Disarikan dari Qabliyah Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminuloh
lognews.co.id — Setiap Jumat pagi di Ma'had Al-Zaytun, sebelum azan berkumandang, sebuah forum koordinasi dan komunikasi bernama Qabliyah Jum'at menjadi jantung pemikiran strategis lembaga pendidikan ini. Lebih dari sekadar pertemuan biasa, momen ini adalah sarana bagi Syaykh A. S. Panji Gumilang untuk memantik perubahan, dan pada 24 Oktober 2025, titik berat perubahan itu jatuh pada satu kata: vokasi.

Di hadapan para eksponen, dosen, guru, hingga perwakilan pelajar, koordinator wali santri dan unit pendukung pendidikan, Syaykh Panji Gumilang melontarkan kritik pedas namun konstruktif terhadap sistem pendidikan nasional. Ia menyebut hasil pendidikan yang ada sebagai "tidak seimbang" dan berujung pada "kinerja nol", mengacu pada minimnya luaran praktis dan kegagalan Indonesia meraih Hadiah Nobel, sebuah pencapaian yang bahkan telah diraih negara-negara Asia Selatan.
> "Pendidikan itu harus berpasangan, seimbang. Mengapa kita hanya menghasilkan ahli teori, tetapi bukan teknokrat?" tanyanya, merujuk pada tafsir filosofis Surat Ar-Rum ayat 21.
Politeknik AIR: Ketika Teori Tunduk pada Tangan Terampil
Jawaban Syaykh Panji Gumilang terhadap kritik ini adalah melahirkan Politeknik Tanah Air (AIR), singkatan dari Tanah Al Zaytun Indonesia Raya. Ini bukan sekadar penambahan lembaga, melainkan penegasan filosofi baru: pendidikan terapan harus mendominasi.

Politeknik AIR didesain dengan proporsi kurikulum yang radikal: 70% Praktik dan 30% Teori. Sebuah pergeseran paradigma yang bertujuan membentuk lulusan menjadi teknokrat—individu yang bekerja berlandaskan ilmu dan keterampilan riil, bukan sekadar akademisi.
Visi ini didukung oleh lima program studi inti yang berorientasi pada kemandirian pangan dan ekologi: Agronomi/Pertanian, Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan yang paling krusial, Teknik Mesin. Teknik Mesin diposisikan sebagai "jantung" yang memastikan semua sektor berjalan menuju pertanian dan peternakan presisi.
Dari "Ide Gila" Hingga Mars Kebanggaan
Filosofi praktik ini diterjemahkan dalam aksi nyata. Syaykh Panji Gumilang menginstruksikan bahwa semua peralatan pertanian yang dibutuhkan di Ma'had Al-Zaytun harus diciptakan sendiri oleh mahasiswa Politeknik melalui metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Ini adalah penolakan terhadap mentalitas impor dan seruan untuk inovasi mandiri.
Salah satu ide yang disebut Syaykh sendiri sebagai "Ide Gila Dzu Jinnah" adalah rencana pembelian alat berat Super Big Jhon senilai Rp. 11,5 Miliar. Alat ini penting untuk memindahkan pohon-pohon besar berdiameter 25-30 cm tanpa menebang, sejalan dengan program studi kehutanan yang mewujudkan prinsip pembangunan yang berbasis pada pelestarian, bukan penghancuran.

Di tengah diskusi mengenai strategi pembangunan dan pendanaan kolektif (melalui kenaikan Ihsan untuk pembangunan), suasana forum tiba-tiba berubah menjadi penuh semangat kebangsaan.
Syaykh memerintahkan Tim Paduan Suara Pelajar Al-Zaytun untuk tampil di hadapan peserta. Mereka diminta menyanyikan Hymne dan Mars Politeknik, serta Mars Universitas Al Zaytun (UAZ).
> Syaykh menegaskan bahwa Mars UAZ yang dinyanyikan, jangan IAI, karena IAI "jembatan cita-cita" menuju UAZ.
Momen tersebut, di mana lagu-lagu visi kelembagaan baru dikumandangkan, adalah penegasan identitas dan komitmen yang mendalam. Kebiasaan ini bahkan diresmikan menjadi agenda rutin di setiap Qabliyah Jum'at—sebuah cara untuk menanamkan semangat vokasi, teknokrasi, dan cita-cita universitas ke dalam sanubari setiap pelaku didik dan pengelola.
Ini adalah perwujudan dari pendidikan kontemporer, yang menjawab tantangan zaman dan mengintegrasikan ilmu dengan amal. Seperti teguran dalam Surat As-Saff ayat 2: "Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?"
Di Al-Zaytun, teori tidak lagi sekadar diucapkan. Ia harus diwujudkan di lahan, di bengkel, dan di tangan terampil para calon teknokrat Indonesia Raya. Sebuah revolusi yang digerakkan oleh ilmu, keyakinan, dan lagu-lagu kebanggaan.



