Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.
lognews.co.id, Indonesia - Apel pagi Selasa, 3 Februari 2026, di lingkungan pembangunan Politeknik Tanah AIR berlangsung dalam suasana yang berbeda. Aura kegembiraan, ketenangan, dan optimisme terasa kuat di antara para peserta apel. Dalam briefingnya, Ketua Pengawas Pembangunan Politeknik Tanah AIR, Ustadz Syaifudin, S.I.P., M.Pd., menegaskan bahwa suasana batin yang sehat akan melahirkan cara berpikir yang sehat, dan pada akhirnya menghasilkan kinerja yang sehat dan produktif. Pikiran yang positif bukan sekadar sikap mental, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban kerja dan pendidikan.
Dalam arahannya, Ustadz Syaifudin menekankan pentingnya sinkronisasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Selama ini keduanya kerap dipisahkan seolah berjalan di jalur yang berbeda, padahal sejatinya saling menguatkan. Dunia pendidikan, menurut beliau, tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu, tetapi juga pembentukan manusia seutuhnya. Merujuk pada konsep kompetensi pendidikan, ketercapaian pertama yang harus dibangun adalah afektif, kemudian psikomotorik, dan terakhir kognitif. Penekanan pada aspek afektif inilah yang sejak awal ditekankan oleh Syaykh Al Zaytun, karena tanpa karakter, ilmu dan keterampilan kehilangan arah.
Dalam dunia kerja, aspek psikomotorik atau keterampilan menjadi sangat dominan. Namun keterampilan tanpa karakter justru berpotensi melahirkan masalah baru. Karena itu, pendidikan vokasi seperti Politeknik Tanah AIR tidak hanya diarahkan untuk melahirkan tenaga terampil, tetapi juga manusia berkarakter kuat, beretika, dan berjiwa pengabdian.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah konsep IT dalam dunia kerja, bukan dalam arti Information Technology, melainkan Ikhlas dan Taat. Dua kata kunci ini disebut sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar. Orang yang tidak lulus pada ujian keikhlasan dan ketaatan, menurut beliau, tidak akan mampu membersamai perjuangan besar yang sedang dibangun. Ikhlas dimaknai sebagai kesanggupan untuk berkorban waktu, tenaga, dan harta yang dalam bahasa dunia kerja disebut sebagai dedikasi. Sedangkan taat dimaknai sebagai kepatuhan dan kesetiaan, yang dalam istilah profesional dikenal sebagai loyalitas.
Ketaatan dan loyalitas ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia diarahkan secara struktural dan berjenjang, bermuara pada figur kepemimpinan tertinggi, yaitu Syaykh Al Zaytun, dan diturunkan melalui jajaran pimpinan di bawahnya. Dengan demikian, sistem kerja yang dibangun bukanlah sistem chaos, melainkan sistem yang tertata, terarah, dan berlandaskan kepercayaan.
Namun keikhlasan dan ketaatan tidak akan pernah utuh tanpa satu nilai fundamental: integritas. Ustadz Syaifudin mengingatkan bahwa integritas berarti kejujuran dalam seluruh proses kerja. Datang paling akhir namun pulang paling awal, bekerja sekadar menggugurkan kewajiban, atau menampilkan citra tanpa substansi adalah contoh-contoh kecil dari runtuhnya integritas. Praktik kejujuran, menurut beliau, harus dibangun kembali bahkan direkonstruksikarena tanpa kejujuran, keikhlasan dan ketaatan hanyalah slogan kosong.

Pada akhirnya, briefing ini bukan sekadar arahan teknis pembangunan politeknik, melainkan penguatan visi tentang makna kesuksesan. Kesuksesan sejati bukan hanya soal capaian materi atau proyek fisik, tetapi tentang keselamatan diri, keluarga, dan generasi, serta kemampuan untuk terus membersamai perjuangan Syaykh Al Zaytun dalam membangun pendidikan dan peradaban. Dengan terus bersyukur, kenikmatan bukan hanya dipertahankan, tetapi akan Allah tambahkan.
Pembangunan Politeknik Tanah AIR, dengan demikian, bukan sekadar pembangunan institusi, melainkan pembangunan manusia berintegritas, yang siap menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja dengan nilai, etika, dan kemanusiaan sebagai poros utamanya. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



