Saturday, 07 February 2026

Solidaritas Tanpa Batas: Dari Bencana Menuju Indonesia Emas

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

(Refleksi Hari Kesetiakawanan Sosial)

 Oleh Ali Aminuloh 

lognews.co.id - Setiap 20 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN). Ia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat tentang satu nilai utama yang sejak lama menjadi kekuatan Indonesia: solidaritas. Tahun 2025, HKSN mengusung tema “Solidaritas Tanpa Batas Menuju Indonesia Emas”, sebuah pesan yang terasa kian relevan di tengah bencana alam yang kembali melanda sejumlah wilayah, khususnya Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

Dari gempa, banjir, hingga longsor, alam kembali menguji daya tahan bangsa. Namun di balik duka dan kehilangan, selalu muncul harapan yang sama: tangan-tangan yang saling menguatkan.

Solidaritas yang Lahir dari Sejarah

Akar HKSN berangkat dari peristiwa bersejarah. Pada 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II menyerang Yogyakarta, ibu kota negara kala itu. Negara berada dalam kondisi genting. Namun sehari setelahnya, 20 Desember 1948, rakyat Indonesia menunjukkan kekuatan sejatinya.

Tanpa menunggu instruksi, masyarakat bergerak membantu para pejuang, menyediakan logistik, dan melindungi pengungsi. Gotong royong menjadi benteng terakhir bangsa. Semangat inilah yang kemudian diabadikan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, dicetuskan pada 1958 dan resmi bernama HKSN sejak 1983.

Solidaritas bukan hanya warisan sejarah, melainkan identitas nasional.

Bencana sebagai Cermin Kemanusiaan

Hari ini, ujian bangsa hadir dalam bentuk yang berbeda. Bencana alam berulang terjadi di wilayah rawan seperti Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Rumah runtuh, lahan rusak, dan ribuan warga terdampak.

Namun di tengah puing-puing, selalu muncul kisah yang sama: relawan lintas daerah datang, dapur umum berdiri, bantuan mengalir dari masyarakat yang tak saling mengenal. Solidaritas kembali menjadi bahasa universal.

Al-Qur’an menegaskan prinsip ini:

 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa empati sejati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata.

Kesetaraan sebagai Dasar Solidaritas

Nilai kesetiakawanan sosial juga ditekankan oleh Syaykh Al Zaytun, AS Panji Gumilang, yang secara konsisten menanamkan prinsip kesetaraan manusia berbasis nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila, khususnya sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Menurut beliau, solidaritas hanya akan tumbuh jika manusia memandang sesamanya setara, tanpa sekat latar belakang, identitas, atau status sosial. Kemanusiaan harus diletakkan di atas segalanya.

Di lingkungan Al Zaytun, nilai ini ditanamkan secara nyata kepada seluruh civitas akademika, terutama para pelajar. Berbagi kepada sesama menjadi kebiasaan, bukan sekadar program. Berkata dan bertindak selalu didasarkan pada ilmu, bukan emosi. Dan setiap pekerjaan dilakukan bersama-sama, karena kebersamaan adalah fondasi peradaban.

Prinsip ini sejalan dengan cita-cita Pancasila: membangun manusia Indonesia yang beradab, rasional, dan berempati.

Solidaritas adalah Perekat Bangsa

Ilmuwan besar Albert Einstein pernah menyatakan bahwa manusia adalah bagian dari satu kesatuan besar. Ketika satu bagian terluka, bagian lain tidak mungkin benar-benar utuh. Dalam konteks Indonesia, penderitaan satu daerah sejatinya adalah tanggung jawab bersama.

Islam pun mengajarkan hal serupa. Rasulullah SAW menggambarkan umat manusia seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Inilah esensi solidaritas tanpa batas.

Sosiolog Emile Durkheim menyebut solidaritas sebagai perekat masyarakat. Tanpanya, bangsa hanya kumpulan individu yang rapuh. Indonesia Emas tidak akan lahir dari kemajuan teknologi semata, tetapi dari karakter sosial yang kuat.

Dari Peringatan ke Perilaku Sehari-hari

HKSN tidak cukup dimaknai lewat bakti sosial tahunan. Kesetiakawanan harus hadir dalam keseharian: peduli pada tetangga, menjaga lingkungan, menolak ujaran kebencian, serta mau berbagi meski dalam keterbatasan.

Bencana mengajarkan satu hal penting: kemajuan tanpa kemanusiaan akan kehilangan arah.

Al-Qur’an menegaskan:

 “Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.”

(QS. Al-Ma’idah: 32)

Di situlah makna HKSN sesungguhnya. Solidaritas tanpa batas bukan slogan, melainkan jalan menuju Indonesia Emas, Indonesia yang maju, adil, dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.