawal perawatan perkebunan pohon mangga milik Ma’had. Atas izin pimpinan, ia turut memanfaatkan waktu luangnya untuk bertani di lahan-lahan kosong.
Berbagai aktivitas tersebut dijalani dengan semangat dan kesungguhan. Namun, kesibukan yang padat terkadang membuat waktu istirahat, pola makan, dan kebutuhan minum kurang diperhatikan.
Pengalaman sakit itu menjadi titik refleksi bagi Sukino bahwa semangat bekerja perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan. Sebab, pengabdian yang berkelanjutan membutuhkan tubuh yang dirawat dan dijaga dengan baik.
Tiga Hari Perawatan, Dukungan Datang Silih Berganti
Selama tiga hari menjalani perawatan di klinik, Sukino dan keluarganya merasakan dukungan yang datang dari berbagai arah. Mereka tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.
Keluarga, rekan kerja, pembina, warga paguyuban, tutor, alumni, hingga warga belajar datang silih berganti untuk menjenguk dan memberikan semangat.
Sebagian pengunjung membawa buah-buahan, minuman, serta berbagai bentuk perhatian lainnya. Kehadiran mereka menjadi penguat bagi Sukino dan istrinya selama menjalani masa perawatan.
Di tengah kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, perhatian sederhana itu memiliki arti tersendiri. Sapaan, doa, dan kesediaan meluangkan waktu untuk menjenguk menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.
Salah satu sosok yang meninggalkan kesan mendalam adalah Bu Sutinem, seorang warga belajar yang rumahnya berada tidak jauh dari klinik tempat Sukino dirawat.
Dengan penuh kepedulian, Bu Sutinem berulang kali datang ke klinik untuk memastikan kebutuhan Sukino dan istrinya terpenuhi. Ia berusaha membantu sesuai kemampuannya, memberikan perhatian di saat keluarga tersebut sedang menghadapi ujian kesehatan.
Tindakan sederhana itu menjadi gambaran nyata bagaimana kepedulian dapat tumbuh dari kedekatan, kepekaan, dan kemauan untuk membantu sesama.
Bagi Sukino, dukungan yang datang dari berbagai pihak menghadirkan rasa haru sekaligus syukur.
“Alhamdulillah, rupanya saudara seiman tak kalah kentalnya dengan darah saudara kandung,” ungkap Sukino dengan penuh haru saat mengenang dukungan yang diterimanya dari keluarga besar Ma’had Al-Zaytun.
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa berharganya kehadiran orang-orang yang bersedia mendampingi ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit.
Persaudaraan, dalam pengalaman Sukino, tidak hanya tercermin dalam hubungan sehari-hari. Maknanya semakin terasa ketika seseorang membutuhkan bantuan, perhatian, dan penguatan dari lingkungan sekitarnya.
Kepedulian Menjadi Penguat dalam Pemulihan
Selama menjalani perawatan, Sukino mendapatkan perhatian dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ia juga berupaya mengikuti penanganan medis yang diberikan untuk memulihkan kondisinya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Sukino berangsur membaik. Berdasarkan keterangan keluarga, jumlah trombositnya juga mengalami peningkatan hingga akhirnya ia pulih dari sakit yang dialaminya.
Perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang disyukuri. Bukan hanya karena kondisi kesehatannya membaik, tetapi juga karena ia merasakan secara langsung besarnya arti dukungan sosial ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan.
Meski demikian, pemulihan kesehatan tetap memerlukan penanganan medis yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Perhatian keluarga, dukungan emosional, istirahat yang cukup, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat menjadi bagian dari proses pemulihan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh tenaga kesehatan.
Bagi Sukino, pengalaman ini memperlihatkan bahwa menghadapi sakit bukan hanya tentang melewati masa sulit secara fisik. Ada pelajaran mengenai kesabaran, kesadaran diri, dan pentingnya menerima dukungan dari orang lain.
Sakit Bukan Penghalang untuk Menjadi Lebih Baik
Pengalaman yang dialami Sukino membawa pesan penting bagi lingkungan kerja dan masyarakat luas. Semangat pengabdian memang perlu dijaga, tetapi kesehatan juga harus menjadi bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Seseorang tidak harus menunggu tubuh benar-benar melemah untuk mulai memperhatikan kebutuhan istirahat, menjaga pola makan, mencukupi kebutuhan cairan, dan memeriksakan diri ketika mengalami keluhan kesehatan.
Mengenali batas kemampuan tubuh bukan berarti kehilangan semangat. Sebaliknya, hal tersebut merupakan langkah untuk memastikan bahwa tanggung jawab dapat dijalankan secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Pengalaman Sukino juga mengajarkan bahwa menerima bantuan bukanlah tanda kelemahan. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian dan kesediaan untuk saling menguatkan merupakan bagian penting dari hubungan antarmanusia.
Dukungan yang diberikan Bu Sutinem dan orang-orang yang datang menjenguk menjadi contoh bahwa perhatian sederhana dapat menghadirkan kekuatan emosional bagi seseorang yang sedang berjuang memulihkan kesehatannya.
Persaudaraan yang Teruji dalam Masa Sulit
Kisah Sukino memperlihatkan dua hal yang saling melengkapi. Pertama, pentingnya menjaga keseimbangan antara dedikasi dan kesehatan. Kedua, besarnya makna persaudaraan ketika seseorang menghadapi ujian kehidupan.
Di lingkungan Ma’had Al-Zaytun dan PKBM Al-Zaytun, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam kegiatan bersama atau rutinitas pekerjaan. Kebersamaan juga tercermin melalui kesediaan untuk hadir, membantu, dan memberikan perhatian ketika orang lain membutuhkan.
Sakit yang dialami Sukino memang menjadi ujian bagi kondisi fisiknya. Namun, dari pengalaman itu, ia juga menemukan alasan untuk semakin mensyukuri kesehatan dan menghargai ketulusan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, sakit bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Masa sulit dapat menjadi kesempatan untuk belajar, memperbaiki kebiasaan, dan memahami kembali hal-hal yang benar-benar berarti dalam kehidupan.
Dedikasi membuat seseorang terus melangkah, kesehatan membantunya tetap kuat, dan persaudaraan mengingatkannya bahwa ia tidak harus menghadapi setiap ujian seorang diri.
INDRAMAYU, lognews.co.id – Upaya mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui berbagai inisiatif pemberdayaan berbasis komunitas. Salah satunya diwujudkan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Zaytun melalui kehadiran Toko Mantap di Blok Gabel, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Toko Mantap hadir sebagai wadah bagi warga belajar, alumni, tutor, serta masyarakat sekitar untuk mengembangkan potensi ekonomi melalui pemasaran produk makanan, jajanan tradisional, dan berbagai hasil olahan rumahan. Kehadirannya membuka peluang bagi para pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk mereka secara lebih terorganisasi, baik melalui penjualan langsung maupun secara daring (online).
Peresmian Toko Mantap pada Senin, 28 September 2026, disambut antusias oleh para ibu-ibu yang datang membawa beragam produk dagangan. Ada yang membawa makanan dalam tas plastik, kardus, hingga karung berisi hasil produksi rumahan untuk dititipkan dan dipasarkan melalui toko tersebut.
Suasana pembukaan berlangsung ramai. Meja-meja yang disediakan pengelola dipenuhi aneka hidangan sarapan pagi dan jajanan tradisional. Warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas turut tertarik untuk mampir dan membeli produk yang tersedia.
Antusiasme masyarakat memberikan hasil positif pada hari pertama pembukaan. Berbagai produk yang dipasarkan dilaporkan habis terjual. Kondisi tersebut menjadi dorongan awal bagi pengelola untuk mengembangkan Toko Mantap sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah Gantar.
Strategi Pemasaran untuk Mengurangi Risiko Kerugian
Keberhasilan Toko Mantap tidak terlepas dari pengelolaan usaha dan strategi pemasaran yang diterapkan. Umi Umutiah, tutor PKBM Al Zaytun yang juga memiliki pengalaman dalam bidang psikologi, bisnis, dan pemasaran, turut berperan dalam mengarahkan pengembangan usaha tersebut.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pemasaran secara langsung dan penjualan keliling. Apabila produk makanan atau menu sarapan belum habis terjual di toko hingga batas waktu tertentu, pengelola tidak hanya menunggu pembeli datang. Tim penjualan bergerak menawarkan produk kepada masyarakat di wilayah sekitar.
Bu Nuryati menjadi salah satu penggerak dalam pelaksanaan strategi tersebut. Melalui pendekatan jemput bola, produk yang masih tersedia dipasarkan kembali agar dapat terjual dan risiko kerugian akibat makanan tidak terjual dapat diminimalkan.
Strategi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan pemasaran yang adaptif dalam usaha makanan rumahan. Selain menyediakan tempat berjualan, pengelola juga berupaya membantu produsen menjangkau konsumen secara lebih luas.
Sri Wahyuni, pengontrol sekaligus penggerak Toko Mantap, menyampaikan bahwa keberadaan toko tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah, program ini disambut sangat baik oleh masyarakat. Bahkan, warga dari blok yang jauh pun ikut datang untuk berbelanja dan menitipkan dagangannya,” ungkap Sri Wahyuni.
Respons masyarakat juga terlihat dari keinginan para pelaku usaha untuk memiliki wadah pemasaran yang dapat menampung produk mereka secara berkelanjutan. Bu Lina, salah satu warga yang menitipkan pempek buatannya, menyampaikan apresiasi atas kehadiran toko tersebut.
“Ibu... bukannya dari dulu ya mengadakan toko seperti ini, toko yang menampung produk dagangan ibu-ibu,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang usaha bersama yang dapat membantu memasarkan produk rumahan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penjualan secara mandiri.
Berkembang dari Jajanan Rumahan hingga Kebutuhan Pokok
Seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, Toko Mantap mulai memperluas kegiatan usahanya. Pada tahap awal, toko berfokus pada penjualan sarapan pagi dan jajanan tradisional dengan jam operasional hingga pukul 12.00 WIB.
Dalam perkembangannya, jenis produk yang tersedia semakin beragam. Toko Mantap kini juga menyediakan kebutuhan pokok atau sembako serta buah-buahan segar. Jam operasionalnya pun diperpanjang hingga sore hari untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat berbelanja.
Perkembangan tersebut memperlihatkan upaya pengelola dalam menyesuaikan kegiatan usaha dengan kebutuhan konsumen. Toko Mantap tidak hanya menjadi tempat pemasaran produk olahan rumahan, tetapi juga mulai berfungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.
Selain itu, keberadaan toko turut menciptakan ruang interaksi sosial. Lokasinya menjadi tempat persinggahan warga, titik berkumpul, hingga lokasi untuk membuat janji sebelum melakukan kegiatan bersama, termasuk menjenguk tetangga yang sedang sakit.
Dengan demikian, manfaat Toko Mantap tidak hanya berkaitan dengan transaksi jual beli. Kehadirannya juga mendukung terbentuknya hubungan sosial dan kerja sama di antara warga.
Kepercayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Usaha
Tingginya minat masyarakat terhadap Toko Mantap turut mendorong munculnya keinginan sejumlah warga untuk berpartisipasi dalam pengembangan modal usaha. Melihat perkembangan kegiatan toko, sebagian ibu-ibu menyatakan minat untuk berinvestasi guna mendukung pertumbuhan usaha bersama.
Menurut informasi dari pengelola, minat investasi tersebut cukup tinggi hingga pendaftaran harus dibatasi. Antusiasme ini menjadi salah satu indikator adanya dukungan masyarakat terhadap keberadaan Toko Mantap.
Partisipasi masyarakat dalam usaha bersama dapat menjadi salah satu modal penting bagi pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Namun, keberlanjutan usaha juga membutuhkan pengelolaan keuangan yang tertib, keterbukaan informasi, pembagian peran yang jelas, serta mekanisme pertanggungjawaban yang dapat dipahami oleh seluruh pihak yang terlibat.
Melalui pengelolaan yang baik, usaha bersama seperti Toko Mantap berpeluang memperluas akses pemasaran bagi pelaku usaha rumahan sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif.
Filosofi Mantap, Bertekad Teguh Menuju Kemandirian
Nama Toko Mantap memiliki makna tersendiri bagi pengelolanya. Umi Umutiah selaku penanggung jawab menjelaskan bahwa nama tersebut berkaitan dengan kata azzam, yang bermakna tekad yang kuat.
“‘Mantap’ itu diambil atau diterjemahkan dari kata Azzam, yang bermakna 'bertekad teguh'. Kalau kita sudah ber-Azzam, Allah pasti akan menolong,” jelas Umi Umutiah.
Filosofi tersebut menjadi landasan semangat dalam mengembangkan usaha bersama. Tekad yang kuat diharapkan dapat mendorong para pelaku usaha untuk terus belajar, berinovasi, dan menghadapi tantangan dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
Bagi warga belajar, alumni, tutor, dan masyarakat sekitar PKBM Al Zaytun, Toko Mantap menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan melalui praktik langsung. Mulai dari menyiapkan produk, menentukan cara pemasaran, melayani konsumen, hingga memahami pentingnya kerja sama dalam menjalankan usaha.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang berangkat dari potensi lokal. Produk rumahan yang sebelumnya dipasarkan secara terbatas dapat memperoleh ruang pemasaran yang lebih terorganisasi ketika didukung oleh pengelolaan dan partisipasi bersama.
Mendorong Kemandirian Ekonomi Berbasis Komunitas
Kehadiran Toko Mantap di Gantar menjadi salah satu upaya PKBM Al Zaytun dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis komunitas.
Melalui wadah tersebut, masyarakat memiliki kesempatan untuk memasarkan produk, memperluas jaringan konsumen, dan mengembangkan kemampuan berwirausaha. Diversifikasi produk serta penerapan strategi pemasaran juga menjadi bagian penting dalam menyesuaikan usaha dengan kebutuhan pasar.
Ke depan, keberlanjutan Toko Mantap akan bergantung pada kemampuan pengelola dalam menjaga kualitas produk, mempertahankan kepercayaan konsumen, mengelola keuangan secara transparan, serta memperluas pemasaran secara bertahap.
Toko Mantap memperlihatkan bahwa kolaborasi dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif di tingkat lokal. Dengan semangat azzam, kerja sama, dan pengelolaan yang berkelanjutan, inisiatif ini diharapkan dapat terus membuka peluang usaha bagi ibu-ibu dan masyarakat di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu.
Kemandirian ekonomi tidak selalu berawal dari usaha berskala besar. Terkadang, langkah awalnya hadir dari produk rumahan, keberanian untuk bekerja sama, dan sebuah tempat yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh bersama. (Sri wahyuni untuk Indonesia)
INDRAMAYU, lognews.co.id - Suasana hajatan pernikahan putri pasangan Bapak Muryanto dan Ibu Nur’aini, warga belajar PKBM Alzaytun, di Blok Babakan Plaza, Haurkolot/Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Sabtu (10/10/2026), semakin meriah dengan penampilan Tim Angklung Srikandi Paguyuban Istri Peduli (PIP). Sebanyak 24 personel tampil kompak dan anggun, sukses menghibur para tamu undangan hingga mengundang mereka merapat ke depan panggung untuk berjoget bersama.
Rangkaian acara pernikahan yang diawali dengan prosesi akad nikah pada pagi hari berlangsung lancar. Kemudian, pada pukul 19.30 WIB, suasana malam semakin semarak ketika pembawa acara, Bapak Sueb, membuka hiburan dan mengumumkan penampilan Tim Angklung Srikandi PIP yang telah dinantikan.
Anggun dalam Penampilan, Kompak dalam Permainan
Dengan balutan kebaya hitam, kain batik, jilbab merah marun, serta hiasan bando melati, para personel tampil serasi dan memancarkan pesona tersendiri. Di bawah arahan dirigen sekaligus pemandu, Ibu Umi Rochimah, tim ini menyuguhkan harmonisasi musik angklung yang dipadukan dengan variasi gerakan menarik sejak pembukaan.
Tim memasuki area panggung dengan langkah anggun, didampingi langsung oleh Ketua Paguyuban Istri Peduli (PIP), Sri Wahyuni, S.Pd., yang juga merupakan tutor PKBM Alzaytun. Kekompakan antara dirigen dan para pemain menjadi daya tarik tersendiri, menciptakan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memikat perhatian para tamu.
