Menyukuri 56 Tahun Pernikahan Syaykh dan Ummi Al Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Kegiatan Menyukuri 56 tahun pernikahan Syaykh Al-Zaytun dan Ummi Farida Al Widad yang digelar di Ballroom Al-Ishlah, Al-Zaytun, Indonesia, Selasa (6/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan keluarga, kerabat, serta sahabat Syaykh dan Ummi Farida.

Sebelum acara utama dimulai, suasana peringatan dimeriahkan dengan penampilan tarian yang diiringi lagu tarling klasik berjudul "Pemuda Idaman" yang dibawakan HJ Ningsih. Penampilan tersebut menjadi pembuka sebelum rangkaian acara resmi dimulai.

Memasuki agenda utama, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC) pada pukul 16.00 WIB. Selanjutnya, peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh dirigen.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan panitia yang disampaikan oleh Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.A.P.

Sambutan tersebut ditutup dengan pembacaan puisi berbahasa Arab. Puisi kemudian dibacakan kembali dalam bahasa Inggris oleh putra Eji Anugrah Romadhon, Green Chaverim Khalilurrahman.

Keluarga dan Sahabat Sampaikan Ucapan

Setelah sambutan panitia, acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian kesan dan ucapan dari perwakilan keluarga serta sahabat Syaykh dan Ummi Al-Zaytun.

Ucapan pertama disampaikan oleh Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., yang mewakili anak laki-laki.

Selanjutnya, Anis Khairunnisa, S.Th.I., M.A.P., menyampaikan ucapan mewakili anak perempuan. Ucapan juga disampaikan Imam Muhajir Rahman, S.T., yang mewakili menantu.

Berikutnya, Drs. Miftakh, M.Pd., turut memberikan ucapan mewakili keponakan. Sementara dari keluarga Ummi, ucapan disampaikan oleh Abdur Rozak Said.

Ishak Sanusi, B.A., S.Ikom., M.Pd., yang merupakan adik Ummi, juga menyampaikan ucapan.

Dari kalangan sahabat Syaykh, ucapan disampaikan oleh Kiyai Pancasila Datuk M. Nurdin Abu Tsabit, M.A.P., Mr. Hendra, dan Agung Rijoto.

Sementara itu, Sjafruddin Ahmad, S.H., M.H., turut menyampaikan ucapan mewakili sahabat Syaykh dari Koordinator.

Syaykh: Acara Seperti Ini Membuat Keluarga Saling Mendengar

Memasuki sesi berikutnya, Syaykh Dr. (Cand) AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P., menyampaikan ungkapan syukur sekaligus mengenang perjalanan kehidupan dan rumah tangganya bersama Ummi Farida.

Syaykh mengawali penyampaiannya dengan menyinggung makna pertemuan keluarga dalam momentum seperti peringatan ulang tahun pernikahan.

Menurutnya, acara tersebut menjadi ruang bagi keluarga untuk menyampaikan isi hati secara terbuka.

"Acara seperti ini kita tahu isi hati masing-masing, yang diungkapkan dalam bahasa yang sangat terbuka."

Syaykh juga menyampaikan apresiasi kepada anak-anak dan keluarga yang telah menyampaikan ucapan dalam kesempatan tersebut.

Ia kemudian menyinggung perjalanan anak-anaknya yang kini telah dewasa dan menjalani kehidupan masing-masing.

Dalam kesempatan itu, Syaykh juga menekankan pentingnya kemampuan untuk mendengarkan, bukan hanya berbicara.

"Orang itu harus sanggup mendengar dan harus sanggup memperdengarkan."

Menurutnya, kemampuan untuk saling mendengarkan diperlukan agar perjalanan kehidupan dapat berlangsung secara seimbang.

"Kedua-duanya bisa kita lakukan, supaya perjalanan kita seimbang."

Mengenang Pernikahan di Usia 24 Tahun

Syaykh kemudian membawa ingatannya kembali ke masa ketika dirinya menikah pada usia sekitar 24 tahun.

Ia membandingkan perjalanan kehidupan dan percintaan pada masa mudanya dengan kondisi generasi sekarang yang telah jauh berbeda.

Menurut Syaykh, komunikasi pada masa itu tidak semudah sekarang. Telepon masih menjadi fasilitas yang sulit dijangkau, terutama di daerah tempat ia tinggal.

"Sejarah perjalanan percintaan zaman saya sangat jauh dari zaman sekarang."

Ia menggambarkan kehidupan masa mudanya di sebuah kampung yang sederhana. Bahkan, menurut cerita Syaykh, kondisi kampung tersebut sangat berbeda dengan lingkungan masyarakat saat ini.

