Sunday, 01 March 2026

Revolusi dari Dapur: Bagaimana Ekoenzim Menjawab Krisis Lingkungan dan Menyatukan Dunia Akademis dengan Aksi Nyata

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id - Ma'had Al-Zaytun memiliki komitmen untuk melakukan transformasi revolusioner dari pendidikan berasrama konvensional menuju pendidikan modern abad XXI yang berbasis LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic, Spiritual). Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, sejak 1 Juni 2025, Al-Zaytun secara rutin menghadirkan para guru besar dari berbagai disiplin ilmu untuk berbagi wawasan dan pengetahuan. Pada sesi ke-19 yang diselenggarakan pada 19 Oktober 2025, hadir Prof. Hertien Koosbandiah Surtikanti, M.Sc., ES. Ph.D, seorang Guru Besar dalam bidang Ecotoxicology (Toksikologi Lingkungan) dari FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Beliau memaparkan materi mencerahkan tentang "Peranan Ekoenzim dalam Integrasi Tridharma Perguruan Tinggi dan Green Campus". 
 
Ekoenzim: Eliksir Ajaib dari Sampah Dapur, Solusi Krisis Lingkungan
Di tengah krisis lingkungan global yang semakin mendesak, inovasi sederhana seringkali menyimpan kekuatan terbesar. Salah satu inovasi tersebut adalah ekoenzim, sebuah cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik yang menjanjikan solusi praktis untuk masalah sampah sekaligus membuka jalan menuju gaya hidup minim limbah (zero waste). Prof. Hertien menjelaskan bahwa isu lingkungan, terutama volume sampah organik yang terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan pola konsumsi, adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya para ilmuwan. Ekoenzim hadir sebagai jawaban yang bisa diimplementasikan oleh siapa saja, dari dapur rumah tangga hingga skala institusi pendidikan.
 1000227537
Dari Dapur untuk Bumi: Apa Itu Ekoenzim dan Bagaimana Cara Membuatnya?
Pada dasarnya, ekoenzim adalah hasil fermentasi limbah organik rumah tangga, seperti sisa buah dan sayuran segar, dengan gula molase dan air3. Proses pembuatannya sangat sederhana dan mengikuti prinsip ekonomi sirkular4. Rumus dasarnya adalah perbandingan 1:3:10, yaitu 1 bagian gula molase, 3 bagian sisa buah atau sayuran, dan 10 bagian air.
 
Bahan baku yang disarankan adalah sisa organik yang masih segar, bukan yang sudah busuk. Kulit buah seperti nanas, jeruk, pepaya, dan semangka sangat direkomendasikan karena menghasilkan aroma yang segar dan proses fermentasinya baik. Sebaliknya, bahan yang menghasilkan banyak gas seperti kulit durian dan kol, atau yang cepat membusuk seperti kulit pisang, sebaiknya dihindari. Air yang digunakan pun sebaiknya air sumur atau air yang tidak mengandung kaporit, dan gula yang dipakai adalah molase (gula tebu murni) untuk menghindari bahan kimia seperti pemutih pada gula pasir yang dapat menghambat kerja bakteri baik.
 
Setelah semua bahan dicampur dalam wadah kedap udara, proses fermentasi berlangsung selama tiga bulan. Ekoenzim yang berhasil akan memiliki aroma asam segar seperti cuka, sedangkan jika gagal, akan berbau seperti selokan.
 
Tridharma Berbasis Ekoenzim: Solusi Akademik untuk Masalah Kolektif
Prof. Hertien menegaskan bahwa ekoenzim bukan hanya produk, melainkan juga platform strategis untuk mengintegrasikan Tridharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.
 
1. Pendidikan dan Pengajaran: Ekoenzim dapat menjadi media pembelajaran langsung yang menghubungkan teori dengan praktik. Mahasiswa dapat menggunakannya dalam praktikum mikrobiologi untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang berperan, atau dalam praktikum toksikologi lingkungan untuk menguji kemampuannya memperbaiki kualitas air.
 
2. Penelitian dan Pengembangan: Potensi riset terkait ekoenzim masih sangat luas. Penelitian dapat diarahkan untuk mengkaji jenis-jenis mikroorganisme spesifik yang berperan dalam fermentasi, mengevaluasi efektivitasnya sebagai pupuk organik pada berbagai tanaman seperti cabai, bayam, hingga hidroponik, serta menguji kemampuannya dalam mengurai polutan tertentu.
 
3. Pengabdian kepada Masyarakat (PkM): Ini adalah pilar di mana ekoenzim menunjukkan dampak paling nyata. Prof. Hertien membagikan pengalamannya memberdayakan ibu-ibu PKK, mendampingi kelompok tani di Purwakarta untuk membuat pupuk cair dan pestisida alami, hingga melakukan aksi penuangan ekoenzim serentak untuk memperbaiki kualitas air Situ Bagendit yang tercemar secara organik. Bahkan, PkM ini telah dibawa hingga ke komunitas masyarakat Indonesia di Bangkok dan Vietnam.
 
Multifungsi dan Berdampak Luas: Keajaiban Cairan Fermentasi
Keunikan ekoenzim terletak pada manfaatnya yang multifungsi.
Berdasarkan penelitian dan testimoni komunitas, cairan ini dapat digunakan sebagai:
 
• Pupuk Organik: Menyuburkan tanah tanpa merusak strukturnya seperti pupuk kimia.
• Pembersih Alami: Menggantikan produk pembersih lantai berbahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan
• Penjernih Air: Mengurai polutan organik di sungai, danau, dan kolam ikan.
• Penghilang Bau: Efektif mengurangi bau tidak sedap di sekitar kandang ternak.
• Pestisida Alami: Mampu membasmi hama putih pada tanaman
• Disinfektan: Berdasarkan pengalaman PMI di Bandung saat pandemi COVID-19, ekoenzim disemprotkan untuk mengurangi virus di udara.
 
Penggunaan ekoenzim secara masif sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam penyediaan air bersih dan sanitasi (SDG 6), kota berkelanjutan (SDG 11), dan penanganan perubahan iklim (SDG 13). Dengan mengubah sampah organik menjadi ekoenzim, kita turut mengurangi emisi gas metana (CH4), gas rumah kaca yang daya rusaknya lebih tinggi dari karbondioksida (CO2).
prof hertien ali
 
Epilog: Mengubah Sampah Menjadi Berkah, Sebuah Panggilan Aksi
Pemaparan Prof. Hertien Koosbandiah Surtikanti menyadarkan kita bahwa solusi untuk masalah lingkungan yang kompleks seringkali tersembunyi dalam kesederhanaan. Ekoenzim adalah bukti nyata bagaimana limbah, yang sering dianggap sebagai akhir dari sebuah siklus, dapat ditransformasikan menjadi awal dari sesuatu yang baru dan bermanfaat. Ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan sebuah gerakan sosial dan perubahan pola pikir.
 
Tantangan terbesar bukanlah pada proses pembuatan yang rumit, melainkan pada kemauan untuk memulai dan konsistensi untuk terus melakukannya. Membangun budaya memilah sampah dari sumbernya adalah fondasi utama yang masih perlu diperkuat di masyarakat. Ekoenzim adalah panggilan aksi bagi setiap individu, keluarga, dan institusi untuk mengambil peran aktif. Ini adalah cara kita mengubah sampah menjadi berkah, setetes demi setetes, untuk mewariskan bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang.