lognews.co.id, Indonesia - Kiyai Kumaedi, tokoh masyarakat dari desa Gedangan, Kecamatan Sukagumiwang, Indramayu, Sebagai Kepala Bidang Dakwah JKI, Menekankan pentingnya merangkul semua lapisan masyarakat, dari kaya sampai miskin, sesuai teladan Nabi dan semangat kerukunan umat Islam, yang juga tercermin dalam bahasa kiasan khas daerah Indramayu. Pembentukan JKI selama 10 tahun telah berfokus mempererat ukhuwah mengacu pada teladan Nabi Muhammad, sambil tetap waspada terhadap fitnah dan hoaks di media sosial
Ia berpesan agar tidak mudah arogan, selalu melakukan tabayun (klarifikasi), dan menjauhi prasangka buruk yang dapat menjerumuskan pada dosa. Ia mengingatkan pentingnya membangun rumah tangga serta komunitas dengan sikap terpuji, menggunakan bahasa santun, berpikir positif, dan mengambil pelajaran dari Ma’had Al-Zaytun.
Saat wawancara bersama wartawan senior lognewsTV , Handy Nasty Ia mengingatkan agar jangan sampai terjebak dalam dosa hanya karena ketidaktahuan dan ikut-ikutan menyudutkan Al-Zaytun.
Kyai Kumaedi juga mendoakan agar Syaykh selalu diberi kesehatan, perlindungan, dan keberkahan, serta menjadi teladan dalam menjalani pola hidup sehat—mulai dari makan bergizi, olahraga rutin, hingga istirahat cukup, khususnya di usia lanjut.

Di sisi lain, Drs. H. Ibrahim, Kepala Bidang Humas JKI asal Tuk Dana, Indramayu, menjelaskan posisi strategis JKI sebagai satu kesatuan kuat dan tak terpisahkan dalam membina ukhuwah diniyah, wathaniyah, dan insaniyah sesuai dengan nilai rahmatan lil alamin.
Ia menyampaikan bahwa para pengurus dan anggota JKI banyak belajar dari Ma’had Al-Zaytun dalam pembinaan keagamaan dan sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari, dilandasi nilai istiqomah, tawadhu, dan disiplin.
Tugas sosial JKI meliputi berbagai program rutin seperti bakti Ramadhan, qurban, pengajian, tahlilan, silaturahim, dan sosialisasi nilai Islam serta Al-Qur’an yang diterapkan secara nyata, bukan hanya formalitas semata.
Namun, tantangan masih ada, seperti penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab di media sosial dan kurangnya pemahaman masyarakat luas tentang Al-Zaytun dan JKI.
JKI dan Ma’had Al-Zaytun menonjolkan nilai sosial berbasis keislaman dengan pimpinan Syaykh sebagai uswatun hasanah—figur teladan dalam disiplin dan dermawan.
Meski pandemi membawa perubahan, JKI tetap menyesuaikan kegiatan keagamaan seperti taklim dan shalat berjamaah serta menjaga persatuan walau ada perbedaan furu (cabang hukum).
Peran humas JKI sangat vital dalam memperkenalkan Al-Zaytun, menjelaskan bahwa keislaman di pesantren ini bukan sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan juga mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kurun waktu 11 tahun, JKI telah bertransformasi dari pengikut biasa menjadi aktivis aktif yang menggali serta mengaplikasikan ilmu Al-Qur,an sebagai ajaran yang mendalam dan diaplikasikan ke masyarakat luas.
Anggota JKI di wilayah Indramayu, Cirebon, Banten dan terus berkembang diwilayah lainnya mengenal dan aktif mengikuti program Al-Zaytun, dan selalu menyuarakan mengenai Pendidikan di Al Zaytun.
Dukungan dan harapan besar mengarah pada Al-Zaytun dan JKI agar makin kuat dan kokoh, menjadi model pendidikan dan pembinaan Islam yang mengutamakan akhlakul karimah, memberi manfaat luas mulai dari umat Muslim hingga non-Muslim di seluruh Indonesia. (Amri-untuk Indonesia)



