lognews.co.id - Di tengah arus deras perkembangan teknologi, lembaga pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental. Dalam "Obrolan Sore" program siaran radio Prima FM Indramayu 95.8, yang dibawakan oleh penyiar Nimas, secara santay namun berisi bersama narasumber seorang alumni dan praktisi pelaku didik Achmad Irfan, S.Kom., M.P., yang menjabat sebagai Sekretaris Mudabbir asrama Gedung persahabatan membahas mengenai peran Pendidikan melalui ekosistem Pendidikan yang tidak terputus dengan novum garadum yaitu LSTEAMS (Law Science Technology Mathematic and Spiritual)
Pusat Pendidikan Ma’had Al – Zaytun (MAZ) hadir dengan ciri khas sebagai "Pesantren Spirit but Modern System," sebuah komitmen menghantarkan generasi yang cerdas secara digital, kuat secara karakter, dan adaptif terhadap zaman. Inilah tinjauan mendalam tentang bagaimana Al - Zaytun mengintegrasikan teknologi dan psikologi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inspiratif.
1. Sistem Komunikasi yang Mendukung Keamanan Psikologis
Salah satu pilar utama di MAZ adalah membangun rasa aman dan memastikan santri tetap semangat dalam belajar. Hal ini diwujudkan melalui sistem komunikasi yang terstruktur dan didukung oleh peran penting Teknologi Informasi (IT).
Membangun Jembatan Kerinduan dengan Teknologi.
MAZ telah beradaptasi dari era wartel menuju fasilitas video call untuk wali murid. Fasilitas ini tidak menggantikan peran orang tua, melainkan memperkuatnya. Jadwal komunikasi ribuan santri diatur dengan baik, dan setiap asrama mendapat giliran terjadwal.
• Wali Kamar memainkan peran sentral sebagai perpanjangan tangan orang tua, mendampingi santri saat menelpon.
• Komunikasi dilakukan melalui video call dengan wali murid secara berkala, menjaga kestabilan psikis santri agar mereka merasa tetap mendapat perhatian.
• Santri diajarkan etika dan struktur bercerita saat menelpon: tanyakan kabar orang tua dan keluarga terlebih dahulu, baru kemudian bercerita tentang diri sendiri. Pendekatan ini memastikan sesi komunikasi menjadi sarana melepas rindu yang bermakna dan terarah.
Dengan sistem ini, orang tua bisa menyekolahkan anaknya dengan tenang dan aman, yakin bahwa kebutuhan psikologis anak untuk tetap terhubung terpenuhi.
2. Peran Vital Teknologi Informasi dan Digitalisasi Pendidikan
Peran tim IT di MAZ jauh melampaui dukungan teknis semata. Mereka bertanggung jawab melaksanakan sistem komunikasi yang menjaga stabilitas psikis santri, bertindak sebagai 'orang tua' yang mendukung kependidikan.
Adaptasi Seimbang: Laptop Menggantikan Gawai Tak Terkontrol
MAZ berpendapat bahwa bukan mengesampingkan teknologi, tetapi memahami dampak negatif dari penggunaan HP yang tidak terkontrol. Sebagai gantinya, MAZ membangun pendidikan berbasis teknologi yang lebih proper dan terarah:
• Penggunaan Laptop: Santri sudah mulai menggunakan laptop sejak Kelas 5 MI untuk mendukung pembelajaran ICT (Information and Communication Technology) atau Informatika.
• Internet Cepat: Internet disediakan dengan kecepatan yang memadai untuk menggali informasi, memastikan santri tidak 'gaptek' atau mengalami culture shock di masa depan.
• Digitalisasi dan Kreativitas: Pembelajaran TIK difokuskan pada pembuatan aplikasi, pengkodean, logika, dan kreativitas. Hal ini mencakup kurikulum yang adaptif dengan era sekarang, termasuk ekstrakurikuler yang mengajarkan branding, periklanan di media sosial, membuat flyer/brosur, memasarkan, hingga memahami respon netizen dan affiliate marketing
Seluruh santri diwajibkan mengikuti program IT secara berjenjang sejak jenjang MI, memastikan mereka lulus dengan kompetensi digital yang mumpuni.
Visi Ekonomi Digital dan Smart Boarding School
MAZ tidak hanya ingin mencetak pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dan pemimpin di era ekonomi digital. Sekolah ini berupaya membangun mentalitas santri agar mereka kelak dapat menciptakan lapangan kerja, mengenal e-commerce, dan memiliki wawasan kewirausahaan digital. Inilah inti dari "Smart Boarding School"—lembaga pendidikan yang tetap membumi pada nilai-nilai karakter, namun cerdas secara digital.
3. Kesehatan Fisik dan Psikologis Melalui Kualitas Tidur
Kualitas tidur memiliki dampak signifikan pada kesehatan dan kekebalan tubuh. MAZ sangat memprioritaskan hal ini sebagai bagian dari upaya membangun santri yang tangguh.
• Tidur 9 Jam: Santri diwajibkan persiapan tidur pada jam 8 malam, memastikan mereka mendapatkan waktu tidur yang cukup selama kurang lebih 9 jam.
• Dampak Kualitas Tidur: Dengan kualitas tidur yang optimal, MAZ bahkan mencatat scabies hampir tidak ditemukan, karena kekebalan tubuh santri terjaga dengan baik.
4. Pengembangan Karakter dan Akhlak dalam Ekosistem Digital
Teknologi, baik positif maupun negatif, memiliki pengaruh besar pada pengembangan karakter. MAZ menyadari tantangan ini dan menjadikannya sebagai prioritas pendidikan.
• Smart TV untuk Edukasi Positif: Penggunaan Smart TV dimanfaatkan untuk edukasi, termasuk permainan seperti TTS (Teka-teki Silang), sebagai alternatif positif teknologi.
• Pendidikan Holistik dan Kesadaran Ekologis: Langkah-langkah pengembangan teknologi dilakukan seiring dengan pendidikan karakter, membangun kesadaran ekologis, filosofi sosial, dan integritas.
MAZ memandang teknologi informasi bukan hanya sebagai alat kontrol atau komunikasi, tetapi sebagai platform pembelajaran dan layanan digital yang efisien dan transparan, tanpa pernah melepaskan diri dari nilai-nilai pendidikan yang diidamkan.
Penutup: Mencetak Generasi Kontemporer yang Berimbang
MAZ mewujudkan keseimbangan kontemporer antara semangat pesantren yang kuat dan sistem modern yang adaptif. Tujuan utamanya adalah mencetak generasi yang cerdas secara digital, kuat secara karakter, serta memiliki pengalaman dan akhlak yang matang.
Dengan memprioritaskan kualitas tidur, komunikasi terstruktur, dan pendidikan ICT yang mendalam dan kreatif, MAZ membuktikan bahwa modernisasi sistem dapat berjalan selaras dengan penguatan mentalitas dan karakter. Mereka bertekad agar santri tidak hanya 'selesai' dalam belajar, tetapi juga mampu menggali informasi, beradaptasi, dan berprestasi dalam berbagai bidang, seperti melalui ekstrakurikuler jurnalistik dan KTI (Karya Tulis Ilmiah), menciptakan tenaga kerja, dan pemimpin yang siap menghadapi tantangan zaman. (Amri-untuk Indonesia)



