الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

BMKG: Cuaca Kering Makin Dominan, Yakin masih ada Hujan?

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

lognews.co.id – Memasuki musim kemarau 2026, sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami penurunan curah hujan. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah akibat pengaruh dinamika atmosfer yang masih aktif.

Mayoritas Wilayah Mulai Didominasi Cuaca Kering

Dalam prakiraan Potensi Hujan Indonesia periode 7 hingga 13 Juli 2026, BMKG menyampaikan sekitar 72,19 persen wilayah Indonesia diperkirakan berada pada kategori curah hujan rendah. Sementara itu, 27,80 persen wilayah lainnya masih berada pada kategori curah hujan menengah. Pada periode tersebut, tidak ada wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan tinggi maupun sangat tinggi.

"Pada Dasarian I Juli 2026, sekitar 72,19 persen wilayah Indonesia diprediksi berada pada kategori curah hujan rendah, sementara 27,80 persen lainnya berada pada kategori menengah, tanpa wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan tinggi maupun sangat tinggi," tulis BMKG dalam laporan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 7 hingga 13 Juli.

Kondisi tersebut menunjukkan musim kemarau semakin meluas di berbagai wilayah, terutama di Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Mengapa Hujan Masih Terjadi Saat Musim Kemarau?

BMKG menjelaskan, musim kemarau tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Masih adanya aktivitas atmosfer menyebabkan sejumlah wilayah tetap berpeluang mengalami hujan, bahkan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam skala lokal.

Daerah yang masih berpotensi diguyur hujan kategori menengah meliputi sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, sebagian Maluku, serta kawasan pegunungan Papua.

Fenomena tersebut dipengaruhi oleh sejumlah sistem atmosfer yang masih aktif di Indonesia.

Gelombang Atmosfer Memicu Pertumbuhan Awan

BMKG menyebut Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 7 masih memberikan pengaruh terhadap wilayah pesisir utara Aceh.

Selain itu, Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di Kepulauan Riau, pesisir utara Riau, Kalimantan, pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.

Di sisi lain, Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi memengaruhi wilayah Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Aktivitas tersebut meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di sejumlah daerah.

Sirkulasi Siklonik Ikut Berperan

Selain gelombang atmosfer, BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatra. Kondisi ini berpotensi memicu perlambatan, pertemuan, dan belokan angin yang mendukung proses pembentukan awan hujan.

Fenomena serupa juga diprakirakan terjadi di Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, hingga Papua Barat.

"Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan, sehingga masih menyebabkan potensi hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia tengah berada pada periode musim kemarau," terang BMKG.

Curah Hujan Tertinggi Tercatat di Lima Provinsi

Berdasarkan data pemantauan BMKG pada awal Juli 2026, curah hujan harian tertinggi tercatat di Sumatra Barat dengan 156 milimeter per hari. Disusul Sulawesi Utara sebesar 151 milimeter per hari, Sumatra Utara 90 milimeter per hari, Kalimantan Utara 84 milimeter per hari, dan Maluku Utara mencapai 57 milimeter per hari.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memperhatikan perkembangan prakiraan cuaca di wilayah masing-masing. Meski musim kemarau telah berlangsung di sebagian besar Indonesia, potensi hujan lokal masih dapat terjadi dan berisiko memicu genangan, banjir sesaat, maupun gangguan aktivitas di sejumlah daerah.

 

 (Sahil untuk Indonesia)