Friday, 06 February 2026

Kadu Hideung: Duri Hitam Berkelas, Dari Tanah Al Zaytun untuk Indonesia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminuloh 

lognews.co.id - Di Al Zaytun, durian Duri Hitam tak sekadar dibicarakan sebagai komoditas. Ia diangkat martabatnya, dari buah premium bernilai fantastis menjadi ikon lokalitas yang berakar kuat di tanah sendiri. Di sinilah nama itu lahir: Kadu Hideung (Bahasa Sunda yang berarti Durian Hitam). Sebuah penamaan yang sederhana, membumi, dan sarat makna, namun menyimpan visi besar tentang kemandirian ekonomi berbasis pertanian berkelas.

Sebagai produk global, Duri Hitam (Black Thorn) dikenal di pasar Asia sebagai durian elite. Harganya tinggi karena kualitasnya konsisten: daging tebal, kering, creamy, rasa gurih yang tidak berlebihan, aroma bersih, dan aftertaste yang awet. Ia bukan durian “ramai”, melainkan durian matang ,kelasnya jelas, segmennya tegas. Di Al Zaytun, karakter itu dipertahankan, bahkan diperkaya dengan pendekatan agronomi yang terencana.

Kadu Hideung

Rencana besar itu kini terhampar nyata: 32.000 pohon Kadu Hideung akan ditanam di lahan Al Zaytun. Polanya rapi dan terukur, setiap satu hektar lahan ditanami 100 batang durian. Ini bukan kebun coba-coba, melainkan sentra produksi yang sejak awal dirancang untuk skala besar, mutu seragam, dan kesinambungan panen. Dengan pendekatan ini, Al Zaytun memposisikan diri sebagai pemasok yang siap memenuhi pasar, bukan sekadar ikut arus tren.

Keistimewaan tak berhenti pada durian. Di sela-sela barisan Kadu Hideung, diterapkan tumpang sari kopi Arabika dan Liberika. Dua varietas kopi dengan karakter berbeda itu ditanam untuk menciptakan ekosistem kebun yang hidup. Secara ekologis saling menguatkan, secara ekonomi saling melengkapi. Bayangkan satu pengalaman utuh: makan durian premium berpadu dengan seduhan kopi pilihan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

durian hitam pak dirut

Momentum peneguhan rasa dan keyakinan itu hadir pada Jumat, 26 Desember 2025. Syaykh menyajikan lima buah durian Duri Hitam sebagai tester di ruang khas. Para eksponen, kepala sekolah, dan peserta yang biasa hadir mencicipi. Masing-masing mendapat satu potong. Reaksinya nyaris seragam: gurih, tidak terlalu manis, creamy, daging kering tidak lengket, aroma tidak menyengat, lembut namun berisi. Rasa yang settled. Rasa yang pantas disebut berkelas.

Di momen itulah, wacana penamaan dilontarkan. Syaykh menyebutnya dengan bahasa lokal: Kadu Hideung. Bukan sekadar alih bahasa, tetapi pernyataan identitas. Bahwa produk global dapat berakar pada lokalitas. Bahwa tatar Sunda bukan hanya lahan tanam, melainkan ruang budaya yang memberi nama, makna, dan arah.

Dengan Kadu Hideung, Al Zaytun, melalui ekosistemnya, tidak sedang menghapus identitas Duri Hitam, melainkan mengindonesiakannya. Ia tetap durian berkelas dunia, dengan harga premium yang pantas.

Namun kini ia punya cerita, punya tanah, dan punya nama. Dari kebun-kebun terukur, dari hantar ke hantar yang disiplin, dari kopi yang tumbuh di sela-selanya, hingga meja cicip di hari Jumat, semuanya menyatu dalam satu narasi: kedaulatan rasa dan ekonomi.

Dan dari tanah Al Zaytun, Kadu Hideung bersiap melangkah sebagai Duri Hitam berkelas, bercita rasa Nusantara. (Amri-untuk Indonesia)