Lima lagu dibawakan dalam penampilan tersebut, yaitu Taman Curug, Perahu Layar, Terajana, Jang, dan Mojang Priangan. Suasana semakin hidup ketika sesi karaoke turut melibatkan para ibu, di antaranya Ibu Karni, Ibu Paini, Ibu Sopi, dan Ibu Yuni. Lagu-lagu yang akrab di telinga masyarakat itu membuat suasana semakin hangat dan penuh kegembiraan.
Tamu VIP Turut Bergoyang, Saweran Mengalir sebagai Apresiasi
Sambutan masyarakat sungguh luar biasa. Sejumlah tamu beranjak mendekati panggung untuk ikut berjoget dan memberikan saweran sebagai bentuk dukungan serta apresiasi terhadap penampilan para personel.
Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah tamu VIP, termasuk Bapak Kurnoto dan Bapak Kobul beserta rekan-rekan, turut turun mendekati panggung. Hadir pula Bapak Suwandi, selaku pembina paguyuban sekaligus tutor PKBM Alzaytun, yang membersamai tim angklung dan menyaksikan antusiasme para penonton.
Keluwesan Ibu Umi Rochimah dalam memandu acara, ditambah selingan bahasa jenaka yang mengundang tawa, membuat suasana semakin akrab. Para pemain pun semakin percaya diri dan bersemangat menyuguhkan penampilan terbaik mereka.
Apresiasi dan Pesan untuk Terus Berproses
Usai pertunjukan, Tim Angklung Srikandi PIP menutup penampilannya dengan sesi foto bersama. Raut kebahagiaan terpancar dari para personel yang merasa bangga karena usaha dan latihan mereka mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Bapak Suwandi menyampaikan apresiasi atas kegigihan tim dalam berlatih hingga mampu menghadirkan penampilan yang berbeda dan menghibur.
“Hasil tidak membohongi proses. Maka terus berproses dan berlatih,” demikian pesan yang disampaikan sebagai motivasi bagi seluruh anggota tim.
Ia juga memberikan saran agar ke depannya Tim Angklung Srikandi PIP dapat berkolaborasi dengan alat musik lain, seperti gendang, sehingga irama yang dihasilkan semakin kaya dan pertunjukan terasa lebih hidup.
“Jangan Pulang Dulu, Tunggu Angklung!”
Antusiasme penonton ternyata tidak hanya terlihat saat pertunjukan berlangsung. Dalam perjalanan pulang, Sri Wahyuni masih terngiang komentar sejumlah tamu yang menunjukkan betapa mereka menantikan penampilan angklung tersebut.
“Pak, jangan pulang dulu… nunggu angklung aja,” demikian salah satu komentar yang terdengar.
Bahkan, ketika seorang tamu hendak berpamitan, salah satu panitia mengingatkan bahwa penampilan angklung akan segera dimulai. Seorang tamu pun menyambutnya dengan antusias karena ingin menyaksikan hiburan tersebut.
Respons spontan itu menjadi bukti bahwa musik angklung mampu menghadirkan hiburan yang dekat dengan masyarakat, mempererat kebersamaan, sekaligus menambah semarak acara hajatan.
Angklung sebagai Wahana Kebersamaan dan Pelestarian Budaya
Keberhasilan penampilan Tim Angklung Srikandi PIP menjadi kebanggaan tersendiri bagi Paguyuban Istri Peduli dan keluarga besar PKBM Alzaytun. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam sebuah hajatan, tetapi juga menunjukkan bahwa semangat belajar, kebersamaan, dan kecintaan terhadap seni budaya dapat terus tumbuh melalui kegiatan positif.
Alhamdulillah, Tim Angklung Srikandi PIP mendapat sambutan baik dari masyarakat. Semoga kehadiran tim ini senantiasa membawa keberkahan, meramaikan berbagai acara, menghibur masyarakat, serta ikut melestarikan seni musik angklung sebagai warisan budaya bangsa.
Terus berlatih, terus berkarya, dan terus menebarkan kebahagiaan.
Sukses untuk Tim Angklung Srikandi PIP. Semoga selalu kompak, semakin maju, dan sehat selalu! (Sri wahyuni untuk Indonesia)
INDRAMAYU, lognews.co.id - Keinginan melanjutkan pendidikan ke bidang Teknik Perkapalan mendorong Arham Bil Ikrom, pelajar kelas 12 Ma'had Al-Zaytun yang mengikuti ekstrakurikuler Perkapalan, untuk memanfaatkan pengalaman praktik selama menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah.
Arham menilai keterampilan fabrikasi dan teknik pengelasan yang dipelajarinya menjadi bekal awal untuk menghadapi pembelajaran di perguruan tinggi, khususnya pada bidang teknik dan vokasi.
Pengalaman tersebut diperolehnya melalui praktikum fabrikasi yang dilaksanakan pada 12 September 2026. Bersama rekan-rekannya, Arham mengerjakan pembuatan teralis pengaman jendela yang direncanakan untuk digunakan di rumah susun mahasiswa.
Praktikum Pengelasan sebagai Bekal Melanjutkan Pendidikan
Bagi Arham, kegiatan praktikum fabrikasi memberikan kesempatan untuk mengenal proses pengerjaan material logam secara langsung. Para pelajar tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mempraktikkan penggunaan peralatan dan teknik pengelasan dalam menghasilkan sebuah produk.
Dalam kegiatan tersebut, mereka menggunakan besi ukuran 8 dengan jarak grip sekitar 15 sentimeter. Proses pengerjaan juga melibatkan mesin las dan kawat las sebagai bagian dari praktik penyambungan material.
Selain memperhatikan fungsi keamanan, para pelajar membentuk pola teralis menyerupai belah ketupat untuk menghasilkan tampilan yang lebih menarik. Proses tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari ketelitian dalam pengerjaan fabrikasi.
Arham menilai pengalaman tersebut relevan dengan bidang teknik perkapalan yang ingin ditekuninya setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA.
"Saya ingin mengambil Teknik Perkapalan, disertai dengan enginering-nya. Hal ini memudahkan saya untuk beradaptasi kepada pembelajaran-pembelajaran nanti di bidang teknik ataupun vokasi," ujar Arham.
Keterampilan Pengelasan dan Relevansinya dengan Dunia Industri
Selain menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan, keterampilan pengelasan juga membuka pemahaman Arham mengenai penerapan teknik fabrikasi di berbagai sektor industri.
Menurutnya, kemampuan mengolah dan menyambungkan material logam dapat digunakan dalam pekerjaan konstruksi bangunan, industri minyak dan gas bumi (migas), serta fabrikasi baja.
"Teknik pengelasan ini kami pelajari supaya kami juga siap untuk bekerja di bidang industri, baik itu di konstruksi pembangunan maupun di bidang migas dan fabrikasi baja untuk membuat segala macam kerangka ataupun peralatan-peralatan yang menggunakan besi," katanya.
Melalui praktik tersebut, Arham dan rekan-rekannya memperoleh pengalaman dalam menggunakan peralatan pengelasan serta memahami tahapan pengerjaan produk berbahan logam.
Keterampilan itu juga memiliki keterkaitan dengan bidang perkapalan, yang menggunakan material logam dalam berbagai pekerjaan konstruksi. Pengalaman praktik sejak SMA diharapkan dapat menjadi fondasi awal bagi Arham untuk mendalami ilmu teknik secara lebih lanjut.
Dukungan Fasilitas untuk Mengembangkan Keterampilan Pelajar
Arham mengaku bersyukur memperoleh kesempatan mempelajari teknik pengelasan melalui fasilitas yang tersedia bagi tim Perkapalan Ma'had Al-Zaytun.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun atas dukungan fasilitas pembelajaran yang memungkinkan para pelajar mendapatkan pengalaman praktik di bidang fabrikasi dan pengelasan.
"Alhamdulillah saya sangat berterima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah memberikan fasilitas kepada kami tim perkapalan dalam mempelajari teknik pengelasan," tuturnya.
Bagi Arham, kesempatan belajar melalui praktik menjadi bagian penting dalam mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan minat dan rencana pendidikan masa depannya.
Pengalaman tersebut juga memberinya kesempatan untuk mengenali proses kerja yang dapat dijumpai dalam bidang teknik, sehingga ia memiliki gambaran awal sebelum memasuki pendidikan tinggi.
Menyiapkan Langkah Menuju Teknik Perkapalan
Arham berharap pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Ma'had Al-Zaytun dapat menjadi fondasi untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Ia ingin memanfaatkan keterampilan tersebut untuk mendukung proses belajar di perguruan tinggi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
"Saya sangat beruntung dapat mempelajari hal-hal seperti ini sejak SMA, yang mana ini mampu menjadikan langkah saya lebih kuat untuk ke jenjang berikutnya, baik itu di perkuliahan maupun di pekerjaan," ujarnya.
Pengalaman Arham menunjukkan bagaimana pembelajaran berbasis praktik dapat memberikan ruang bagi pelajar untuk mengenali minat, mengembangkan keterampilan teknis, dan mempersiapkan rencana pendidikan lanjutan.
Bagi dirinya, praktikum pengelasan bukan sekadar menyelesaikan tugas sekolah, melainkan bagian dari persiapan menuju cita-cita di bidang Teknik Perkapalan.
INDRAMAYU, lognews.co.id - Sekolah Kita Cibanoang, Kabupaten Indramayu, menerapkan metode pembayaran pendidikan yang cukup unik. Selain menggunakan uang tunai, sekolah menerima pembayaran dari wali murid dalam bentuk hasil bumi atau hasil panen.
Guru Sekolah Kita Cibanoang, Ustadz Abdul Karim, mengatakan, pembayaran pendidikan di sekolah tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya menggunakan hasil pertanian yang dimiliki masyarakat sekitar.
"Pembayaran ada beberapa metode. Yang pertama secara tunai atau cash. Kemudian juga bisa menggunakan hasil bumi atau hasil panenan," ujar Abdul Karim.
Hasil bumi yang diterima cukup beragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga hasil panen padi. Salah satu bentuk pembayaran yang diterima sekolah pada Selasa (6/10/2026) yakni berupa mentimun.
Menurut Abdul Karim, hampir berbagai jenis hasil pertanian dapat digunakan untuk pembayaran. Di antaranya mentimun, kangkung, bayam, labu parang, daun singkong, singkong, hingga padi ketika musim panen tiba.
Sistem tersebut diterapkan sebagai upaya untuk menjembatani kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang mayoritas berada di lingkungan pertanian.
"Digunakan sistem pembayaran menggunakan sayuran ini sebenarnya menjembatani masyarakat sekitar. Salah satunya supaya masyarakat sekitar tidak merasa kesulitan untuk pembayaran," katanya.
Ia menjelaskan, masyarakat di sekitar Sekolah Kita Cibanoang sudah sangat familiar dengan hasil pertanian. Karena itu, hasil bumi menjadi salah satu alternatif pembayaran yang dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
"Harapannya mereka tidak lagi kesulitan untuk melakukan pembayaran anak-anaknya yang menekolahkan di Sekolah Kita Cibanoang," ujar Abdul Karim.
Sengaja Menanam Sayuran untuk Biaya Pendidikan
Salah seorang wali murid, Rastina, mengaku terbantu dengan adanya sistem pembayaran menggunakan hasil bumi tersebut.
Menurutnya, pembayaran dengan sayuran dapat menjadi solusi ketika orang tua tidak memiliki uang tunai untuk membayar biaya pendidikan.
"Kalau saya sih senang pakai sayuran, soalnya bisa meringankan. Kalau tidak ada duit bisa pakai ini," kata Rastina.
Rastina bahkan sengaja menanam sayuran setiap tahun untuk disiapkan sebagai salah satu bentuk pembayaran pendidikan anaknya.
"Saya tiap tahunnya nanam sayuran. Sengaja juga, biar ringan bebannya. Saya sudah diniatin pakai hasil bumi," ujarnya.
Ia menilai keberadaan Sekolah Kita Cibanoang juga memberikan banyak perubahan bagi anak-anak yang bersekolah di sana. Menurutnya, kualitas pendidikan yang diberikan sekolah cukup baik dan perkembangan anak juga turut dipengaruhi oleh proses pendidikan yang mereka jalani.
Hasil Bumi Kembali untuk Kebutuhan Pelajar
Menariknya, hasil bumi yang diterima sebagai pembayaran tidak berhenti sebagai pengganti uang pendidikan. Hasil pertanian tersebut nantinya dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan konsumsi anak-anak di sekolah.
Abdul Karim menjelaskan, setelah hasil panen diterima, pihak sekolah akan membawanya ke bagian internal untuk kemudian diolah dan dimanfaatkan sebagai konsumsi siswa.
"Setelah kita terima, biasanya nanti dibawa ke dalam untuk nantinya digunakan untuk konsumsi anak-anak kita juga. Termasuk yang di Cibanoang nantinya. Bisa jadi nanti dijadikan sayuran atau yang lain," tuturnya.
Bagi Rastina, sistem tersebut membuat pembayaran pendidikan terasa lebih mudah dan tidak rumit, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang memberikan kemudahan bagi orang tua dalam memenuhi kewajiban pendidikan anak.
"Terima kasih untuk Ma'had Al Zaytun yang sudah meringankan dengan pembayaran pendidikannya pakai sayur, hasil bumi. Tidak ribet, intinya begitu," pungkasnya. (Saheel untuk Indonesia)
lognews.co.id - Kisah guru sesungguhnya kisah universal. Dari zaman ke zaman, rekam jejak mereka selalu menempati ruang istimewa dalam kehidupan masyarakat. Ia adalah sosok yang membawa ilmu, menuntun pikiran, sekaligus memberi teladan. Tidak mengherankan jika profesi guru sejak dahulu dipandang terhormat dan disegani. Guru dipercaya sebagai orang yang berilmu, bijaksana, dan mampu menunjukkan jalan kebajikan bagi generasi penerus.
Begitu istimewanya sosok guru, Plato, filsuf Yunani yang hidup sekitar 25 abad lalu (427–347 SM) pernah berujar, _Teachers have such power that prime ministers can only dream about it._ Guru memiliki kekuatan sedemikian rupa yang bahkan hanya dapat diimpikan oleh seorang perdana menteri.
Kekuatan itu bukan kekuasaan dalam arti jabatan. Bukan pula kekuasaan karena pangkat. Kekuatan guru terletak pada ilmu, keteladanan, dan kemampuannya membentuk cara berpikir manusia.
Goeroe zaman doeloe, sengaja ditulis dengan huruf ”oe” sebagai nostalgia, memiliki tempat khusus dalam ingatan masyarakat. Lulusan _Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers,_ sekolah pendidikan guru bagi kaum pribumi, tampil sebagai sosok yang disegani. Beberapa dekade kemudian, guru-guru muda lulusan Sekolah Guru Bagian B (SGB) hadir mendidik anak-anak pribumi di bangku Sekolah Rakyat (SR).
Saat itu, ungkapan guru sebagai “digugu dan ditiru” benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Guru bukan hanya tempat bertanya tentang ilmu pengetahuan. Ia juga menjadi rujukan dalam hal moral, integritas, karakter, sopan santun, bahkan perilaku sehari-hari.
Cikgu
Dalam tradisi masyarakat Melayu Malaysia, guru dipanggil 'Cikgu' . Panggilan Cikgu merupakan bentuk penghormatan kepada guru. Panggilan ini menggambarkan masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi adab dan ilmu.
Seorang Cikgu tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan di bilik darjah (ruang kelas). Ia juga sebagai pendidik budi pekerti. Pembimbing kehidupan, dan teladan dalam masyarakat. Penghormatan terhadap Cikgu mencerminkan falsafah masyarakat Melayu yang menempatkan ilmu dan orang berilmu pada kedudukan yang mulia. Panggilan Cikgu kerap digunakan bukan saja oleh murid kepada guru, tetapi juga oleh ibu bapa dan masyarakat kepada guru. Ungkapan keakraban sekaligus penghormatan.
Sebutan Cikgu melampaui sekadar gelar profesional. Ia merupakan simbol hubungan kemanusiaan yang berteraskan adab, kasih sayang, kepercayaan. Cikgu juga penghargaan terhadap jasa seorang pendidik.
Goeroe tempo Doeloe
Guru zaman dulu bukan hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Kehadirannya di kelas sudah cukup membuat murid mendadak duduk tegak, merapikan rambut, dan menghilangkan suara gaduh. Tongkat kecil, penggaris kayu, atau sekadar tatapan tajam sang goeroe sering lebih ampuh daripada bel sekolah.
