Wednesday, 25 February 2026

Anggota Jemaah Kabatullah Indonesia (JKI) Merenungkan Pesantren Segede Begini Masih Mengharap Istighosah

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id- Anggota JKI (Jamaah Kabatullah Indonesia), Ust Ahmad Royani asal Bugis Tua, Indramayu:

Jemaah Kakbatullah Indonesia dibentuk oleh Syaykh Al-Zaytun. Syaykh Panji Gumilang berhasil mendapatkan hati masyarakat yang merasa tersentuh dengan ajaran dan takjub dengan penerapannya sehingga menjadi inspirasi sebagai muslim yang ingin lebih dekat dengan Tuhan melalui Al Qur’an, sekaligus diajarkan bagaimana mengaktualisasikan prinsip-prinsip nilai-nilai kehidupan.

Awalnya pada tahun 2015, Ust Ahmad Royani diajak oleh temannya dari desanya yang sudah membawa dua mobil berisi jamaah yang ingin ke Al-Zaytun. Namun entah mengapa rombongan itu terhenti di desanya dan tidak melanjutkan perjalanan. Temannya kemudian mendatanginya dan berkata, “Kalau tidak ada yang menerima 7 kambing, lalu siapa yang memprosesnya?” Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan pergi ke Ma’had Al-Zaytun dengan tujuan beristighosah.

Ia kembali melamun dan tertegun melihat banyak warga desa Indramayu yang sudah tidak muda, sekitar 350 orang, berkumpul di kediaman Syaykh di Al-Zaytun.

Banyak masyarakat dari wilayah sekitar seperti Bugis Tua, Anjatan, Indramayu ikut kegiatan istighosah dan merasa terbantu oleh Ma'had tersebut.

Ia merasakan biasanya hanya memanjatkan asmaul husna dan asmaunnabi, namun istighosah Al-Zaytun tertata dengan sambutan, wejangan, dan ajakan “hayuk makan,” lalu diberi makan kotak dengan lauk daging yang empuk dan enak. Ia bertanya dalam hati, “Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Al-Zaytun yang sudah besar ini?”

Ia juga melihat Syaykh Panji Gumilang dan berbicara dalam hati, “Ya Allah, ini orang baik banget.”

Ia heran mengapa pesantren sebesar ini masih membutuhkan istighosah dari orang yang sudah sepuh yang dikumpulkan, dan mau mengajari Al Qur’an serta memberinya makan dengan keramahan. Allah SWT memberikan jawaban bahwa jangan melihat fisik, tapi lihat bagaimana kesungguhan orang tersebut dalam bermunajat kepada Allah SWT.

Sempat muncul pikiran kecil, mengapa Al-Zaytun mau bersusah payah mengeluarkan biaya dan tenaga berapa lama membuat kotak makan kertas, berapa lama memasaknya, dan berapa biayanya?

Kekaguman berikutnya muncul saat ia merasakan di pesantren hanya diajarkan istighosah lalu berakhir, namun di Al-Zaytun selain ada sambutan, juga ada wejangan yang mengupas isi Al Qur’an dan bagaimana Al Qur’an dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehingga mensejahterakan.

Ia heran, “Kok Al-Zaytun bisa mengaplikasikan Al Qur’an?”

Sejak itu ia bertekad dan hampir tidak pernah absen mengikuti acara JKI, baik mingguan, bulanan, maupun tahunan.

Apa yang dikatakan temannya benar-benar terbukti. Ia kembali ke desa Bugis Tua membawa tujuh kambing sebagai bentuk syukur karena selama ini merasa tidak mampu memberikan kambing, kini berkesempatan menjadi tangan Al-Zaytun untuk memberikan kepada masyarakat Bugis Tua.

Ahmad Royani mengatakan ini bukan kunjungan pertamanya ke Al-Zaytun. Sejak dua kali kunjungan Presiden ke-3, BJ Habibie, ke Al-Zaytun pada tahun 2004 dan 2006 ketika gedung wisma tamu AL-Ishlah dibangun dan sebelum berdirinya masjid terbesar Asia Tenggara Rahmatan lil alamin, ia sudah datang dua kali saat awal pendirian.