Keterbatasan fasilitas komunikasi membuat hubungan antarmanusia pada masa itu berlangsung dengan cara yang lebih sederhana.

Perjalanan Pendidikan dan Kehidupan di Pesantren

Syaykh juga mengenang perjalanan pendidikannya sejak menyelesaikan sekolah rakyat.

Saat hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, ia mendapat arahan dari Yai Yahya untuk terlebih dahulu memperdalam kemampuan membaca Al-Qur'an.

Ia kemudian menjalani pendidikan mengaji sebelum melanjutkan ke lingkungan pesantren.

Menurut Syaykh, keputusan tersebut memberikan bekal penting ketika dirinya melanjutkan pendidikan. Di pesantren, para santri memiliki kebiasaan mengaji secara mandiri setelah salat Magrib.

"Setiap habis Maghrib ngaji sendiri."

Syaykh kemudian menjalani pendidikan di pesantren selama sekitar enam tahun.

Dalam ceritanya, ia juga menggambarkan kehidupan santri pada masa tersebut yang relatif terbatas dari pergaulan dengan perempuan. Pengalaman itu kemudian turut memengaruhi pandangannya mengenai pendidikan.

Ia mengaku dari pengalaman tersebut muncul gagasan bahwa jika suatu saat memiliki sekolah, pendidikan laki-laki dan perempuan tidak semestinya dipisahkan.

"Kalau saya punya sekolah, tidak akan memisahkan negara dan nisa."

Dalam konteks transkrip, bagian tersebut merujuk pada gagasan Syaykh mengenai pendidikan laki-laki dan perempuan.

Melanjutkan Pendidikan ke Ciputat

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, perjalanan Syaykh berlanjut ke Ciputat.

Ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan sebelumnya tidak mengeluarkan ijazah sekolah formal. Karena itu, ketika hendak melanjutkan pendidikan di Ciputat, dirinya harus mengikuti proses pengujian terlebih dahulu.

Kemampuan bahasa Arab menjadi salah satu bagian yang diuji.

Syaykh kemudian melanjutkan pendidikan di bidang agama dan mengikuti berbagai kegiatan yang membawanya berinteraksi dengan masyarakat di sejumlah daerah.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke wilayah Banten pada sekitar akhir dekade 1960-an.

Awal Perkenalan dengan Ummi Farida

Dalam kesempatan tersebut, Syaykh juga mengenang awal perkenalannya dengan Ummi Farida.

Pertemuan pertama berlangsung dalam suasana sederhana ketika Syaykh mengikuti sebuah kegiatan. Saat itu, ia bahkan belum mengetahui nama perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Setelah pertemuan tersebut, komunikasi dan perkenalan berlangsung secara bertahap.

Syaykh mengenang bagaimana keterbatasan fasilitas komunikasi pada masa itu membuat proses pendekatan berbeda dengan generasi sekarang.

Untuk bertemu, seseorang harus menempuh perjalanan dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

Dari perkenalan tersebut, hubungan keduanya kemudian berlanjut hingga akhirnya menjalani kehidupan rumah tangga selama 56 tahun.

56 Tahun Pernikahan dan Pesan tentang Keluarga

Setelah mengenang perjalanan masa muda, pendidikan, hingga awal perkenalannya dengan Ummi Farida, Syaykh kembali menyinggung makna pertemuan keluarga dalam peringatan tersebut.

Menurutnya, momen seperti itu penting karena tidak setiap kesempatan memberikan ruang bagi anggota keluarga untuk menyampaikan apa yang ada dalam hati masing-masing.

Ia menilai kemampuan mendengar menjadi bagian penting dalam membangun hubungan keluarga.

Peringatan 56 tahun pernikahan Syaykh Al-Zaytun dan Ummi Farida Al Widad tersebut akhirnya menjadi bukan hanya momentum syukuran, tetapi juga ruang untuk mengenang perjalanan panjang kehidupan keduanya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ungkapan syukur dari Syaykh pada pukul 17.20 WIB.

Setelah sesi tersebut, kegiatan ditutup oleh MC pada pukul 17.55 WIB. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah yang berlangsung hingga pukul 19.00 WIB dan diisi oleh Bagian Konsumsi.

 

Enam dekade lebih kehidupan bersama menjadi bagian dari perjalanan yang dikenang dalam suasana kekeluargaan, dengan cerita tentang masa muda, pendidikan, perkenalan, hingga kehidupan keluarga yang telah dijalani selama 56 tahun. (Saheel untuk Indonesia)