Setelah murid muridnya dewasa, mereka sering mengenangnya dengan senyum. Dulu takut sekali kepada pak goeroe, tetapi sekarang baru terasa. Ternyata yang ditakuti bukan orangnya, melainkan kasih sayang dan cara menyampaikannya agak keras. Begitulah goeroe zaman doeloe. Ia disegani karena ilmunya, ditakuti karena wibawanya, dan ia dikenang karena jasanya.
Inspeksi Sekolah
Sistem manajemen sekolah pada masa itu antara lain dilakukan melalui sistem inspeksi. Kepala sekolah dikenal dengan istilah Mantri Goeroe. Sedangkan jabatan pengawas sekolah disebut School Opzichter, yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut Opsiner.
Al kisah, pada suatu hari. Toean Opsiner datang ke sebuah sekolah untuk melakukan inspeksi mendadak. Kedatangannya segera membuat suasana sekolah berubah.. “Opsiner datang!”, kata pak Mantri goeroe kepada para goeroe. “Benarkah?” “Iya. Cepat, rapikan kelas!”
Guru yang sedang berbincang di ruang guru segera memperbaiki posisi duduknya. Anak-anak pun masuk kelas dengan lebih tertib. Namun, ada kejadian kecil yang kemudian menjadi cerita tersendiri.
Sebelum masuk kelas, Toean Opsiner terlebih dahulu pergi ke toilet. Ia melepas pakaian kebesarannya. Jas putih dan topi bundar khasnya diletakan di meja guru depan kelas.
Tak lama kemudian, murid-murid mulai berdatangan. Satu per satu mereka masuk. Begitu melihat jas putih dan topi bundar itu, seorang murid berbisik kepada temannya.
“Jangan macam-macam. Itu punya Opsiner.” Temannya mengangguk cepat. Ketika melewati meja, anak-anak secara spontan “membungkukkan badan”. Ada rasa hormat. Ada pula sedikit rasa takut. Padahal yang ada di depan mereka bukanlah sang Opsiner. Hanya jas dan topinya.
Bagi anak-anak sekolah pada masa itu, wibawa seorang guru, mantri goeroe dan opseners seolah melekat bahkan pada pakaian yang dikenakannya. Kisah kecil itu memperlihatkan sisi lain pendidikan pada zaman kolonial. Mereka merupakan figur yang dihormati dan ditakuti para murid.
Zaman memang berubah. Sebutan goeroe berganti menjadi guru. Mantri goeroe dan Opsiner menjadi bagian dari sejarah. Sistem inspeksi berkembang menjadi supervisi akademik dan manajemen sekolah.
Pendidikan guru pun bergerak dari Kweekschool, SGB, SPG, hingga saat sekarang ini Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Ada satu hal yang tetap bertahan. Masyarakat membutuhkan sosok yang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga layak diteladani. Joeragan goeroe hingga guru profesional tetap dibutuhkan.
Perjalanan pendidikan guru bukan hanya perjalanan tentang sekolah. Ia merupakan perjalanan tentang bagaimana sebuah bangsa memuliakan ilmu, mendidik manusia, dan menyiapkan masa depannya. _A nation that honors knowledge, educates its people, and prepares them for the future._
INDRAMAYU, lognews.co.id - Pelajar Ma'had Al-Zaytun terus mendapatkan pembelajaran berbasis praktik sebagai bagian dari penguatan keterampilan vokasi. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan praktikum fabrikasi dan teknik pengelasan yang diikuti pelajar kelas 12 ekstrakurikuler Perkapalan, pada tanggal 12 september 2026.
Salah satu pelajar, Arham Bil Ikrom, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mempraktikkan secara langsung teknik pengelasan dan fabrikasi logam.
Dalam praktikum tersebut, Arham bersama rekan-rekannya mendapat tugas membuat teralis yang nantinya digunakan sebagai pengaman jendela pada rumah susun mahasiswa. Pembuatan teralis dilakukan dengan menerapkan sejumlah teknik dasar fabrikasi dan pengelasan.
"Praktikum kali ini kami diminta untuk membuat teralis untuk penjaga jendela supaya terhindar dari kemalingan ataupun hal lainnya," ujar Arham.
Dalam proses pembuatannya, para pelajar menggunakan besi ukuran 8 dengan jarak grip sekitar 15 sentimeter. Mereka juga memanfaatkan sejumlah peralatan pengelasan, termasuk kawat las dan mesin las.
Selain mengutamakan fungsi keamanan, pembuatan teralis juga memperhatikan aspek estetika. Para pelajar membentuk pola menyerupai belah ketupat agar hasil fabrikasi tidak hanya kokoh, tetapi juga memiliki nilai visual.
Menurut Arham, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pengalaman teknis, tetapi juga memperkenalkan metode dan prosedur pengelasan yang dapat menjadi bekal bagi pelajar ketika memasuki dunia kerja maupun pendidikan tinggi.
"Teknik pengelasan ini kami pelajari supaya kami juga siap untuk bekerja di bidang industri, baik itu konstruksi pembangunan, bidang migas, fabrikasi baja untuk membuat segala macam kerangka ataupun peralatan-peralatan yang menggunakan besi," katanya.
Pembelajaran tersebut juga dinilai memiliki keterkaitan dengan bidang perkapalan yang menjadi fokus kegiatan ekstrakurikuler para pelajar. Dalam bidang tersebut, keterampilan pengelasan dan fabrikasi menjadi salah satu kemampuan dasar yang dapat diterapkan dalam pengerjaan konstruksi berbahan pelat baja.
Arham mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan mempelajari keterampilan tersebut sejak jenjang sekolah menengah. Menurutnya, pengalaman praktik yang diperoleh dapat menjadi modal awal untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia profesional.
"Alhamdulillah saya sangat berterima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah memberikan fasilitas kepada kami tim perkapalan dalam mempelajari teknik pengelasan," tuturnya.
Ia mengatakan keterampilan yang dipelajarinya juga sejalan dengan rencana pendidikan setelah menyelesaikan sekolah. Arham berencana melanjutkan pendidikan di bidang teknik perkapalan dengan fokus engineering.
Menurutnya, pengalaman praktik sejak SMA dapat membantu dirinya beradaptasi dengan materi pembelajaran di perguruan tinggi, khususnya yang berkaitan dengan teknik dan vokasi.
"Saya sangat beruntung dapat mempelajari hal-hal seperti ini sejak SMA, yang mana ini mampu menjadikan langkah saya lebih kuat untuk ke jenjang berikutnya, baik itu di perkuliahan maupun di pekerjaan," ujarnya.
Kegiatan praktikum tersebut menunjukkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan teoritis dengan keterampilan teknis. Melalui pengalaman fabrikasi dan pengelasan, pelajar tidak hanya mempelajari penggunaan peralatan, tetapi juga memahami proses kerja yang relevan dengan kebutuhan pendidikan vokasi dan industri. (Saheel untuk Indonesia)
INDRAMAYU, lognews.co.id - Sebanyak 83 orang yang terdiri atas anak-anak PAUD, wali murid, pendamping, dan masyarakat dari PAUD Graha Insan Mulia, Yayasan Dharma Satya Graha, Desa Makarjati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, melakukan rihlah pendidikan ke Mahad Al-Zaytun, Minggu (4/10/2026).
Kunjungan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat lingkungan pendidikan Mahad Al-Zaytun sekaligus melihat secara langsung berbagai fasilitas yang tersedia di dalam kompleks.
Pendamping rombongan, Purnoto, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rihlah pendidikan atau edukasi yang ditujukan kepada anak-anak PAUD, wali murid, serta masyarakat yang tergabung dalam kegiatan rutin di Desa Makarjati.
“Kami berkunjung ke Al-Zaytun dalam rangka rihlah pendidikan atau edukasi,” ujar Purnoto.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan mengikuti senam bersama ibu-ibu yang tergabung dalam kegiatan senam Odeko di lingkungan Mahad Al-Zaytun. Setelah itu, rombongan mengikuti ramah tamah sebelum melanjutkan kegiatan dengan berkeliling ke sejumlah lokasi di kompleks Mahad Al-Zaytun.
Rombongan mengunjungi Sekretariat Pendidikan, fasilitas penyimpanan beras atau silo, fasilitas pemotongan hewan, hingga Grand Musala Rahmatan lil Alamin.
Menurut Purnoto, kunjungan tersebut telah direncanakan sebelumnya sebagai bagian dari upaya mengenalkan lingkungan pendidikan kepada anak-anak sejak usia dini.
“Kami memang sudah ada schedule-nya, sudah kami jadwalkan jauh-jauh hari untuk mengadakan edukasi, rihlah pendidikan dan khususnya adalah ke Mahad Al-Zaytun,” katanya.
Ia menilai Mahad Al-Zaytun memiliki sistem pendidikan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Terlebih, menurutnya, konsep pendidikan yang diterapkan memiliki jenjang yang berkelanjutan.
“Kami melihat bahwa pendidikan di Al-Zaytun yang begitu luar biasa. Maka anak-anak didik kami yang ada di PAUD GIM di Desa Makarjati ini dirasa harus sudah mulai mengenal dari sejak dini,” ujarnya.
Pandangan Berubah Setelah Melihat Langsung
Salah seorang peserta rombongan, Darsono, warga Desa Makarjati, mengaku sebelumnya sudah pernah datang ke Mahad Al-Zaytun. Namun, kunjungan kali ini membuat dirinya dapat melihat lingkungan dan fasilitas di dalam kompleks secara lebih mendetail.
Ia juga mengaku sebelumnya memiliki sejumlah kekhawatiran karena hanya mendapatkan informasi mengenai Mahad Al-Zaytun dari luar.
“Baru hari inilah terbuka bahwa Mahad Al-Zaytun itu memang fair, artinya biasa-biasa saja. Tidak seperti yang saya bayangkan,” kata Darsono.
Setelah mengikuti rangkaian kunjungan dan mendapatkan penjelasan mengenai sejumlah fasilitas, pandangannya pun berubah.
Menurutnya, berbagai fasilitas yang dilihat secara langsung menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan di Mahad Al-Zaytun dilakukan secara serius.
“Setelah mengetahui detailnya di sekretariat, di pemotongan dan sebagainya, itu menunjukkan bahwa Mahad itu memang tidak main-main,” ujarnya.
Darsono juga mengaku terkesan dengan perhatian terhadap pendidikan sejak usia dini yang menurutnya terlihat dari sistem dan fasilitas yang diperkenalkan kepada rombongan.
Ia bahkan menilai Mahad Al-Zaytun memiliki standar pendidikan yang menurutnya cukup tinggi.
“Saya yakin bahwa Mahad Al-Zaytun itu bukan standar ecek-ecek. Itu benar-benar standar internasional,” katanya.
Tidak Lagi Takut Berkunjung
Pengalaman melihat langsung lingkungan Mahad Al-Zaytun juga membuat Darsono tidak lagi merasa khawatir untuk datang ke kawasan tersebut.
Ketika ditanya apakah dirinya masih merasa takut setelah melihat langsung kondisi di dalam Mahad Al-Zaytun, ia menjawab sudah tidak lagi.
“Oh tidak lagi. Setelah terbuka, jadi nyaman saja, enjoy sekarang,” ucapnya.
Darsono mengatakan, pengalaman tersebut membuat dirinya semakin memahami bahwa Mahad Al-Zaytun merupakan bagian dari lingkungan pendidikan yang berada di Kabupaten Indramayu.
Ia bahkan menyatakan, jika kelak diberikan umur panjang dan kesempatan, dirinya akan mengarahkan anak dan cucunya untuk mendapatkan pendidikan di Mahad Al-Zaytun.
“Insya Allah, kalau saya diberikan umur panjang, diberikan kepercayaan dari Allah, saya akan arahkan anak-cucu saya nanti untuk mengenyam bangku pendidikan di Mahad Al-Zaytun,” katanya.
Menurut Darsono, keputusan tersebut didasarkan pada pengalaman langsung yang ia dapatkan setelah melihat kualitas serta berbagai fasilitas yang tersedia.
Ajak Masyarakat Indramayu Datang dan Melihat Langsung
Darsono juga menyampaikan pesan kepada masyarakat Indramayu agar tidak hanya mengenal Mahad Al-Zaytun berdasarkan informasi dari luar. Ia mengajak masyarakat untuk datang secara langsung dan melihat kondisi di dalam kompleks.
“Al-Zaytun itu di Indramayu loh. Bukan di Singapura, bukan di Malaysia, bukan di mana-mana. Tapi di Indramayu,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat perlu membuka diri untuk mengenal lebih dekat keberadaan Mahad Al-Zaytun.
Menurutnya, penilaian terhadap sebuah lembaga akan lebih objektif apabila masyarakat melihat langsung kondisi dan aktivitas yang ada di dalamnya.
“Kalau mau tahu kedalamannya, ya kita langsung terjun ke sini, datang ke Mahad. Kita pelajari, oh begini, oh begini,” katanya.
Darsono berharap masyarakat Indramayu dapat semakin mengenal Mahad Al-Zaytun secara langsung sehingga memiliki pemahaman yang lebih utuh sebelum menentukan penilaian.
“Biar mengetahui, paham, bahwa Mahad Al-Zaytun itu bukan milik orang lain, tapi milik orang Indramayu,” pungkasnya.
Kunjungan 83 peserta dari PAUD Graha Insan Mulia tersebut menjadi salah satu bentuk rihlah pendidikan yang mempertemukan masyarakat dengan lingkungan pendidikan secara langsung. Selain memberikan pengalaman kepada anak-anak, kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi wali murid dan masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai aktivitas serta fasilitas yang ada di Mahad Al-Zaytun. (Saheel untuk Indonesia)
Indramayu, lognews.co.id - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Orkestra bagi para tutor dan warga belajar pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Bazar Ma’had Al-Zaytun ini dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar selesai, dengan suasana khidmat, antusias, dan penuh semangat belajar.
Sosialisasi ini menjadi langkah awal dalam mengenalkan dunia musik orkestra kepada civitas PKBM Al-Zaytun. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan tentang instrumen dan permainan musik, tetapi juga memahami nilai disiplin, kerja sama, tanggung jawab, serta kekompakan yang tumbuh dalam sebuah kelompok musik. Pembelajaran musik secara kolaboratif diketahui dapat memperkuat kreativitas, komunikasi, dan keterampilan sosial peserta didik.
Pembukaan Kegiatan
Kegiatan dipandu oleh *Bapak Suwandi, S.Pd., M.Pd.* sebagai pembawa acara. Acara diawali dengan sambutan dari Bapak Hartono, S.Pd., M.Pd., yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya sosialisasi tersebut serta apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir.
Dalam sambutannya, Bapak Hartono menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan dan keinginan *Syaykh Al-Zaytun* untuk membentuk kelompok orkestra besar di lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah bagi civitas Ma’had Al-Zaytun untuk mengembangkan bakat, kreativitas, kecintaan terhadap seni musik, sekaligus semangat kebersamaan.
Beliau juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini tidak berhenti pada tahap pengenalan. Sosialisasi tersebut diharapkan dapat menjadi awal lahirnya para calon personel orkestra dari kalangan tutor dan warga belajar PKBM Al-Zaytun.
Kehadiran Musisi Profesional
Kegiatan sosialisasi menghadirkan Bapak Feri Wijaya, S.Pd.
musisi profesional yang memiliki pengalaman mendampingi sejumlah penyanyi papan atas Indonesia, antara lain Krisdayanti, Yuni Shara, Giselle, dan Lyodra. Kehadiran beliau memberikan kesempatan berharga bagi peserta untuk memperoleh pengetahuan langsung dari praktisi musik yang berpengalaman.
Dalam kegiatan tersebut, Bapak Feri Wijaya didampingi oleh:
- Bapak Agung Setiawan
- Ustaz Amirul Fajar Wahdana, S.Pd.
Bapak Agung Setiawan turut menyampaikan sambutan sebagai bentuk dukungan terhadap gagasan pembentukan orkestra di lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Sementara itu, Ustaz Amirul Fajar Wahdana, S.Pd. menyampaikan harapan agar para tutor dan warga belajar mampu menguasai beberapa alat musik serta siap mengambil peran dalam kelompok orkestra Ma’had Al-Zaytun pada masa mendatang.