Sesampainya di sana ia tertegun dan belum sadar secara pemikiran dan logika, lalu timbul pertanyaan, “Apa yang diberikan dan bagaimana cara mendidik pelajarnya yang tersebar di tempat seluas ini?” Dalam hatinya berkata, “Ini pasti ada orang yang cerdas mendidik Indonesia sehingga mampu membuat tempat pendidikan ‘segede gedenya’,” ujarnya.

Ia juga kagum dengan hadirnya tamu pejabat seperti anggota DPR dan DPRD RI yang menanam pohon atas nama mereka, menyimpulkan bahwa yang bisa mengumpulkan sebanyak itu pasti memiliki keilmuan dan disiplin yang tinggi.

Ia teringat pesantren yang pernah ia tinggali, bangunannya pun tidak semegah wisma tamu Al-Ishlah di Al-Zaytun. Ada stadion besar, lapangan bola Palagan Agung. Ia berpikir, “Orang seperti apa yang bisa menata rapi seperti ini? Pasti luar biasa,” katanya.

Sudah beberapa kali ia bertanya langsung kepada pelajar dari PAUD hingga mahasiswa tentang apa yang diajarkan. Ternyata kurikulumnya sama dengan berkarakter baik, mengajarkan toleransi dan sikap berdamai selalu, sehingga yakin tidak ada hal-hal aneh.

Dalam pengalamannya, ia pernah diancam agar meninggalkan Al-Zaytun jika masih ingin berguna dan sering diundang masyarakat. Ia menjawab lantang, soal apakah dirinya akan dipakai lagi di kampung itu urusan Allah SWT, tapi urusan kebenaran adalah hak Allah, “Al-Haqq Mir Rabbika”, jangan pernah meragukan kebenaran Tuhan.

Ia tidak peduli mau dibilang apa, terserah, karena Allah sudah memberikannya yang terbaik, sebaik-baiknya makhluk.

Ia menegaskan bahwa dirinya tahu sebenar-benarnya karena sudah menjadi orang yang selalu dekat dengan Al-Zaytun. Ia mengatakan, “Apakah kamu pernah ke Al-Zaytun? Jika belum, siap-siap mengantar dengan motor, bila mengantuk silakan tidur nanti sampai. Pulang pun diantarkan kalau mengantuk sampai rumah. Lihatlah di sana dengan pikiran yang baik, kalau niatnya baik maka akan diterima dengan baik,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa jika ada warga yang masih meragukan Al-Zaytun, apabila mereka meminta makan selama 3 bulan penuh dengan alasan, maka akan diberikan oleh Al-Zaytun.

Dengan demikian segala pertanyaan dan tuduhan terhadap Al-Zaytun akan hilang meski warga bingung karena berbeda jauh antara apa yang diberitakan desas-desus dan apa yang didengarnya langsung dari anggota JKI.

Alasan yang membuatnya kuat dan rekat dengan Al-Zaytun adalah terbukanya wawasan bahwa Alquran bisa direalisasikan dalam hidup sehari-hari. Kewajiban muslim bukan hanya mempelajari dan mendalami, tetapi juga melaksanakan Alquran.

Untuk itu peran JKI sangat dibutuhkan karena masih banyak orang yang enggan untuk tahu bagaimana Al-Zaytun dan apa yang dilakukan oleh Al-Zaytun.

Royani mengingatkan khalayak untuk menghilangkan keraguan dalam memandang Al-Zaytun. Di sana masih islam, tahlilan, Allah Tuhannya, Nabi Muhammad nabinya, menganut madzhab yang mereka ikuti.

Lalu ia mengajak masyarakat untuk introspeksi diri mengenal dalamnya Al-Zaytun karena di dalamnya ada komunitas Islam yang bersatu, manusia didahulukan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Ia mengatakan Ma’had Al-Zaytun dan JKI tidak hanya mendidik membaca dan menulis, tetapi mengubah karakter jelek menjadi karakter hasanah di seluruh Indonesia.

Ia mendoakan agar semua usaha dan amalan yang dilakukan menjadi pahala yang tidak terputus-putus.

Ia juga mendoakan agar Syaykh Al-Zaytun yang ia hormati selalu diberi kesehatan untuk terus mendengungkan ilmu Allah mendidik Indonesia menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun ghaffur. (Amri-untuk Indonesia)