Saturday, 07 February 2026

Menjemput 2026: Mahakarya "Emas Hijau" dan Filosofi Akar Jati di Al-Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 Oleh: Ali Aminulloh (Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun)

lognews.co.id - Jumat, 26 Desember 2025. Langit di atas Ma'had Al-Zaytun tampak bersih, seolah ikut bersiap menyambut pergantian tahun yang tinggal lima hari lagi. Di hadapan jamaah Masjid Rahmatan Lil Alamin, pada acara Dzikir Jumat, Syaykh Al-Zaytun berdiri membawa peta masa depan. Bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan sebuah roadmap kerja nyata yang akan mengubah wajah bumi Ma'had menjadi hamparan "Emas Hijau" yang terukur dan bernilai ekonomi tinggi.

Roadmap Presisi: Menata Garis di Atas Lahan

Syaykh memulai taushiyahnya dengan penekanan pada ketepatan waktu. "Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Semua penataan lahan dan tanaman di tahun 2025 harus diselesaikan dengan garis yang tepat," tegas beliau. Beliau menginginkan setiap jengkal tanah memiliki catatan historis yang jelas: mana yang rampung di tahun 2025 dan mana yang menjadi tonggak sejarah tahun 2026.

Visi besar ini terbagi dalam dua zona utama:

1. Zona Dalam Kampus (50 Ha): Meliputi pembersihan lahan di sisi selatan dan utara. Kawasan yang dulu pernah menjadi kebun jeruk namun beralih menjadi sawah, kini akan dikembalikan fungsinya menjadi perkebunan produktif. Kawasan Kebun Jati seluas 40 hektar akan diintegrasikan untuk mencapai target 5.000 pohon durian.

2. Zona Luar Kampus (100 Ha): Terpusat di Blok Ciputat. Syaykh menargetkan seluruh kawasan ini tuntas di tahun 2026. Bahkan kawasan Haji Sali (kebun pisang) yang sebelumnya terpapar virus pisang akan direlokasi ke selatan Jalan Remontada, mengubah kawasan tersebut menjadi kebun durian baru yang segar.

Secara khusus, Syaykh menugaskan Sdr. Abdul Halim untuk memimpin penataan di sepanjang Jalan Remontada, memastikan setiap sudut lahan tertata sesuai garis instruksi.

Manajemen "Rumah Singgah" dan Keajaiban Akar Jati

Al-Zaytun tidak hanya menanam pohon, tapi membangun peradaban di atas lahan tersebut. Syaykh menginstruksikan pembangunan infrastruktur pendukung yang mumpuni. Di setiap 10 hektar lahan, akan berdiri satu Saung Kontrol, dan di setiap 20 hektar akan dibangun sebuah Rumah Singgah yang layak huni.

Uniknya, material bangunan ini berasal dari kekayaan mandiri. "Gunakan kayu jati dari lahan kita. Potong di sini, siapkan, lalu tinggal pasang di lokasi," instruksi Syaykh.

Kecintaan Syaykh pada nilai estetika dan manfaat juga terlihat dari instruksinya mengenai pembersihan lahan. Pohon-pohon hutan atau jati yang sudah ratusan tahun akan dipanen secara terhormat. Beliau bahkan memerintahkan pengadaan bucket beko khusus untuk menggali akar jati tanpa memotongnya.

 "Akar jangan ada yang dipotong. Saya pernah membeli akar jati yang dianggap kayu bakar, lalu kita ubah menjadi kursi yang indah," kenangnya, mengingatkan bahwa di tangan yang tepat, sesuatu yang dianggap limbah bisa menjadi karya seni bernilai tinggi.

Kadu Hideung: Perkawinan Durian dan Kopi Linggarjati

Inti dari proyek ini adalah sinergi antara Durian dan Kopi. Syaykh telah melakukan riset mendalam terhadap lebih dari 1.000 batang kopi Robusta dan Liberika. Meski Liberika menunjukkan hasil buah yang penuh, Syaykh memberikan perhatian khusus pada Robusta "Linggarjati" yang akan menjadi komoditas unggulan di bawah naungan pohon durian.

Istilah "Kadu Hideung" (KH) atau Durian Hitam nantinya akan menjadi nama yang di cari. Syaykh sengaja memilih nama-nama yang memancing rasa penasaran, sebuah strategi komunikasi agar dunia bertanya-tanya tentang kemandirian Al-Zaytun.

Secara matematis, Syaykh memaparkan potensi ekonomi yang dahsyat: 

"Jika dari 300 hektar lahan, minimal 150 hektar ditanam kopi dengan kerapatan tertentu, maka potensi panen bisa mencapai angka yang fantastis, bahkan dengan estimasi hasil minimal sekalipun" .

Menutup Tahun dengan Doa dan Kerja

Taushiyah ini menjadi pengingat bahwa ibadah tidak hanya di atas sajadah, tapi juga di atas tanah yang digarap dengan sungguh-sungguh. Tahun 2025 akan ditutup dengan penyelesaian garis-garis lahan, dan 2026 akan dibuka dengan semangat menanam demi kedaulatan pangan.

"Allahumma barik lana fima razaqtana..." Doa itu mengalun, menutup pertemuan, namun membuka semangat baru bagi seluruh penghuni Ma'had untuk menjemput fajar 2026 dengan kerja keras yang terukur. (Amri-untuk Indonesia)