Mengenal Musik Orkestr
Pada sesi utama, Bapak Feri Wijaya menyampaikan materi mengenai pengertian musik orkestra, jenis-jenis instrumen, fungsi setiap alat musik, serta dasar-dasar manajemen kelompok orkestra. Peserta diajak memahami bahwa orkestra bukan sekadar pertunjukan musik dengan banyak alat, melainkan sebuah bentuk kerja sama yang menuntut ketepatan, kedisiplinan, dan kemampuan setiap anggota untuk saling mendengarkan.
Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen memiliki peran penting. Keindahan musik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemain secara individu, tetapi juga oleh keselarasan seluruh pemain dalam mengikuti arahan konduktor dan membaca dinamika komposisi. Pengalaman bermusik secara kolektif juga dapat membentuk sikap tanggung jawab, disiplin, serta kemampuan bekerja sama.
Praktik Biola yang Menginspirasi
Salah satu bagian yang paling menarik dalam kegiatan ini adalah sesi praktik langsung memainkan alat musik biola. Para tutor dan warga belajar PKBM Al-Zaytun memperoleh kesempatan untuk mencoba biola secara bergantian dengan bimbingan langsung dari Bapak Feri Wijaya.
Peserta diperkenalkan pada cara memegang biola, penggunaan bow atau penggesek, posisi tubuh, serta teknik dasar menghasilkan bunyi. Kesempatan praktik tersebut disambut dengan penuh antusiasme. Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menjadi perkenalan pertama dengan alat musik gesek yang selama ini lebih sering mereka lihat dalam pertunjukan atau media audiovisual.
Selain memberikan materi dan pendampingan, Bapak Feri Wijaya juga mempersembahkan permainan biola melalui sebuah lagu klasik. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh peserta dan semakin menumbuhkan minat mereka terhadap musik orkestra.
Menyiapkan Orkestra Masa Depan
Sosialisasi orkestra bagi PKBM Al-Zaytun menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu memberi ruang bagi pengembangan seni, kreativitas, karakter, dan kerja sama. Musik orkestra dapat menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mendidik, karena setiap pemain belajar menghargai peran dirinya dan peran orang lain demi terciptanya harmoni bersama.[2][5]
Setelah kegiatan di PKBM Al-Zaytun selesai, Bapak Feri Wijaya dijadwalkan melanjutkan sosialisasi serupa kepada civitas Ma’had Al-Zaytun lainnya. Diharapkan, rangkaian kegiatan ini menjadi fondasi awal terbentuknya kelompok orkestra besar Ma’had Al-Zaytun yang berprestasi, berkarakter, dan mampu membawa semangat seni budaya dalam kehidupan pendidikan.
INDRAMAYU, lognews.co.id - Kegiatan Menyukuri 56 tahun pernikahan Syaykh Al-Zaytun dan Ummi Farida Al Widad yang digelar di Ballroom Al-Ishlah, Al-Zaytun, Indonesia, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan keluarga, kerabat, serta sahabat Syaykh dan Ummi Farida.
Sebelum acara utama dimulai, suasana peringatan dimeriahkan dengan penampilan tarian yang diiringi lagu tarling klasik berjudul "Pemuda Idaman" yang dibawakan HJ Ningsih. Penampilan tersebut menjadi pembuka sebelum rangkaian acara resmi dimulai.
Memasuki agenda utama, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC) pada pukul 16.00 WIB. Selanjutnya, peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh dirigen.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan panitia yang disampaikan oleh Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.A.P.
Sambutan tersebut ditutup dengan pembacaan puisi berbahasa Arab. Puisi kemudian dibacakan kembali dalam bahasa Inggris oleh putra Eji Anugrah Romadhon, Green Chaverim Khalilurrahman.
Keluarga dan Sahabat Sampaikan Ucapan
Setelah sambutan panitia, acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian kesan dan ucapan dari perwakilan keluarga serta sahabat Syaykh dan Ummi Al-Zaytun.
Ucapan pertama disampaikan oleh Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., yang mewakili anak laki-laki.
Selanjutnya, Anis Khairunnisa, S.Th.I., M.A.P., menyampaikan ucapan mewakili anak perempuan. Ucapan juga disampaikan Imam Muhajir Rahman, S.T., yang mewakili menantu.
Berikutnya, Drs. Miftakh, M.Pd., turut memberikan ucapan mewakili keponakan. Sementara dari keluarga Ummi, ucapan disampaikan oleh Abdur Rozak Said.
Ishak Sanusi, B.A., S.Ikom., M.Pd., yang merupakan adik Ummi, juga menyampaikan ucapan.
Dari kalangan sahabat Syaykh, ucapan disampaikan oleh Kiyai Pancasila Datuk M. Nurdin Abu Tsabit, M.A.P., Mr. Hendra, dan Agung Rijoto.
Sementara itu, Sjafruddin Ahmad, S.H., M.H., turut menyampaikan ucapan mewakili sahabat Syaykh dari Koordinator.
Syaykh: Acara Seperti Ini Membuat Keluarga Saling Mendengar
Memasuki sesi berikutnya, Syaykh Dr. (Cand) AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P., menyampaikan ungkapan syukur sekaligus mengenang perjalanan kehidupan dan rumah tangganya bersama Ummi Farida.
Syaykh mengawali penyampaiannya dengan menyinggung makna pertemuan keluarga dalam momentum seperti peringatan ulang tahun pernikahan.
Menurutnya, acara tersebut menjadi ruang bagi keluarga untuk menyampaikan isi hati secara terbuka.
"Acara seperti ini kita tahu isi hati masing-masing, yang diungkapkan dalam bahasa yang sangat terbuka."
Syaykh juga menyampaikan apresiasi kepada anak-anak dan keluarga yang telah menyampaikan ucapan dalam kesempatan tersebut.
Ia kemudian menyinggung perjalanan anak-anaknya yang kini telah dewasa dan menjalani kehidupan masing-masing.
Dalam kesempatan itu, Syaykh juga menekankan pentingnya kemampuan untuk mendengarkan, bukan hanya berbicara.
"Orang itu harus sanggup mendengar dan harus sanggup memperdengarkan."
Menurutnya, kemampuan untuk saling mendengarkan diperlukan agar perjalanan kehidupan dapat berlangsung secara seimbang.
"Kedua-duanya bisa kita lakukan, supaya perjalanan kita seimbang."
Mengenang Pernikahan di Usia 24 Tahun
Syaykh kemudian membawa ingatannya kembali ke masa ketika dirinya menikah pada usia sekitar 24 tahun.
Ia membandingkan perjalanan kehidupan dan percintaan pada masa mudanya dengan kondisi generasi sekarang yang telah jauh berbeda.
Menurut Syaykh, komunikasi pada masa itu tidak semudah sekarang. Telepon masih menjadi fasilitas yang sulit dijangkau, terutama di daerah tempat ia tinggal.
"Sejarah perjalanan percintaan zaman saya sangat jauh dari zaman sekarang."
Ia menggambarkan kehidupan masa mudanya di sebuah kampung yang sederhana. Bahkan, menurut cerita Syaykh, kondisi kampung tersebut sangat berbeda dengan lingkungan masyarakat saat ini.
Keterbatasan fasilitas komunikasi membuat hubungan antarmanusia pada masa itu berlangsung dengan cara yang lebih sederhana.
Perjalanan Pendidikan dan Kehidupan di Pesantren
Syaykh juga mengenang perjalanan pendidikannya sejak menyelesaikan sekolah rakyat.
Saat hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, ia mendapat arahan dari Yai Yahya untuk terlebih dahulu memperdalam kemampuan membaca Al-Qur'an.
Ia kemudian menjalani pendidikan mengaji sebelum melanjutkan ke lingkungan pesantren.
Menurut Syaykh, keputusan tersebut memberikan bekal penting ketika dirinya melanjutkan pendidikan. Di pesantren, para santri memiliki kebiasaan mengaji secara mandiri setelah salat Magrib.
"Setiap habis Maghrib ngaji sendiri."
Syaykh kemudian menjalani pendidikan di pesantren selama sekitar enam tahun.
Dalam ceritanya, ia juga menggambarkan kehidupan santri pada masa tersebut yang relatif terbatas dari pergaulan dengan perempuan. Pengalaman itu kemudian turut memengaruhi pandangannya mengenai pendidikan.
Ia mengaku dari pengalaman tersebut muncul gagasan bahwa jika suatu saat memiliki sekolah, pendidikan laki-laki dan perempuan tidak semestinya dipisahkan.
"Kalau saya punya sekolah, tidak akan memisahkan negara dan nisa."
Dalam konteks transkrip, bagian tersebut merujuk pada gagasan Syaykh mengenai pendidikan laki-laki dan perempuan.
Melanjutkan Pendidikan ke Ciputat
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, perjalanan Syaykh berlanjut ke Ciputat.
Ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan sebelumnya tidak mengeluarkan ijazah sekolah formal. Karena itu, ketika hendak melanjutkan pendidikan di Ciputat, dirinya harus mengikuti proses pengujian terlebih dahulu.
Kemampuan bahasa Arab menjadi salah satu bagian yang diuji.
Syaykh kemudian melanjutkan pendidikan di bidang agama dan mengikuti berbagai kegiatan yang membawanya berinteraksi dengan masyarakat di sejumlah daerah.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke wilayah Banten pada sekitar akhir dekade 1960-an.
Awal Perkenalan dengan Ummi Farida
Dalam kesempatan tersebut, Syaykh juga mengenang awal perkenalannya dengan Ummi Farida.
Pertemuan pertama berlangsung dalam suasana sederhana ketika Syaykh mengikuti sebuah kegiatan. Saat itu, ia bahkan belum mengetahui nama perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.
Setelah pertemuan tersebut, komunikasi dan perkenalan berlangsung secara bertahap.
Syaykh mengenang bagaimana keterbatasan fasilitas komunikasi pada masa itu membuat proses pendekatan berbeda dengan generasi sekarang.
Untuk bertemu, seseorang harus menempuh perjalanan dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
Dari perkenalan tersebut, hubungan keduanya kemudian berlanjut hingga akhirnya menjalani kehidupan rumah tangga selama 56 tahun.
56 Tahun Pernikahan dan Pesan tentang Keluarga
Setelah mengenang perjalanan masa muda, pendidikan, hingga awal perkenalannya dengan Ummi Farida, Syaykh kembali menyinggung makna pertemuan keluarga dalam peringatan tersebut.
Menurutnya, momen seperti itu penting karena tidak setiap kesempatan memberikan ruang bagi anggota keluarga untuk menyampaikan apa yang ada dalam hati masing-masing.
Ia menilai kemampuan mendengar menjadi bagian penting dalam membangun hubungan keluarga.
Peringatan 56 tahun pernikahan Syaykh Al-Zaytun dan Ummi Farida Al Widad tersebut akhirnya menjadi bukan hanya momentum syukuran, tetapi juga ruang untuk mengenang perjalanan panjang kehidupan keduanya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ungkapan syukur dari Syaykh pada pukul 17.20 WIB.
Setelah sesi tersebut, kegiatan ditutup oleh MC pada pukul 17.55 WIB. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah yang berlangsung hingga pukul 19.00 WIB dan diisi oleh Bagian Konsumsi.
Enam dekade lebih kehidupan bersama menjadi bagian dari perjalanan yang dikenang dalam suasana kekeluargaan, dengan cerita tentang masa muda, pendidikan, perkenalan, hingga kehidupan keluarga yang telah dijalani selama 56 tahun. (Saheel untuk Indonesia)
lognews.co.id - Pendidikan dasar di Papua Tengah masih menghadapi persoalan besar. Masalahnya bukan hanya mutu pembelajaran, tetapi juga akses dan partisipasi anak dalam pendidikan. Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024 Angka Partisipasi Murni (APM) SD Papua Tengah hanya 69,03 persen, sedangkan APM SMP 57,49 persen. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk anak usia 7–12 tahun sebesar 77,92 persen, dan usia 13–15 tahun sebesar 68,42 persen (BPS Provinsi Papua, 2025a).
Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. APM 69,03 persen tidak berarti 30,97 persen anak SD pasti tidak bersekolah. APM mengukur proporsi anak pada usia resmi suatu jenjang yang bersekolah pada jenjang yang sesuai. Anak yang bersekolah tetapi tidak sesuai dengan kelompok umur jenjangnya tidak masuk dalam APM. Untuk melihat apakah anak benar-benar bersekolah atau tidak, APS lebih tepat digunakan.
Gambaran umum pendidikan dasar di Papua Tengah memang masih memprihatinkan. APS usia 7–12 tahun sebesar 77,92 persen berarti masih terdapat kesenjangan dalam akses pendidikan dasar. Pada usia 13–15 tahun, APS bahkan lebih rendah, yaitu 68,42 persen. Artinya, persoalan menjadi semakin berat ketika anak memasuki jenjang SMP (BPS Provinsi Papua, 2025a).
Indikator lain menunjukkan persoalan yang sama. Pada 2024, rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas di Papua Tengah baru 6,12 tahun. Artinya, secara rata-rata penduduk dewasa Papua Tengah baru menyelesaikan pendidikan sekitar jenjang SD. Memang ada kemajuan dari 6,02 tahun pada 2023 menjadi 6,12 tahun pada 2024. Namun, angkanya masih rendah (BPS Provinsi Papua, 2025b).
Kesenjangan Antarjenjang & Antarwilayah
Data yang lebih baru memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan Papua Tengah bukan hanya terjadi pada satu jenjang. Pada 2025, APK SD/sederajat Papua Tengah tercatat 82,52 persen, APK SMP/sederajat 71,89 persen, dan APK SMA/sederajat 54,82 persen. Sebagai pembanding, angka nasional masing-masing mencapai 104,90 persen, 93,02 persen, dan 89,53 persen (BPS, 2025c).
Angka APK tersebut memperlihatkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin kecil pula partisipasi pendidikan di Papua Tengah. Pada saat yang sama, kesenjangan dengan angka nasional masih cukup lebar. Oleh sebab itu persoalan pendidikan Papua Tengah tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah ruang kelas atau membangun sekolah baru. Hal yang diperlukan yaitu strategi yang ditempuh dalam pengembangan pendidikan yang sesuai dengan kondisi wilayah dan kehidupan masyarakat.
Papua Tengah sendiri terdiri atas delapan kabupaten, yaitu Nabire, Puncak Jaya, Paniai, Mimika, Puncak, Dogiyai, Intan Jaya, dan Deiyai. Karakter wilayahnya tidak sama. Nabire dan Mimika memiliki pusat-pusat permukiman dan layanan yang relatif lebih berkembang, sementara sejumlah wilayah pegunungan menghadapi tantangan geografis yang jauh lebih berat.
Perbedaan tersebut terlihat dari data peserta didik. Data Induk Kemendikdasmen yang diperbarui 23 September 2026 mencatat 162.601 peserta didik SD/sederajat dan 51.345 peserta didik SMP/sederajat di Papua Tengah. Data menunjukkan bahwa terdapat 213.946 peserta didik pada dua jenjang pendidikan dasar tersebut (Portal Data Kemendikdasmen, 2026) dan distribusinya sangat tidak merata.
Jumlah siswa SD&SMP Kabupaten di Papua Tengah
Kabupaten SD/sederajat SMP/sederajat Total SD+SMP
Mimika 38.094 15.925 54.019
Nabire 36.110 15.209 51.319
Paniai 29.618 7.197 36.815
Deiyai 23.537 4.166 27.703
Dogiyai 19.056 4.321 23.377
Puncak Jaya 6.655 2.064 8.719
Intan Jaya 5.259 1.223 6.482
Puncak 4.272 1.240 5.512
Sumber: Kemendikdasmen, Data Induk Peserta Didik, pembaruan 23 September 2026.
Berdasarkan data pada tabel di atas, data peserta didik SD/sederajat dan SMP/sederajat tahun 2026 di Papua Tengah menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar antarwilayah. Mimika memiliki jumlah peserta didik terbesar, yaitu 54.019 siswa, disusul Nabire 51.319 siswa dan Paniai 36.815 siswa. Sebaliknya, Puncak hanya memiliki 5.512 siswa, Intan Jaya 6.482 siswa, dan Puncak Jaya 8.719 siswa. Dengan demikian, jumlah peserta didik di Mimika hampir 10 kali lebih besar daripada di Puncak.
Kesenjangan juga terlihat pada jenjang SMP. Di Mimika terdapat 15.925 siswa SMP/sederajat, sedangkan di Intan Jaya hanya 1.223 siswa dan Puncak 1.240 siswa. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di Papua Tengah tidak hanya menyangkut pendidikan dasar pada jenjang SD, tetapi juga keberlanjutan pendidikan menuju jenjang SMP.
