Biaya Pendidikan Sekolah Kita Al-Zaytun Barter Hasil Panen Wali Pelajar

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Sekolah Kita Cibanoang, Kabupaten Indramayu, menerapkan metode pembayaran pendidikan yang cukup unik. Selain menggunakan uang tunai, sekolah menerima pembayaran dari wali murid dalam bentuk hasil bumi atau hasil panen.

Guru Sekolah Kita Cibanoang, Ustadz Abdul Karim, mengatakan, pembayaran pendidikan di sekolah tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya menggunakan hasil pertanian yang dimiliki masyarakat sekitar.

"Pembayaran ada beberapa metode. Yang pertama secara tunai atau cash. Kemudian juga bisa menggunakan hasil bumi atau hasil panenan," ujar Abdul Karim.

Hasil bumi yang diterima cukup beragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga hasil panen padi. Salah satu bentuk pembayaran yang diterima sekolah pada Selasa (6/10/2026) yakni berupa mentimun.

Menurut Abdul Karim, hampir berbagai jenis hasil pertanian dapat digunakan untuk pembayaran. Di antaranya mentimun, kangkung, bayam, labu parang, daun singkong, singkong, hingga padi ketika musim panen tiba.

Sistem tersebut diterapkan sebagai upaya untuk menjembatani kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang mayoritas berada di lingkungan pertanian.

"Digunakan sistem pembayaran menggunakan sayuran ini sebenarnya menjembatani masyarakat sekitar. Salah satunya supaya masyarakat sekitar tidak merasa kesulitan untuk pembayaran," katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat di sekitar Sekolah Kita Cibanoang sudah sangat familiar dengan hasil pertanian. Karena itu, hasil bumi menjadi salah satu alternatif pembayaran yang dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

"Harapannya mereka tidak lagi kesulitan untuk melakukan pembayaran anak-anaknya yang menekolahkan di Sekolah Kita Cibanoang," ujar Abdul Karim.

Sengaja Menanam Sayuran untuk Biaya Pendidikan

Salah seorang wali murid, Rastina, mengaku terbantu dengan adanya sistem pembayaran menggunakan hasil bumi tersebut.

Menurutnya, pembayaran dengan sayuran dapat menjadi solusi ketika orang tua tidak memiliki uang tunai untuk membayar biaya pendidikan.

"Kalau saya sih senang pakai sayuran, soalnya bisa meringankan. Kalau tidak ada duit bisa pakai ini," kata Rastina.

Rastina bahkan sengaja menanam sayuran setiap tahun untuk disiapkan sebagai salah satu bentuk pembayaran pendidikan anaknya.

"Saya tiap tahunnya nanam sayuran. Sengaja juga, biar ringan bebannya. Saya sudah diniatin pakai hasil bumi," ujarnya.

Ia menilai keberadaan Sekolah Kita Cibanoang juga memberikan banyak perubahan bagi anak-anak yang bersekolah di sana. Menurutnya, kualitas pendidikan yang diberikan sekolah cukup baik dan perkembangan anak juga turut dipengaruhi oleh proses pendidikan yang mereka jalani.

Hasil Bumi Kembali untuk Kebutuhan Pelajar

Menariknya, hasil bumi yang diterima sebagai pembayaran tidak berhenti sebagai pengganti uang pendidikan. Hasil pertanian tersebut nantinya dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan konsumsi anak-anak di sekolah.

Abdul Karim menjelaskan, setelah hasil panen diterima, pihak sekolah akan membawanya ke bagian internal untuk kemudian diolah dan dimanfaatkan sebagai konsumsi siswa.

"Setelah kita terima, biasanya nanti dibawa ke dalam untuk nantinya digunakan untuk konsumsi anak-anak kita juga. Termasuk yang di Cibanoang nantinya. Bisa jadi nanti dijadikan sayuran atau yang lain," tuturnya.

Bagi Rastina, sistem tersebut membuat pembayaran pendidikan terasa lebih mudah dan tidak rumit, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang memberikan kemudahan bagi orang tua dalam memenuhi kewajiban pendidikan anak.

"Terima kasih untuk Ma'had Al Zaytun yang sudah meringankan dengan pembayaran pendidikannya pakai sayur, hasil bumi. Tidak ribet, intinya begitu," pungkasnya. (Saheel untuk Indonesia)