Edisi: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan
By. Latief WeHa
lognews.co.id - Perdebatan tentang apakah anjing itu najis atau tidak masih sering muncul di tengah masyarakat. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, perdebatan semacam ini justru menguras energi dan waktu untuk hal yang tidak menyentuh inti persoalan keimanan dan kemanusiaan.
Coba kita ajukan satu pertanyaan mendasar: adakah satu ayat dalam Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan bahwa anjing itu najis? Jika ditelusuri dengan jujur, jawabannya tidak akan kita temukan. Al-Qur’an tidak pernah menyebut anjing sebagai makhluk najis.
Sebaliknya, Al-Qur’an justru memberikan penegasan tentang siapa yang disebut najis dalam konteks moral dan spiritual. Dalam Surah At-Taubah ayat 28, Allah berfirman:
> “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis…”
Ayat ini dengan jelas menyebut bahwa yang najis adalah orang-orang musyrik. Yang najis itu manusia. Lalu siapakah yang dimaksud dengan orang musyrik?
Secara sederhana, orang musyrik adalah mereka yang menduakan Allah, menyembah selain-Nya. Namun makna ini tidak berhenti pada ritual semata. Dalam kehidupan nyata, kemusyrikan juga terwujud ketika manusia lebih memilih aturan, nilai, dan kepentingan selain ajaran Ilahi sebagai pedoman hidupnya.
Ketika Allah melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi, orang-orang musyrik justru melakukan sebaliknya. Mereka merusak alam, menindas sesama, dan menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi atau kelompok.
Pembalak hutan yang menghancurkan alam tanpa nurani, para koruptor yang merampas hak rakyat, mafia tambang yang meninggalkan luka ekologis dan kemanusiaan—merekalah contoh nyata dari kemusyrikan modern. Mereka itulah yang sejatinya “najis” dalam makna moral dan spiritual, karena tindakannya bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Ironisnya, sebagian dari kita justru sibuk memperdebatkan najis tidaknya anjing, sementara lupa bahwa manusia-manusia dengan perilaku merusak itulah yang bertebaran di muka bumi. Fokus kita teralihkan dari persoalan besar menuju perdebatan simbolik yang tidak menyentuh akar masalah.
Sudah saatnya kita menanamkan kesadaran bahwa agama bukan sekadar soal hukum-hukum lahiriah, tetapi juga tentang nilai keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan. Menjaga bumi, berlaku jujur, dan tidak merusak sesama adalah bagian dari iman itu sendiri.
Agama bukanlah sekedar agama, melainkan sebuah peradaban.
Wallahu a’lam bish-shawab.