Ketika Sekolah Terlalu Jauh
Faktor geografis di Provinsi Papua Tengah menjadi salah satu persoalan penting. Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa masih terdapat anak usia sekolah yang belum bersekolah karena fasilitas pendidikan berada di kampung lain dan sulit dijangkau. Laporan BGTK Papua pada 2026 menyebut sekitar 13.000 anak usia sekolah di Papua Tengah terdata sebagai anak tidak sekolah. Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, salah satu persoalannya adalah ketika sebuah kampung memiliki banyak anak usia sekolah, tetapi fasilitas pendidikan justru berada di kampung lain yang sulit diakses (BGTK Provinsi Papua, 2026).
Data tersebut penting dibaca sebagai persoalan akses, bukan semata-mata persoalan minat anak untuk bersekolah. Sekolah mungkin telah dibangun, tetapi jika letaknya jauh dari tempat tinggal anak, perjalanan menuju sekolah sulit, atau tidak tersedia sarana transportasi yang memadai, maka keberadaan sekolah belum otomatis berarti pendidikan benar-benar dapat diakses. Dalam konteks Papua Tengah, karena permukiman tersebar dan kondisi geografis tidak mudah, jarak antara rumah anak dan sekolah perlu menjadi bagian dari perencanaan pendidikan. Dengan kata lain, pembangunan sekolah harus mengikuti peta kebutuhan anak, bukan hanya ketersediaan lahan atau bangunan.
Pandangan ini sejalan dengan UNESCO IIEP yang menegaskan bahwa akses fisik ke sekolah merupakan kondisi penting untuk menjamin hak atas pendidikan. UNESCO IIEP juga menunjukkan bahwa waktu tempuh yang semakin panjang dapat berdampak pada pendaftaran dan kehadiran siswa. Karena itu, perencanaan pendidikan perlu memperhitungkan waktu perjalanan, jarak, kondisi medan, dan keamanan rute menuju sekolah, bukan sekadar menghitung jumlah sekolah yang tersedia (Gagnon & Vargas Mesa, 2022).
Prinsip ini amat sederhana. Sekolah harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan anak. Jika seorang anak harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, menghadapi medan yang sulit, atau tinggal di kampung yang tidak memiliki transportasi memadai, maka secara praktis layanan pendidikan belum sepenuhnya hadir bagi anak tersebut. Pendidikan Papua Tengah membutuhkan kebijakan yang melihat sekolah bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai layanan publik yang harus dapat dijangkau. Schools must be accessible and within safe physical reach of children. Dalam konteks ini, kedekatan sekolah dengan tempat tinggal anak bukan sekadar persoalan teknis pembangunan, melainkan bagian dari pemenuhan hak anak atas pendidikan (UNESCO IIEP, 2022).
Indikator keberhasilan pembangunan pendidikan di Papua Tengah tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak sekolah yang dibangun. Pertanyaan yang lebih mendasar yaitu berapa banyak anak, khususnya anak dari Orang Asli papua (OAP) yang benar-benar dapat mencapai sekolah dengan aman, wajar, dan teratur? Perspektif ini penting terutama bagi kampung-kampung yang terpencil. Di wilayah seperti itu, kebijakan dapat berupa pembangunan unit sekolah baru, penguatan sekolah yang sudah ada, penyediaan transportasi atau asrama sesuai kebutuhan, serta pemetaan jarak dan waktu tempuh anak menuju sekolah. Prinsip kebijakannya jelas. Jangan meminta anak mengejar sekolah yang terlalu jauh. Kebijakan pendidikan harus mendekatkan sekolah kepada anak.
Opsi Solusi
Lalu apa solusinya? Kebijakan pembangunan pendidikan Provinsi Papua Tengah tidak dapat menggunakan satu model pendidikan untuk semua wilayah. Di kampung-kampung yang jumlah anaknya sedikit dan jaraknya jauh dari pusat distrik, sekolah kecil atau sekolah dengan kelas multigrade dapat menjadi salah satu pilihan. UNESCO mencatat bahwa sekolah kecil dengan pembelajaran multigrade dapat menjadi alternatif yang layak di komunitas terpencil, terutama ketika jumlah anak tidak cukup untuk membentuk kelas penuh pada setiap jenjang.
Pilihan pertama, mendirikan sekolah kecil (multigrade class). Untuk wilayah Papua Tengah yang memiliki kampung terpencil dan terpencar dengan jumlah anak yang relatif sedikit, model sekolah kecil dengan pembelajaran multigrade dapat dipertimbangkan sebagai salah satu strategi memperluas akses pendidikan. UNESCO IIEP menunjukkan bahwa sekolah multigrade dapat menjadi pilihan yang relevan di wilayah pedesaan dan sulit dijangkau ketika jumlah peserta didik tidak memungkinkan penyelenggaraan kelas reguler pada setiap tingkat (Brunswic & Valérien, 2004).
Model lain yang dikemukakan UNESCO (2010) tentang Child-Friendly Schools Manual menyebut bahwa multigrade teaching merupakan cara yang sesuai untuk menjangkau anak di wilayah yang terpencil dan berpenduduk sedikit. Pembangunan sekolah kecil yang dekat secara geografis dan kultural dengan komunitas dapat membantu memperluas partisipasi pendidikan.
Ada hal yang patut diperhatikan, sekolah kecil tidak berarti standar mutunya boleh kecil. Pemerintah Daerah tetap perlu menjamin guru yang cukup dan kompeten, bahan ajar, sarana dasar, supervisi, serta dukungan pembelajaran. Model sekolah kecil perlu disertai pembelajaran multigrade, penguatan guru, dan dukungan sekolah induk. Untuk kampung yang sangat terpencil, sekolah kecil dapat berfungsi sebagai titik layanan pendidikan dasar yang kemudian terhubung dengan sekolah yang lebih besar pada jenjang berikutnya.
Pilihan kedua yaitu memperkuat pendidikan nonformal. Hal ini terutama bagi anak yang sudah terlanjur keluar dari sekolah atau belum pernah memperoleh layanan pendidikan secara memadai. Pendidikan nonformal tidak seharusnya diposisikan sebagai “sekolah kelas dua”, tetapi sebagai jalur pendidikan yang memberi kesempatan kedua kepada anak untuk kembali belajar. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Program kesetaraan meliputi Paket A, Paket B, dan Paket C yang memberikan layanan pendidikan setara dengan jenjang SD, SMP, dan SMA. Kemendikdasmen juga menegaskan bahwa pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) (Kemendikdasmen, 2026)
Pilihan ketiga adalah memperluas sekolah berasrama. Program ini terutama untuk wilayah yang secara geografis memang tidak memungkinkan anak pulang-pergi setiap hari. Pendekatan ini sebenarnya sudah mulai dilakukan Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Pada 2025, pemerintah menyebut telah membiayai 13 asrama yang dikelola lembaga keagamaan, dengan sekitar 1.009 siswa di enam kabupaten. Pemerintah juga menyebut sekolah berpola asrama sebagai salah satu pendekatan untuk menjaga anak tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Pilihan keempat, program kemitraan. Yaitu kerjasama berbagai pemangku kepentingan termasuk sekolah swasta dan yayasan keagamaan layak diperkuat. Ini bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Pemerintah Provinsi Papua Tengah sendiri menyebut yayasan pelopor pendidikan sebagai mitra penting karena banyak sekolah di wilayah pedalaman dikelola oleh yayasan seperti YPPGI dan YPPK, sementara di wilayah pesisir terdapat sekolah yang dikelola YPK. Karena itu, pemerintah tidak harus selalu membangun dan mengelola sekolah sendiri. Pemerintah dapat bekerja sama dengan yayasan, gereja, komunitas adat, dan masyarakat untuk menghadirkan unit layanan pendidikan yang dekat dengan tempat tinggal anak, dengan standar mutu, kurikulum, pembiayaan, dan akuntabilitas yang tetap dijamin pemerintah.
Model kemitraan tersebut dapat berbentuk “sekolah komunitas”: pemerintah menyediakan dukungan pembiayaan, guru, pelatihan, dan penjaminan mutu; yayasan atau gereja membantu menyediakan tempat, pengelolaan komunitas, dan dukungan sosial; sedangkan masyarakat adat ikut memastikan sekolah sesuai dengan konteks kehidupan setempat. Pendekatan seperti ini sejalan dengan temuan UNESCO bahwa pembangunan sekolah yang lebih dekat dengan komunitas dan pengembangan community schools dapat menjadi bagian dari kebijakan untuk memperluas partisipasi pendidikan di wilayah yang sulit dijangkau.
Kebijakan pembangunan pendidikan Papua Tengah sebaiknya menggunakan pendekatan berbasis peta kebutuhan. Di kampung yang cukup padat, bangun sekolah reguler. Di kampung kecil dan terpencil, pertimbangkan sekolah kecil atau multigrade. Bagi anak yang sudah putus sekolah, siapkan pendidikan nonformal sebagai jalur kembali ke pendidikan. Bagi wilayah yang sangat sulit dijangkau, kembangkan sekolah berasrama. Dan di wilayah yang telah memiliki yayasan pendidikan atau lembaga keagamaan yang kuat, pemerintah dapat membangun kemitraan yang transparan dengan mereka. Prinsipnya satu: model sekolah harus mengikuti kebutuhan anak dan karakter wilayah, bukan memaksa semua wilayah mengikuti satu model yang sama.
Ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa sekolah yang dibangun, tetapi berapa banyak anak yang berhasil dilayani. Generasi muda Papua berkesempatan bersekolah, belajar dengan baik, dan menyelesaikan pendidikan. Bagi masyarakat provisi Papua Tengah, program pendidikan mendekatkan sekolah kepada anak, khususnya anak OAP berarti mendekatkan negara kepada warganya.
Kesenjangan di Kabupaten Pegunungan
Data historis BPS juga memberikan gambaran yang cukup tajam. Pada 2021, APS usia 7–12 tahun di Mimika mencapai 95,56 persen, sedangkan di Puncak hanya 51,61 persen. Pada kelompok usia 13–15 tahun, APS Mimika mencapai 94,75 persen, sementara Puncak hanya 31,98 persen. Di Intan Jaya, APS masing-masing mencapai 60,96 persen untuk usia 7–12 tahun dan 52,34 persen untuk usia 13–15 tahun (BPS Provinsi Papua, 2023).
Data tersebut memang bukan data terbaru. Data tahun 2021 tidak boleh dianggap sebagai gambaran kondisi persis pada 2026. Namun data tersebut penting sebagai baseline historis untuk melihat bahwa kesenjangan antarwilayah bukan persoalan baru. Beberapa kabupaten seperti Puncak, Intan Jaya, Deiyai, dan beberapa wilayah pegunungan lainnya membutuhkan pendekatan yang berbeda dari kawasan perkotaan seperti Mimika dan Nabire. Persoalannya dapat berkaitan dengan jarak, transportasi, ketersediaan guru, sarana pendidikan, kondisi sosial-ekonomi, serta keamanan. Dengan kata lain, bagi Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kebijakan “satu resep Pendidikan” untuk seluruh wilayah Papua Tengah tidak cukup.
Pendidikan Orang Asli Papua (OAP)
Pembahasan pendidikan di Papua Tengah juga tidak dapat dilepaskan dari Orang Asli Papua (OAP). Namun, di sini juga diperlukan kehati-hatian. Tidak semua data pendidikan Papua Tengah dapat disebut sebagai data pendidikan OAP.
Data peserta didik Kemendikdasmen, misalnya, merupakan data seluruh peserta didik. Data tersebut tidak otomatis menunjukkan berapa jumlah peserta didik OAP. Demikian pula data APS, APM, APK, dan Anak Tidak Sekolah yang tersedia secara publik belum secara konsisten disajikan berdasarkan kategori OAP dan non-OAP untuk setiap kabupaten.
Dalam kondisi ini OAP merupakan kelompok penting dalam agenda afirmasi pendidikan Papua. Seluruh angka kesenjangan pendidikan Papua Tengah bukan merupakan angka kesenjangan OAP. Walaupun Pemerintah memang memberikan perhatian khusus kepada OAP melalui kebijakan afirmasi. Salah satunya adalah Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Wilayah Papua, yang secara khusus diperuntukkan bagi putra-putri OAP lulusan SMP atau sederajat dari wilayah Papua. Pada 2026, program tersebut menyediakan kuota 500 siswa untuk melanjutkan pendidikan menengah di enam provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali (Kemendikdasmen, 2026).
Kebijakan afirmasi seperti ADEM penting. Program afirmasi pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada pemberian kesempatan kepada sebagian siswa untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan anak-anak OAP sejak pendidikan dasar dapat masuk sekolah, bertahan di sekolah, dan memperoleh pembelajaran bermutu di daerahnya sendiri.
Data OAP & Data pendidikan
Salah satu perkembangan penting adalah pembangunan basis data OAP. Data Dukcapil yang disampaikan dalam rapat koordinasi pendataan OAP pada 2026 mislanya, mencatat 999.025 OAP di Provinsi Papua Tengah telah terinput dalam SIAK Plus/SIAK Terpusat sampai Mei 2026. Untuk Kabupaten Mimika, jumlah OAP yang telah terinput mencapai 174.840 orang (Dinas Dukcapil Kabupaten Mimika, 2026). Data ini penting, tetapi harus dipahami sebagai data administrasi kependudukan OAP, bukan data anak sekolah OAP.
Dalampemahaman saya, justru di sinilah pekerjaan besar pemerintah daerah ke depan. Data OAP perlu dihubungkan dengan data pendidikan. Pemerintah dapat mengetahui secara lebih tepat, berapa anak OAP usia sekolah, berapa yang sudah sekolah, berapa yang belum sekolah, di mana mereka tinggal, pada jenjang mana mereka paling banyak keluar dari sistem pendidikan, dan apa penyebabnya. Tanpa integrasi data tersebut, kita hanya memiliki dua informasi yang berjalan sendiri-sendiri. Pertama, data tentang OAP dan kedua, data tentang peserta didik secara keseluruhan. Padahal kebijakan pendidikan membutuhkan keduanya sekaligus.
Anak Tidak Sekolah (ATS)
Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) juga perlu mendapat perhatian. Pemerintah Provinsi Papua Tengah menyebut bahwa berdasarkan data yang digunakan pemerintah daerah, jumlah ATS turun dari 205.764 anak pada 2024 menjadi 131.118 anak pada April 2026. Pemerintah daerah menilai penurunan tersebut sebagai perkembangan positif (Pemerintah Provinsi Papua Tengah, 2026).
Dalam pemahaman penulis, angka ini juga harus dibaca secara hati-hati. Jumlah 131.118 ATS tidak dapat langsung disebut sebagai 131.118 anak OAP yang tidak sekolah. Sumber yang tersedia tidak memberikan pemilahan angka tersebut berdasarkan status OAP dan non-OAP. Oleh karena itu, hal yang lebih penting bukan upaya sebatas mengejar penurunan angka ATS. Pemerintah Daerah dan Masyarakat perlu memastikan bahwa setiap anak, termasuk anak OAP usia sekolah harus endapat kesempatan dan dapat dikembalikan ke jalur pembelajaran yang bermakna. Sebagian dari mereka mungkin dapat kembali ke sekolah formal. Sebagian lainnya mungkin membutuhkan pendidikan kesetaraan, dukungan sosial, pendekatan keluarga, atau layanan pendidikan yang lebih fleksibel.
Sekolah Dekat, Guru hadir
Dari berbagai data tersebut terlihat bahwa persoalan pendidikan Papua Tengah memiliki beberapa lapisan. Pertama, masih rendahnya partisipasi pendidikan. Kedua, kesenjangan yang besar antarkabupaten. Ketiga, persoalan geografis yang membuat sebagian anak sulit menjangkau sekolah. Keempat, persoalan keberlanjutan pendidikan ketika anak memasuki jenjang yang lebih tinggi. Kelima, belum terintegrasinya data OAP dengan data pendidikan secara memadai.
Kata kunci yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Kebijakan pendidikan Papua Tengah sebaiknya tidak hanya berorientasi pada menambah jumlah sekolah, tetapi juga pada mendekatkan layanan pendidikan kepada anak.
