lognews.co.id - Tiga puluh tahun yang lalu, saat pertama kali kawasan Ma’had Al Zaytun mulai dibuka, kondisinya jauh dari kata ideal. Musim kemarau datang tanpa setetes pun air, dan mencari aliran air mengalir adalah pekerjaan sulit kecuali saat musim hujan. Namun, jauh sebelum itu semua berubah, Syaykh telah membaca tanda-tanda alam dengan kecerdasan berpikirnya.
Beliau menyadari bahwa wilayah ini sesungguhnya “dilelep” oleh air — terbukti dari keberadaan air permukaan pada kedalaman tiga meter — dan memahami bahwa tanahnya adalah jenis clay yang menyimpan potensi besar jika dikelola dengan benar.
Dari pemahaman itulah lahir ijtihad visioner, membuat waduk di kanan-kiri kawasan dan meluruskan sungai agar air hujan tertampung, bukan terbuang. Strategi itu diperkuat dengan penanaman pohon secara masif sehingga daya serap air meningkat. Kini, tiga dekade berlalu, hasilnya nyata, waduk Al Kautsar tak pernah kering bahkan di musim paling gersang, dan air tanah tetap melimpah, jernih, serta tak pernah keruh — sebuah nikmat besar hasil perpaduan ilmu, kesabaran, dan kesadaran ekologis.

Syaykh menegaskan bahwa kualitas air terbaik bukanlah air yang mengalir tanpa tujuan, tetapi air yang tersimpan di batang dan daun pepohonan karena dari situlah kehidupan bersumber. Satu pohon saja mampu menyimpan satu kubik air; maka berapa juta kubik air yang bisa dimiliki jika berjuta pohon tumbuh subur? Pandangan ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an, bahwa kerusakan di bumi terjadi karena ulah manusia (QS. Ar-Rūm: 41), namun manusia pula yang diberi kehormatan sebagai _Karromnā Bani Adam_(QS. Al-Isra: 70) untuk menghadirkan kebaikan.
Pendidikan kontemporer di Al Zaytun bertolak dari kesadaran inilah: membangun manusia yang shāliḥ bukan mufsid melalui pengelolaan sumber daya yang cerdas, bernilai, dan berkelanjutan. Membaca Al-Qur’an tidak cukup secara tekstual, tetapi perlu dibedah secara filosofis "mengapa, bagaimana, dan untuk apa" maka lahirlah paradigma berpikir bahwa air bukan sekadar kebutuhan hidup, melainkan simbol kehidupan itu sendiri.
Al Zaytun tidak sekadar membangun infrastruktur air, tetapi juga membangun kesadaran, bahwa manusia diciptakan untuk menciptakan solusi, bukan kerusakan. Inilah hasil nyata (natījah) dari pendidikan yang berpijak pada ilmu, akal, dan wahyu — pendidikan yang tidak sekadar berbicara, tetapi membiarkan peradaban yang berbicara.
Disarikan dari Tausyiah Refleksi Syaykh Al Zaytun usai Pelatihan Pelaku Didik, 5 Oktober 2025
(Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.)



