Wednesday, 04 February 2026

Danantara Ungkap Potensi Kerugian BUMN Capai Rp50 Triliun per Tahun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkap potensi kerugian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mencapai sekitar Rp50 triliun per tahun. Kerugian tersebut terdiri dari kerugian langsung sebesar Rp20 triliun dan kerugian tidak langsung sekitar Rp30 triliun.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa kerugian tidak langsung terjadi akibat inefisiensi di tubuh BUMN dan anak-anak perusahaannya. Menurutnya, struktur bisnis yang berlapis serta transaksi internal yang tidak efisien menjadi salah satu penyebab utama pembengkakan kerugian.

“Total akumulasi kerugian anak-anak perusahaan BUMN dalam satu tahun sekitar Rp20 triliun. Itu kerugian langsung yang tercantum dalam laporan laba rugi perusahaan. Sementara kerugian tidak langsung akibat layering transaction dan inefisiensi mencapai sekitar Rp30 triliun,” ujar Dony dalam Investor Daily Round Table di Jakarta, Rabu (28/1).

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah melalui Danantara berencana melakukan konsolidasi BUMN guna meningkatkan efisiensi kinerja. Dari lebih dari 1.000 BUMN dan anak usaha yang beroperasi saat ini, jumlahnya akan disederhanakan menjadi sekitar 300 perusahaan.

Konsolidasi akan dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari merger antarperusahaan hingga penutupan entitas usaha tertentu. Meski demikian, Dony menegaskan bahwa langkah tersebut tidak akan disertai pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Total biaya tenaga kerja hanya sekitar Rp2 triliun. Lebih baik menyelesaikan kerugian Rp20 triliun dengan tetap menyerap tenaga kerja yang ada,” tambahnya.

Proses konsolidasi akan dilakukan secara bertahap karena membutuhkan energi dan waktu yang besar. Pada tahun sebelumnya, pemerintah telah menyelesaikan sedikitnya 21 persoalan, termasuk penataan industri gula, penyehatan Waskita Karya, serta restrukturisasi Krakatau Steel.

Danantara juga menerapkan pembenahan pada Garuda Indonesia dan Citilink sebagai bagian dari reformasi menyeluruh. Hasilnya, seluruh anak usaha Garuda dilaporkan telah berada dalam kondisi ekuitas positif. Citilink yang sebelumnya mengalami kerugian signifikan diproyeksikan mencatat kinerja positif dalam dua tahun ke depan, dengan estimasi keuntungan sekitar 6–9 juta dolar AS.

Pengungkapan potensi kerugian BUMN ini menegaskan besarnya tantangan restrukturisasi perusahaan pelat merah sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah untuk mempercepat konsolidasi dan reformasi tata kelola BUMN. (Amri-untuk Indonesia)