Di wilayah yang sangat terpencil, misalnya, pemerintah dapat mengembangkan kombinasi kebijakan sesuai kondisi setempat: sekolah kecil atau layanan pendidikan yang dekat dengan kampung, asrama pada wilayah tertentu, dukungan transportasi, penempatan dan keberlanjutan guru, pembelajaran yang kontekstual, serta pemanfaatan teknologi ketika infrastruktur memungkinkan.
Tulisan Agus Sumule (2026) patut mendapat apresiasi. Gagasan menarik datang dari Manu Nauw, mantan guru pendamping Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang berlatar belakang ilmu komputer dan kini melanjutkan studi S2 di IPB University. Ia mengusulkan pembelajaran pemrograman bagi anak-anak SSH, dimulai dengan uji coba di Hariti, Kabupaten Nabire. Usulan ini datang pada waktu yang tepat. Disdikbud Papua Tengah, melalui SSH telah menyediakan sekitar 30 tablet per sekolah. Dengan dukungan internet yang dipasang di setiap SSH, papan pintar interaktif, dan guru pendamping, perangkat tersebut dapat digunakan untuk kegiatan belajar yang lebih kreatif. Hasilnya luar biasa, anak kampung pun bisa jadi programmer, jika kita menyediakan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk mencoba.
Walupun diakui, teknologi juga bukan jawaban untuk semua masalah. Di wilayah yang konektivitasnya terbatas, jangan sampai digitalisasi pendidikan justru menjadi program yang bagus di atas kertas tetapi sulit digunakan di lapangan.
Pendidikan OAP
Pendidikan OAP juga perlu ditempatkan dalam kerangka pendidikan nasional. Anak OAP memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu. Mereka tidak membutuhkan pendidikan yang lebih rendah karena tinggal di daerah terpencil. Hal utama yang mereka perlukan adalah dukungan yang lebih kuat agar dapat memperoleh hak pendidikan yang sama. Pendidikan yang afirmatif bukan berarti membuat “sekolah khusus OAP”. Afirmasi berarti memberikan dukungan sesuai kebutuhan agar kesenjangan yang sudah ada dapat diperkecil.
Di sinilah pentingnya pendidikan yang kontekstual. Bahasa, budaya, pengetahuan lokal, lingkungan hidup, dan kehidupan masyarakat Papua dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar anak. Tetapi pada saat yang sama, anak Papua juga harus memperoleh kemampuan membaca, matematika, sains, teknologi, komunikasi, dan keterampilan lain yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Lokalitas dan kualitas tidak perlu dipertentangkan. Pendidikan dapat berakar pada budaya Papua sekaligus membuka jalan menuju dunia yang lebih luas.
Catatan Akhir
Pogram pembangunan pendidikan Papua Tengah bukan hanya persoalan berapa sekolah yang sudah dibangun. Pertanyaan yang lebih penting yaitub berapa banyak anak yang benar-benar dapat mencapai sekolah, belajar dengan baik, bertahan sampai lulus, dan memiliki masa depan setelah menyelesaikan pendidikan? Data BPS menunjukkan masih lebarnya kesenjangan partisipasi pendidikan. Data Kemendikdasmen memperlihatkan distribusi peserta didik yang sangat berbeda antarwilayah. Data pemerintah daerah juga menunjukkan bahwa persoalan Anak Tidak Sekolah masih besar. Sementara itu, pendataan OAP menunjukkan bahwa pemerintah sedang membangun basis data yang lebih baik tentang Orang Asli Papua. Semua data itu mengarah pada satu pesan utama. Pendidikan Papua Tengah harus lebih dekat kepada anak. Dekat secara geografis. Dekat dengan keluarga. Dekat dengan budaya.
Dekat dengan kebutuhan anak. Dan dekat dengan masa depan mereka.
Pendidikan yang adil bukan pendidikan yang memberikan hal yang sama kepada semua anak. Pendidikan yang adil adalah pendidikan yang memberikan dukungan yang diperlukan setiap anak agar mereka memiliki kesempatan yang nyata untuk berhasil.
Bagi Masyarakat Papua Tengah, prinsip inilah yang harus menjadi dasar dalam membangun pendidikan yang inklusif, bermutu, dan berpihak kepada anak di Papua Tengah. Building inclusive, high-quality, and child-centered education in Papua Tengah.
Indramayu, lognews.co.id - Penghargaan kepada pelajar Ma’had Al Zaytun menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya berprestasi yang diiringi kedisiplinan, kreativitas, tanggung jawab, dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut ditanamkan melalui kegiatan Apresiasi Pelajar Ma’had Al Zaytun yang berlangsung di Basement Gedung Ali, Kampus Ma’had Al Zaytun pada Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Integritas dalam Ketertiban” tersebut memberikan penghargaan kepada pelajar yang dinilai menunjukkan prestasi, kedisiplinan, kreativitas, dan keteladanan. Apresiasi sekaligus diarahkan untuk membangun motivasi agar pelajar terus mengembangkan potensi dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
Kemenditham OPMAZ Ihsan Syatiri Ahmad menegaskan, penghargaan tidak semata-mata diberikan sebagai bentuk pengakuan atas capaian pelajar, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap pelajar memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui kesadaran dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Melalui ajang ini kami berharap seluruh pelajar memanfaatkan kesempatan bersama untuk menjadi pribadi yang terbaik. Seseorang yang berjiwa baik akan selalu menyertai kesadaran dalam melakukan segala sesuatu,” ujarnya.
Nilai kesadaran tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari pembinaan yang diterapkan di Ma’had Al Zaytun, termasuk melalui pelaksanaan Unsitoh Yaumiah. Kebiasaan tersebut diarahkan agar nilai disiplin dan tanggung jawab tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari perilaku pelajar.
Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun (OPMAZ), Rafa, mengatakan predikat pelajar terbaik harus dipandang sebagai tanggung jawab untuk mempertahankan perilaku positif. Pelajar yang memperoleh apresiasi diharapkan mampu menjadi contoh bagi teman-temannya.
“Ketika seorang pelajar mendapatkan predikat terbaik, ia harus sadar bahwa dirinya menjadi contoh bagi pelajar lainnya. Kesadaran itu harus diwujudkan dengan terus melakukan hal-hal terbaik dan mempertahankannya,” kata Rafa.
Ia mengaitkan pembinaan tersebut dengan Sapta Janji Dharma Bakti, khususnya nilai disiplin, serta mengajak pelajar menerapkan semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Rafa juga mengajak pelajar melihat proses penyelenggaraan apresiasi sebagai bagian dari pembelajaran. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pelajar tingkat bawah untuk mempelajari proses persiapan kegiatan sekaligus meneruskan budaya berkarya di lingkungan ma’had.
“Sejatinya kita semua datang bukan hanya menonton, tetapi belajar lebih dalam melihat bagaimana panitia mempersiapkan seluruh rangkaian acara. Ke depan, kalianlah yang akan meneruskan budaya berkarya itu,” tuturnya.
Budaya apresiasi juga diarahkan untuk membangun hubungan antarpelajar yang sehat. Rafa menilai penghargaan dapat menjadi langkah awal dalam evaluasi dan pembinaan dengan tetap menghindari stigma maupun perundungan terhadap pelajar.
“Kalau dia bisa menjadi pelajar terbaik, maka saya juga harus bisa. Dari situlah semangat fastabiqul khairat akan tumbuh di kalangan pelajar,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan dengan jangkauan yang lebih luas sehingga prestasi pelajar seperti kategori terdisiplin dan terkreatif dapat menjadi inspirasi bagi warga ma’had lainnya. Proses penilaian juga diharapkan tetap dilakukan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada kesempatan yang sama, Ustaz Iqbal memberikan tantangan kepada siswi untuk berani mengambil peran kepemimpinan sebagai Presiden OPMAZ. Ia menyampaikan bahwa sepanjang sejarah Ma’had Al Zaytun, jabatan tersebut baru dua kali dipimpin oleh pelajar putri.
Pesan tersebut membuka ruang bagi seluruh pelajar untuk mengembangkan kemampuan memimpin dan berkontribusi tanpa dibatasi latar belakang. Dengan demikian, apresiasi tidak berhenti pada pemberian penghargaan, tetapi dapat menjadi pemicu lahirnya lebih banyak pelajar yang berprestasi, disiplin, kreatif, dan memiliki kesadaran untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.
INDRAMAYU, Lognews.co.id - Perubahan dunia yang berlangsung cepat menuntut lembaga pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kesadaran diri, kekuatan spiritual, serta kemampuan untuk hidup mandiri.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam Qobliyah Jumat Syaykh Al Zaytun pada 2 Oktober 2026. Pembahasan yang disampaikan mencakup berbagai isu, mulai dari pengembangan pendidikan dan politeknik, perkembangan geopolitik global, ketahanan energi dan air, hingga masa depan pesantren.
Berbagai persoalan tersebut bermuara pada satu gagasan utama, yakni pentingnya membangun manusia yang memiliki kesadaran diri sekaligus kemampuan untuk berdiri secara mandiri di tengah perubahan zaman.
Pembahasan diawali dari rencana Al Zaytun menggelar lokakarya bersama tim dari IPB Bogor untuk pengembangan politeknik. Kegiatan tersebut direncanakan bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda.
Namun, lokakarya tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan aspek akademik dan kelembagaan. Ada dimensi spiritual yang juga menjadi perhatian.
Dalam pandangan yang disampaikan Syaykh, pendidikan tidak cukup hanya memberikan keterampilan dan pengetahuan. Pendidikan juga harus menyentuh kesadaran manusia mengenai dirinya sendiri.
Pertanyaan mengenai siapa diri manusia, apa kelebihan dan kekurangannya, serta untuk apa manusia hidup menjadi bagian dari proses refleksi tersebut.
Kesadaran terhadap diri kemudian dipertautkan dengan kesadaran kepada Tuhan atau hablum minallah. Hubungan tersebut tidak berhenti pada praktik ritual secara individual, tetapi diharapkan tercermin dalam hubungan manusia dengan sesama.
Empati, solidaritas, kepedulian, dan kesediaan untuk hidup bersama menjadi bagian dari konsekuensi spiritualitas yang dibangun.
"Pembangunan spiritual adalah membangun kesadaran diri."
Pesan tersebut menempatkan spiritualitas sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan. Sekolah, kampus, politeknik, maupun pesantren tidak hanya dituntut menghasilkan manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga manusia yang memahami dirinya, tujuan hidupnya, serta tanggung jawabnya terhadap lingkungan sosial.
Pendidikan Menghadapi Perubahan Dunia
Perubahan global juga menjadi bagian dari pembahasan. Dalam Qobliyah Jumat tersebut, dunia digambarkan sedang memasuki fase ketika negara-negara kembali memperkuat ketahanan nasional masing-masing.
Perubahan arah geopolitik membuat kepentingan nasional kembali menjadi perhatian. Negara tidak hanya berusaha memperkuat posisi politik, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber daya strategis bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah energi.
Minyak tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari industri, ekonomi, hingga pertahanan. Penguasaan produksi dan jalur distribusi energi memiliki konsekuensi strategis bagi sebuah negara.
Namun, terdapat sumber daya lain yang tidak kalah penting, yaitu air.
Air merupakan kebutuhan mendasar manusia dan salah satu penentu keberlangsungan kehidupan. Sejarah peradaban menunjukkan bahwa banyak pusat kehidupan manusia berkembang di sekitar sumber air.
Pertanian, peternakan, industri, hingga kehidupan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan air.
Karena itu, pembicaraan mengenai air tidak semata-mata persoalan teknis, tetapi berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan dan peradaban.
Al Zaytun dan Gagasan Ketahanan Air
Dalam konteks tersebut, Al Zaytun disebut telah menggagas sumber air yang dinamakan Hammayim.
Gagasan tersebut ditempatkan dalam visi jangka panjang untuk mempersiapkan kebutuhan air bagi kehidupan di masa mendatang.
Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa masa depan tidak cukup hanya diprediksi. Masa depan perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Persiapan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pengembangan teknologi, penguatan energi, maupun pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kemampuan membaca kebutuhan dalam jangka panjang kemudian menjadi bagian dari mentalitas kemandirian.
Spirit Pesantren Adalah Kemandirian
Kemandirian menjadi salah satu tema penting dalam Qobliyah Jumat tersebut.
Syaykh menggunakan istilah pesantren spirit untuk menggambarkan semangat yang seharusnya dimiliki sebuah lembaga pendidikan pesantren.
Spirit pesantren, dalam pandangan tersebut, tidak hanya ditentukan oleh bangunan, pakaian, nama institusi, maupun jumlah santri. Lebih jauh, hakikatnya adalah kemampuan untuk berdiri secara mandiri.
Mandiri berarti memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak selalu bergantung kepada pihak lain.
Sebuah lembaga pendidikan bahkan diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Prinsip tersebut dikaitkan dengan nilai al yad al ulya khairun min al yad al sufla, yang secara umum dimaknai bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.
Pesantren diharapkan mampu membangun sistem ekonomi, mengembangkan sumber daya manusia, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan dan menghadapi berbagai tantangan.
Kemandirian tersebut bukan berarti memutus hubungan dengan negara atau pihak lain. Sebaliknya, lembaga tetap dapat bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa kehilangan independensinya.
Kemandirian Diuji dalam Kondisi Sulit
Dalam Qobliyah Jumat tersebut juga disampaikan pengalaman Al Zaytun dalam menghadapi persoalan sumber daya.
Syaykh menyampaikan bahwa Al Zaytun pernah memilih mengembalikan dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS. Selain itu, disebutkan pula bahwa dana yang dimiliki Al Zaytun pernah mengalami pembekuan selama sekitar tiga tahun.
Meski demikian, kegiatan institusi disebut tetap berjalan.
Pengalaman tersebut kemudian dipandang sebagai salah satu bentuk pengujian terhadap prinsip kemandirian.
Kemandirian tidak berhenti sebagai gagasan atau slogan. Kemandirian diuji ketika sumber daya terbatas, dukungan berkurang, dan institusi harus mencari jalan untuk tetap menjalankan aktivitasnya.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan bertahan tersebut menjadi bagian dari daya hidup sebuah lembaga.
Pendidikan Tidak Cukup Mengejar Kemajuan Teknologi
Gagasan yang disampaikan dalam Qobliyah Jumat tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai Al Zaytun, tetapi juga menyentuh tantangan pendidikan secara lebih luas.
Lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengejar akreditasi, membangun fasilitas modern, atau mengadopsi teknologi terbaru.
Semua hal tersebut penting, tetapi belum cukup untuk membentuk manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan juga perlu menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran diri, memahami tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama, serta memiliki kemampuan untuk berdiri secara mandiri.
Kecanggihan teknologi tanpa kesadaran dapat kehilangan arah. Ilmu pengetahuan tanpa integritas berpotensi kehilangan makna. Sementara kemajuan tanpa solidaritas dapat menciptakan jarak sosial.
Sebaliknya, spiritualitas yang diterjemahkan dalam ilmu pengetahuan, kerja, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, dan perencanaan masa depan dapat menjadi kekuatan bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, pendidikan dan pembangunan spiritual dipandang tidak seharusnya dipisahkan.
Menjaga Integritas dan Nalar Kritis
Dalam pembahasan mengenai kondisi sosial umat, Syaykh juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah persoalan integritas yang menurut pandangannya terjadi di sebagian lingkungan organisasi keagamaan.
Sejumlah klaim dan pandangan yang muncul dalam pembahasan tersebut tentunya memerlukan verifikasi tersendiri. Namun, dari sisi pesan moral, terdapat penekanan mengenai pentingnya menjaga integritas, nalar kritis, serta kewaspadaan terhadap informasi yang beredar di ruang publik.
Masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang aktif berbicara, tetapi juga masyarakat yang mampu berpikir, memeriksa informasi, mengendalikan diri, serta membangun sesuatu yang memiliki keberlanjutan.
Memaknai Sumpah Pemuda di Era Baru
Rencana lokakarya pengembangan politeknik yang dikaitkan dengan momentum Sumpah Pemuda juga memberikan konteks tersendiri.
Hampir satu abad setelah pemuda Indonesia mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tantangan generasi saat ini telah berkembang.
Generasi muda tidak hanya dituntut menjaga persatuan bangsa, tetapi juga menghadapi tantangan ketahanan pangan, energi, air, pendidikan, ekonomi, hingga ketahanan mental dan spiritual.
Sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, teknologi, jalan raya, jaringan digital, maupun mesin.
Bangsa dibangun oleh manusia.
Manusia yang memahami dari mana ia berpijak dan ke mana hendak berjalan. Manusia yang tidak mudah kehilangan arah ketika dunia berubah. Manusia yang mampu memberi ketika orang lain membutuhkan. Serta manusia yang memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada kehidupan.
Dari Qobliyah Jumat pada awal Oktober tersebut, pesan yang disampaikan bermuara pada satu gagasan besar: membangun spiritualitas, memperkuat ilmu pengetahuan, mempersiapkan sumber daya, dan menegakkan kemandirian.
Sebab masa depan tidak datang dengan sendirinya. Masa depan perlu dipersiapkan sejak hari ini. (Ali Aminulloh)
INDRAMAYU, lognews.co.id — Semangat olahraga dan pembentukan karakter generasi muda kembali terwujud pada Ahad, 4 Oktober 2026. Gelaran Kejuaraan Sirkuit Antar Ranting Karatedo Gojukai Cabang Indramayu sukses diselenggarakan dengan meriah dan penuh dinamika kompetitif. Ajang ini tidak hanya menjadi wadah evaluasi teknik bertarung para karateka, tetapi juga memperlihatkan komitmen kuat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun dalam mendukung pembinaan mental dan fisik para warga belajarnya.
Acara resmi dibuka pada pukul 09.00 WIB dengan dihadiri oleh jajaran pengurus, tokoh pendidikan, serta para tamu undangan dari berbagai instansi.
Deretan Sambutan Tokoh dan Tokoh Kunci
Dalam acara pembukaan, sejumlah pesan penting disampaikan untuk memotivasi para peserta yang siap bertanding:
• Sensei Muhammad Najib, S.Pd.I., M.Pd. (Ketua Cabang Gojukai Indramayu)
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kejuaraan sirkuit ini merupakan momentum penting untuk mempererat silaturahmi antar ranting sekaligus mengukur hasil pembinaan atlet di setiap dojo. Beliau menegaskan bahwa Gojukai tidak hanya mengajarkan ketangkasan fisik, tetapi juga nilai-nilai integritas, kerendahan hati, serta ketahanan mental dalam menghadapi tantangan zaman.
• Ibu Ulfa (Bidang Kesiswaan SMAN 1 Anjatan)
Beliau mengapresiasi tinggi penyelenggaraan kejuaraan ini sebagai sarana positif bagi para siswa dalam menyalurkan bakat dan energi secara konstruktif. Menurutnya, sinergi antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler seperti seni beladiri sangat efektif dalam menghindarkan generasi muda dari pengaruh negatif serta membangun jiwa kepemimpinan yang tangguh.
• Ketua Komisi Perwasitan FORKI Indramayu sekaligus Tutor PKBM Al-Zaytun, Hartono, S.Pd., M.Pd.
Dalam amanatnya, beliau mengingatkan pentingnya menegakkan kejujuran dan sportivitas di atas lapangan. Sebagai perwakilan komisi perwasitan sekaligus pendidik nonformal, beliau menekankan bahwa kemenangan sejati tercapai ketika atlet bertanding dengan menghormati lawan, mematuhi keputusan wasit, serta mampu mengendalikan diri baik di dalam maupun di luar arena.
Sinergi Tutor PKBM Al-Zaytun dalam Pembinaan Atlet
Tutor di PKBM Al-Zaytun memegang peran vital yang melampaui pembelajaran akademis di dalam kelas. Dalam ajang kejuaraan ini, para tutor bertindak sebagai pembimbing, motivator, sekaligus pendamping teknis dan mental bagi para karateka. Dedikasi tutor memastikan bahwa keterlibatan peserta didik tidak hanya berfokus pada raihan medali, melainkan juga pada penanaman nilai sportivitas, disiplin tinggi, serta prinsip dasar seni beladiri Gojukai (kelembutan dan kekerasan yang seimbang).
Peta Partisipasi Dojo dari 4 Kecamatan
Kejuaraan sirkuit kali ini diikuti oleh 62 peserta yang berasal dari berbagai dojo di 4 kecamatan wilayah Indramayu, meliputi Al-Zaytun, Gantar, Haurgeulis, Anjatan, dan Patrol.
Dojo / Ranting / Instansi Jumlah Peserta
SMKN 1 Anjatan 15 Atlet
Haurgeulis 13 Atlet
Dojo Kecamatan Patrol 10 Atlet
SMANJA (SMAN 1 Anjatan) 9 Atlet
Gantar 8 Atlet
SD Juara Wira Utama Patrol 4 Atlet
SMPN 1 Patrol 2 Atlet
Al-Zaytun 1 Atlet
Total Peserta 62 Atlet
Kehadiran perwakilan dari Al-Zaytun, meski diwakili oleh 1 atlet potensial, tetap menjadi perhatian tersendiri. Pengawalan intensif dari tutor PKBM Al-Zaytun membuktikan bahwa kualitas pendampingan dan fokus pengembangan minat-bakat diberikan secara maksimal tanpa memandang jumlah peserta.
Kepemimpinan Pertandingan Berstandar Resmi
Untuk menjamin kualitas kompetisi yang adil, jujur, dan berstandar nasional, kejuaraan ini dipimpin langsung oleh perangkat pertandingan profesional dari FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) Jawa Barat, yang terdiri dari:
2 Dewan Wasit FORKI Jawa Barat — Bertanggung jawab atas pengawasan regulasi, teknis arena, dan penyelesaian keputusan kualifikasi.
6 Wasit Juri FORKI Jawa Barat — Mengawal jalannya setiap pertandingan (Kata maupun Kumite) dengan penilaian yang objektif dan presisi.
Kehadiran juri lisensi provinsi ini memberikan pengalaman bertanding yang otentik bagi para atlet muda Indramayu untuk merasakan atmosfer kompetisi tingkat regional.
Melalui keikutsertaan dalam sirkuit ini, PKBM Al-Zaytun menegaskan kembali perannya sebagai lembaga pendidikan nonformal yang holistik menyeimbangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan jasmani melalui seni beladiri Karatedo Gojukai.
Lognews.co.id – Upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pemerintah maupun komunitas lingkungan. Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, para pelajar SMAN 1 Tanjung Harapan turut mengambil peran melalui gerakan pelestarian mangrove yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Hal tersebut terungkap dalam Talkshow BN PPN 1011 di Radio Prima 95,8 FM, yang digelar pada Rabu, 30 September 2026. Dalam talkshow tersebut, Radio Prima 95,8 FM terhubung langsung dengan Ghoma Dian Sahara, Kepala SMAN 1 Tanjung Harapan, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, untuk membahas gerakan pelajar dalam menjaga ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
Ghoma mengatakan, gerakan tersebut berangkat dari kepedulian sekolah terhadap kondisi ekosistem mangrove di wilayah pesisir Tanjung Harapan.
Menurutnya, sekolah menjadikan mangrove sebagai bagian dari pembelajaran berbasis kearifan lokal. Pendekatan tersebut diterapkan melalui kegiatan kokurikuler, intrakurikuler, hingga ekstrakurikuler.
"Karena kita berada di lingkungan pesisir, sehingga tema kokurikuler kita adalah mangrove," ujar Ghoma dalam Talkshow BN PPN 1011 di Radio Prima 95,8 FM.
Ia menjelaskan, materi mengenai mangrove juga dimasukkan ke dalam pembelajaran sejumlah mata pelajaran. Misalnya, pada mata pelajaran biologi, mangrove digunakan sebagai salah satu objek pembelajaran ketika siswa mempelajari tumbuhan.
Sementara dalam pembelajaran matematika, siswa dapat mempelajari pengukuran dengan menggunakan objek mangrove, seperti menghitung diameter batang.
"Jadi kita pendekatan dengan alam. Kearifan lokal pendekatan dengan alam," katanya.
Berawal dari Kepedulian Guru dan Pelajar
Ghoma mengungkapkan, gerakan tersebut muncul dari inisiatif guru dan siswa yang ingin memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan, khususnya karena kerusakan ekosistem mangrove di wilayah tersebut dinilai cukup masif.
Untuk mengetahui kondisi kawasan secara lebih jelas, pihak sekolah juga melakukan pemetaan dan survei terhadap sejumlah titik yang dianggap membutuhkan penanaman mangrove.
"Kita survei dulu titik-titik yang memang bisa kita lakukan penanaman. Kemudian kita coba trial and error," jelasnya.
Menurut Ghoma, proses tersebut penting karena tidak semua lokasi memiliki tingkat keberhasilan penanaman yang sama. Para siswa bersama guru kemudian melakukan sejumlah eksperimen untuk mengetahui metode dan lokasi penanaman yang dapat membuat mangrove bertahan hidup.
Green Mangrove Generation Libatkan Siswa dan Guru
Untuk memperkuat gerakan tersebut, SMAN 1 Tanjung Harapan juga memiliki komunitas yang melibatkan siswa dan guru bernama Green Mangrove Generation (GMG).
Komunitas tersebut menjadi wadah bagi para pelajar untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pelestarian mangrove.
Ghoma menjelaskan, kegiatan GMG diawali dengan memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan ekosistem mangrove.
Tahap berikutnya dilakukan melalui pembibitan mangrove. Bibit diambil dari alam, kemudian dibesarkan hingga mencapai kondisi yang cukup untuk dipindahkan kembali ke habitatnya.
"Gerakan kami salah satunya adalah sosialisasi pemahaman terhadap anak dulu. Kemudian kita mulai melakukan pembibitan, mengambil bibit dari alam dan kita besarkan. Setelah cukup umur, kita pindahkan ke habitatnya," ungkapnya.
Pembelajaran Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai lingkungan tidak hanya dilakukan melalui teori di ruang kelas. Para siswa mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan pembibitan, survei lokasi hingga penanaman mangrove.
Bagi sekolah, keterlibatan pelajar dalam pelestarian lingkungan sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter. Siswa tidak hanya memahami pentingnya ekosistem pesisir, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab dan kontribusi terhadap lingkungan di sekitar mereka.
Ghoma mengatakan, kegiatan tersebut masih terus dikembangkan. Sekolah melakukan evaluasi terhadap lokasi penanaman dan mencoba berbagai metode untuk mengetahui tingkat keberhasilan pertumbuhan mangrove.
"Kita coba trial and error dengan anak-anak," katanya.
Gerakan yang dilakukan SMAN 1 Tanjung Harapan menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam proses pendidikan. Mangrove tidak hanya dipelajari sebagai materi di sekolah, tetapi juga dijadikan objek pembelajaran sekaligus bagian dari aksi nyata pelajar dalam menjaga lingkungan.
Pembahasan mengenai gerakan tersebut menjadi salah satu topik dalam Talkshow BN PPN 1011 Radio Prima 95,8 FM pada Rabu, 30 September 2026, yang menghadirkan langsung pihak sekolah dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Melalui keterlibatan guru dan pelajar, upaya pelestarian mangrove diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi kesadaran lingkungan yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Saheel untuk Indonesia)
SEMARANG, Lognews.co.id - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah pola belajar dan menulis mahasiswa perguruan tinggi. Kemudahan menggunakan berbagai platform AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini membuat mahasiswa semakin mudah menyusun makalah, esai, hingga karya ilmiah.
Di satu sisi, teknologi tersebut memberikan kemudahan dalam proses belajar. Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap AI dinilai dapat mengancam tujuan pembelajaran Mata Kuliah Umum (MKU) Bahasa Indonesia yang selama ini diarahkan untuk membentuk kemampuan berpikir kritis, menulis ilmiah, serta berkomunikasi secara akademik.
Dosen MKU Bahasa Indonesia FBS UNNES, Sungging Widagdo, mengatakan tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi mengalami perubahan signifikan dalam dua tahun terakhir.
"Dulu tantangan kita adalah mahasiswa malas membaca. Sekarang tantangannya mahasiswa terlalu pintar menggunakan AI untuk membuat makalah, esai, bahkan skripsi. Hasilnya rapi, tapi tanpa proses berpikir," ujarnya saat ditemui di Kampung Budaya UNNES, Senin, 29 September 2026.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi tidak lagi sebatas soal plagiarisme. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan mahasiswa tetap menjalani proses membaca, memahami, menganalisis, menyusun argumen, hingga menghasilkan tulisan secara mandiri.
Berdasarkan survei internal di sejumlah perguruan tinggi di Semarang, lebih dari 65 persen tugas menulis mahasiswa terindikasi menggunakan AI tanpa melalui proses penyuntingan secara memadai.
Krisis Literasi dan Originalitas
Kehadiran AI generatif membuat mahasiswa dapat menghasilkan tulisan dalam waktu singkat. Kondisi tersebut berpotensi memotong proses pembelajaran yang seharusnya menjadi bagian penting dalam MKU Bahasa Indonesia.
Kurikulum MKU Bahasa Indonesia pada dasarnya dirancang untuk mengembangkan sejumlah kemampuan berbahasa, termasuk menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara kritis.
Ketika mahasiswa hanya memasukkan perintah ke dalam AI dan langsung menggunakan hasilnya sebagai tugas, proses membaca, mengolah informasi, membangun argumentasi, serta menyunting tulisan berisiko tidak lagi dilakukan secara optimal.
Karena itu, tantangan yang muncul bukan hanya apakah sebuah tulisan dibuat menggunakan AI atau tidak, tetapi sejauh mana mahasiswa memahami dan mampu mempertanggungjawabkan isi tulisan tersebut.
Kurikulum Perlu Lebih Adaptif
Persoalan lainnya adalah kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) MKU Bahasa Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya menyesuaikan perkembangan teknologi AI.
Sebagian pembelajaran masih menggunakan pendekatan konvensional dengan penekanan pada materi kebahasaan, seperti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), penulisan karya ilmiah, dan teknik penulisan akademik secara manual.
Padahal, perkembangan AI membuat mahasiswa membutuhkan kompetensi baru, termasuk memahami etika penggunaan AI, melakukan verifikasi informasi, menyunting keluaran AI, serta membedakan antara bantuan teknologi dan penggantian proses berpikir manusia.
"Kurikulum kita harus berubah dari melarang AI menjadi memanfaatkan AI secara etis. Mahasiswa harus diajarkan cara menggunakan AI sebagai asisten, bukan sebagai penulis pengganti," kata Sungging.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak harus ditempatkan sebagai ancaman dalam proses pembelajaran. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, melakukan penyuntingan awal, atau mengeksplorasi berbagai sudut pandang, selama mahasiswa tetap menjadi pihak yang berpikir, menilai, dan bertanggung jawab terhadap hasil akhirnya.
Minim Regulasi dan Kemampuan Deteksi
Tantangan lain muncul dari belum meratanya kemampuan dosen dalam mengenali penggunaan AI pada tugas mahasiswa.
Tidak semua dosen memiliki akses terhadap perangkat atau kemampuan teknis untuk mengidentifikasi tulisan yang dibuat menggunakan AI. Di sisi lain, belum semua perguruan tinggi memiliki regulasi yang jelas mengenai batasan penggunaan AI dalam pengerjaan tugas akademik.
Kondisi tersebut membuat penerapan kebijakan penggunaan AI dapat berbeda antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya.
Padahal, mahasiswa membutuhkan pedoman yang jelas mengenai kapan AI diperbolehkan digunakan, untuk tujuan apa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan, serta bagian mana dari proses akademik yang tetap harus dikerjakan secara mandiri.
Dari Anti-AI Menjadi Melek AI
Sejumlah pakar pendidikan bahasa mendorong adanya reformulasi kurikulum MKU Bahasa Indonesia agar tidak sekadar berorientasi pada larangan penggunaan AI.
Salah satu perubahan yang dapat dilakukan adalah menggeser sistem penilaian dari produk akhir menuju proses.
Mahasiswa tidak hanya diminta menyerahkan makalah, tetapi juga dapat diminta menyertakan tahapan penyusunan tulisan, draf, catatan revisi, hingga mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan argumen yang dibuat.
Dengan demikian, dosen dapat melihat proses berpikir mahasiswa, bukan hanya menilai hasil akhir tulisan.
Literasi AI juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Mahasiswa perlu memahami etika penggunaan AI, teknik menyusun prompt, cara memverifikasi informasi, teknik parafrase, serta metode mengevaluasi jawaban yang dihasilkan AI.
Selain itu, tugas berbasis proyek lapangan juga dapat diperkuat. Mahasiswa dapat diarahkan untuk melakukan wawancara, observasi budaya lokal, maupun mengolah pengalaman langsung menjadi tulisan akademik.
Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa tetap menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi data, pengalaman, analisis, dan argumentasi utama tetap berasal dari proses pembelajaran yang mereka jalani.
Ketua Asosiasi Dosen Bahasa Indonesia se-Indonesia menegaskan bahwa tujuan MKU Bahasa Indonesia tidak semata-mata menghasilkan tulisan yang baik secara tata bahasa.
"Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa. Di era AI yang bisa menulis dalam bahasa apa pun, kemampuan mahasiswa untuk tetap berpikir, bernalar, dan berargumen dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar justru menjadi kunci pembeda," ujarnya.
Pada akhirnya, perkembangan AI menempatkan kurikulum MKU Bahasa Indonesia di persimpangan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mempertahankan metode pembelajaran lama, tetapi juga tidak dapat menyerahkan proses berpikir mahasiswa kepada teknologi.
Tantangannya adalah membangun pembelajaran yang mampu memanfaatkan AI secara produktif tanpa menghilangkan kemampuan mahasiswa untuk membaca, berpikir kritis, bernalar, menyusun argumen, dan mempertanggungjawabkan gagasannya sendiri.
Dengan demikian, keberhasilan MKU Bahasa Indonesia di era AI bukan diukur dari seberapa jauh mahasiswa mampu menghindari teknologi, melainkan dari seberapa cerdas mereka menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Penulis: Nur Fateah Agus Nuryatin Rahayu Pristiwati
INDRAMAYU, Lognews.co.id – Abi Darin Alwi, salah satu dari 18 mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun yang mendapatkan beasiswa dari Syaykh Al-Zaytun, melakukan penelitian budidaya kacang tanah varietas Gajah di lahan grumusol seluas sekitar 200 meter persegi di Kampus Al-Zaytun, Indramayu. Penelitian tersebut dilakukan untuk menguji penerapan dosis dan perlakuan tertentu terhadap pertumbuhan kacang tanah pada karakteristik tanah grumusol.
Hal tersebut disampaikan Alwi saat ditemui langsung di lahan penelitian pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Penelitian ini menjadi bagian dari proses akademik yang dijalankan Alwi sebagai mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun.
Lahan yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan fasilitas yang diberikan untuk mendukung proses penelitian. Dengan adanya fasilitas tersebut, Alwi dapat melakukan penelitian secara langsung sekaligus mengamati perkembangan tanaman dari waktu ke waktu.
Alwi juga menyampaikan apresiasi kepada Syaykh Al-Zaytun atas dukungan yang diberikan terhadap proses pendidikan dan penelitian yang sedang dijalankan.
"Terima kasih pertama kepada Syaykh Al-Zaytun yang sudah memberikan beasiswa dan fasilitas lahan untuk penelitian ini," Tegasnya.
Memilih Kacang Tanah di Lahan Grumusol
Pemilihan kacang tanah sebagai objek penelitian berangkat dari kondisi lahan di Kampus Al-Zaytun yang memiliki karakteristik tanah grumusol.
Menurut Alwi, karakteristik tanah tersebut menjadi salah satu alasan untuk menguji kemampuan tanaman kacang tanah melalui perlakuan dan dosis tertentu.
"Tanah yang berada di Ma’had Al-Zaytun merupakan jenis tanah grumusol. Dari jenis tanah yang dilihat, saya memutuskan untuk memilih ditanami jenis kacang tanah," jelas Alwi.
Kacang tanah dipilih sebagai salah satu tanaman palawija yang dinilai dapat dikembangkan pada kondisi lahan tersebut. Penelitian kemudian diarahkan untuk melihat respons tanaman setelah mendapatkan perlakuan tertentu.
Menggunakan Kotoran Hewan Fermentasi dan Sekam Bakar
Dalam penelitian tersebut, Alwi menggunakan perlakuan berupa kotoran hewan yang difermentasi dan dicampurkan dengan sekam bakar. Campuran tersebut kemudian diolah dan digunakan sebagai bagian dari perlakuan pada lahan penelitian.
"Parang hewan difermentasi, kemudian dicampur dengan sekam bakar, kita olah. Ternyata bisa. Ada harapan," Katanya.
Perlakuan tersebut menjadi salah satu aspek yang membedakan penelitian yang dilakukan Alwi dengan penelitian sebelumnya. Selain perlakuan, dosis dan jenis tanah juga menjadi bagian penting dalam penelitian.
Novelty Penelitian pada Tanah Grumusol
Salah satu fokus utama penelitian tersebut adalah mencari novelty atau kebaruan dalam budidaya kacang tanah pada tanah grumusol.
Alwi menjelaskan bahwa penelitian mengenai kacang tanah dengan perlakuan tertentu sebelumnya sudah pernah dilakukan. Namun, penelitian tersebut dilakukan pada kondisi tanah dan dengan dosis yang berbeda.
"Di tempat lain ada yang melakukan hal yang sama dengan perlakuan yang berbeda. Berbeda itu dosisnya berbeda. Dan bukan di grumusol," jelas Alwi.
Menurut Alwi, penelitian dengan kombinasi perlakuan dan dosis yang digunakannya belum dilakukan pada tanah grumusol.
"Kebaruannya di tanah grumusol. Di tanah grumusol belum ada orang yang melakukan. Baru saya ini," ujarnya.
Dengan demikian, kebaruan yang ingin diuji dalam penelitian tersebut berada pada penerapan perlakuan dan dosis tertentu terhadap tanaman kacang tanah pada tanah grumusol.
Perbedaan Jenis Tanah, Perlakuan, dan Dosis
Alwi menyebut terdapat tiga aspek yang menjadi pembeda utama dengan penelitian sebelumnya, yakni jenis tanah, perlakuan, dan dosis.
"Gap-nya yang berbeda adalah jenis tanah, perlakuan, dan dosis," kata Alwi.
Menurut Alwi, perlakuan yang berhasil diterapkan pada jenis tanah lain belum tentu memberikan respons yang sama ketika diterapkan pada tanah grumusol.
Karena itu, penelitian tersebut diarahkan untuk melihat respons tanaman secara langsung sejak masa tanam hingga panen.
200 Meter Persegi, 48 Plot dan 1.680 Titik Tanam
Penelitian dilakukan pada lahan sekitar 200 meter persegi. Lahan tersebut dibagi menjadi 48 plot dengan ukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter.
Setiap plot terdiri atas 35 titik tanam. Dengan demikian, keseluruhan lahan penelitian memiliki sekitar 1.680 titik tanam.
"Ini 48 plot. Masing-masing plot itu kami bagi. Satu plot itu 35 titik tanam," Jelasnya.
Pembagian tersebut dilakukan agar proses pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dapat dilakukan secara lebih terukur berdasarkan perlakuan yang telah ditentukan.
Memasuki 21 Hari Setelah Tanam
Saat ditemui di lokasi penelitian, tanaman kacang tanah telah memasuki sekitar 21 hari setelah tanam.
Alwi menyebut pertumbuhan tanaman sejauh ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan dosis dan perlakuan yang diterapkan.
"Ini sudah 21 hari dari masa tanam. Dan sesuai dengan dosis dan perlakuan dari peneliti, akhirnya sesuai," ungkap Alwi.
Namun, hasil tersebut belum dapat menjadi kesimpulan akhir. Tanaman masih harus melalui tahapan pertumbuhan hingga masa panen untuk mengetahui produktivitas dan kualitas hasilnya.
Hipotesis Masih Menunggu Pembuktian
Alwi optimistis perlakuan yang diterapkan dapat memberikan hasil sesuai dengan hipotesis penelitian.
"Hipotesis saya pasti bisa. Saya akan temukan cara dengan dosis ini," kata Alwi.
Meski demikian, keyakinan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses penelitian hingga masa panen. Hasil produksi nantinya akan menjadi salah satu indikator untuk mengetahui efektivitas perlakuan yang diterapkan.
Syaykh Disebut Telah Memanfaatkan Lahan
Selain sebagai lokasi penelitian, lahan tersebut merupakan fasilitas yang diberikan untuk mendukung kegiatan penelitian. Alwi juga menyampaikan bahwa Syaykh Al-Zaytun sebelumnya telah memanfaatkan lahan tersebut untuk kegiatan penanaman.
Menurut Alwi, metode atau perlakuan yang digunakan Syaykh Al-Zaytun dalam pemanfaatan lahan tersebut dapat saja berbeda dengan perlakuan yang sedang diuji dalam penelitiannya.
"Syaykh juga pasti sudah menanam di lahan ini, mungkin dengan cara dan perlakuan yang berbeda," ujar Alwi.
Perbedaan tersebut menjadi bagian dari penelitian yang sedang dilakukan, karena Alwi mencoba menguji pendekatan dengan dosis dan perlakuan yang telah dirancang dalam penelitian akademiknya.
Tinggalkan Jakarta untuk Fokus Penelitian
Demi dapat berkonsentrasi menjalankan penelitian, Alwi memutuskan meninggalkan Jakarta dan menyewa rumah di sekitar lokasi penelitian.
Keputusan tersebut dilakukan agar Alwi dapat fokus melakukan penanaman, perawatan, pengamatan, serta evaluasi tanaman secara langsung.
"Saya tinggalkan Jakarta, saya menyewa rumah supaya saya bisa fokus dalam penelitian dan saya menemukan kebaruan," Tegasnya Alwi.
Keberadaan langsung di lokasi penelitian membantu proses pengamatan tanaman yang dilakukan secara berkelanjutan.
Kacang Gajah, Bukan Garuda
Jenis kacang tanah yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah kacang tanah Gajah.
Saat menjelaskan jenis kacang yang digunakan, Alwi sempat berseloroh mengenai nama varietas tersebut dengan menyebut kacang Garuda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana wawancara yang santai dan bukan sebagai penjelasan ilmiah mengenai varietas.
"Kacangnya Gajah, bukan Garuda. Garuda asin kan, ada kacang Garuda," kata Alwi sambil berseloroh.
Adapun fokus utama penelitian tetap pada bagaimana kacang tanah varietas Gajah merespons kondisi tanah grumusol dengan perlakuan dan dosis tertentu.
Menunggu Hasil Panen
Penelitian tersebut masih berlangsung dan belum memasuki masa panen. Karena itu, jumlah dan kualitas hasil produksi belum dapat diketahui.
Alwi menyebut hasil akhir nantinya akan menjadi bagian penting untuk melihat apakah perlakuan yang diterapkan mampu menghasilkan pertumbuhan dan produksi sesuai dengan hipotesis penelitian.
"Kalau 200 meter ini kita melakukan perlakuan tadi, insya Allah bisa. Dengan proses, dengan perlakuan yang sama, bisa menghasilkan yang sama," Katanya Alwi.
Hasil panen nantinya akan menjadi data penting untuk menguji efektivitas perlakuan sekaligus melihat potensi penerapan metode tersebut pada lahan dengan ukuran yang lebih luas.
Ucapan Terima Kasih
Alwi menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung proses pendidikan dan penelitiannya.
Ucapan terima kasih pertama disampaikan kepada Syaykh Al-Zaytun atas beasiswa yang diberikan serta fasilitas lahan yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian.
"Terima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah memberikan beasiswa, membina kami, dan memberikan fasilitas untuk penelitian ini," Tegasnya Alwi.
Selain itu, Alwi juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Purnoko, Kaprodi Dr. Budi Rohman, serta Rektor UGJ, Pak Fakih, atas dukungan terhadap proses penelitian yang sedang dijalankannya.
Penelitian tersebut masih akan berlanjut hingga masa panen. Hasil akhir penelitian nantinya akan menjadi bagian penting untuk menguji hipotesis sekaligus melihat kebaruan penerapan budidaya kacang tanah pada tanah grumusol dengan perlakuan dan dosis tertentu. (Saheel untuk Indonesia)
INDRAMAYU, Lognews.co.id – UPTD Puskesmas Gantar melaksanakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pelajar kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma'had Al-Zaytun, Indramayu, Rabu (30/9/2026), sebagai upaya melakukan deteksi dini kondisi kesehatan serta memantau tumbuh kembang anak sejak usia sekolah.
Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh bagi Pelajar
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Ma'had Al-Zaytun tersebut melibatkan tenaga kesehatan dari UPTD Puskesmas Gantar. Para pelajar mengikuti pemeriksaan secara tertib, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan fisik, tekanan darah, mata, telinga, hingga kesehatan gigi dan mulut.
Kepala UPTD Puskesmas Gantar, Taufik Rohman, SKM., MKM., mengatakan CKG merupakan program pemerintah yang dilaksanakan secara bertahap dengan sasaran masyarakat, pelajar, serta ibu hamil.
"Karena sasarannya anak sekolah, berarti kita datang ke sini untuk melakukan pemeriksaan anak sekolah. Untuk sekarang ini yang diperiksa adalah kelas satu," ujar Taufik.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap pelajar tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek tumbuh kembang dan kesehatan indera.
"Yang pertama dilakukan adalah pemeriksaan untuk anak sekolah SD, mulai dari pemeriksaan fisik, tumbuh kembang, tensi, pemeriksaan telinga dan mata, sekaligus pemeriksaan gigi dan mulut," jelasnya.
Pemberian Obat Cacing dan Tindak Lanjut
Selain pemeriksaan kesehatan, petugas juga memberikan obat cacing kepada para pelajar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kesehatan di lingkungan sekolah.
Taufik menjelaskan, pemeriksaan tersebut juga menjadi sarana untuk mengetahui lebih awal apabila terdapat kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
"Kalau misalkan ditemukan kelainan-kelainan atau ada tindakan-tindakan yang harus diberikan, biasanya kita rujuk ke Puskesmas," katanya.
Dengan mekanisme tersebut, hasil pemeriksaan tidak berhenti pada pendataan kondisi kesehatan pelajar. Temuan yang membutuhkan penanganan dapat ditindaklanjuti melalui layanan kesehatan di Puskesmas.
Kondisi Kesehatan Pelajar
Taufik menambahkan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan bersama tim tenaga kesehatan, sebagian besar pelajar telah menjalani pemeriksaan.
Ia menyebut kondisi kesehatan para pelajar yang diperiksa secara umum berada dalam kondisi baik.
"Kita juga sudah keliling dan sebagian besar sudah diperiksa. Kita juga sudah berkoordinasi dengan petugas. Hasilnya secara umum semuanya baik dan bagus, kesehatan anak-anak Al-Zaytun," ungkapnya.
Kerja Sama Puskesmas Gantar dan Al-Zaytun
Pelaksanaan CKG di Ma'had Al-Zaytun juga menjadi bagian dari koordinasi yang telah terjalin antara UPTD Puskesmas Gantar dengan pihak sekolah.
Taufik menyebut kerja sama tersebut tidak hanya dilakukan dalam program CKG, tetapi juga dalam sejumlah kegiatan kesehatan lainnya, termasuk imunisasi dan pemeriksaan kesehatan bagi anak sekolah.
"Kita sudah kerja sama banyak, seperti pemberian imunisasi BIAS dari anak SD, SMP, cek kesehatan anak sekolah dan kegiatan lainnya. Selama ini bekerja dengan baik, responsnya juga cepat," ujarnya.
Menurut Taufik, pihak Al-Zaytun memberikan ruang dan dukungan kepada tenaga kesehatan untuk melaksanakan berbagai program kesehatan yang menjadi bagian dari pelayanan Puskesmas Gantar.
Apresiasi untuk Dukungan Pihak Al Zaytun
Taufik turut mengapresiasi pimpinan Al-Zaytun yang dinilai responsif terhadap pelaksanaan berbagai program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan.
"Pertama, terima kasih kepada Syaykh Al Zaytun Syaykh Panji Gumilang yang sudah responsif terhadap kegiatan-kegiatan atau program-program pemerintah, sehingga kita bisa bekerja sama dengan baik dan sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan dengan lancar," tuturnya.
Ia berharap kerja sama antara UPTD Puskesmas Gantar dan pihak Al-Zaytun dapat terus berjalan, sehingga berbagai program kesehatan yang menyasar pelajar dapat terlaksana secara berkelanjutan.
Program CKG bagi pelajar tersebut diharapkan dapat membantu mendeteksi kondisi kesehatan anak sejak dini. Dengan pemeriksaan secara berkala, berbagai potensi gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal sehingga dapat dilakukan penanganan dan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak sebagai generasi pelanjut. (Saheel untuk Indonesia)