lognews.co.id - Senin sore, 22 Desember 2025, Blok Harendong di Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, akan mencatatkan diri dalam ingatan sejarah Indramayu. Di hamparan tanah yang selama ini sunyi, sebuah tugu berdiri sebagai penanda titik nol kilometer Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Indramayu Barat. Bukan sekadar monumen, melainkan simbol keberanian menatap masa depan.
Peresmian titik nol ini dijadwalkan pukul 15.00 WIB dan akan dilakukan langsung oleh Lucky Hakim, Bupati Indramayu. Sejumlah tokoh pemerintahan, jajaran SKPD, akademisi, serta tokoh masyarakat diundang hadir. Upacara ini menjadi momen penting, saat mimpi panjang warga Indramayu Barat tidak lagi sekadar wacana, tetapi diberi koordinat yang nyata.
Dari Harapan ke Penanda Sejarah
Gagasan pemekaran Indramayu Barat lahir dari realitas sehari-hari. Kabupaten Indramayu yang membentang luas, dengan 31 kecamatan dan wilayah lebih dari 2.000 kilometer persegi, menyimpan tantangan besar dalam pelayanan publik dan pemerataan pembangunan. Di wilayah barat, jarak kerap menjadi penghalang. Bukan hanya jarak geografis, tetapi juga jarak akses dan perhatian.
Aspirasi itu datang dari wilayah barat Indramayu yang secara sosial dan geografis memiliki kedekatan satu sama lain. Sepuluh kecamatan yang secara global masuk dalam rancangan Indramayu Barat antara lain Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Terisi, Lelea, Sukra, Patrol, Kandanghaur, Gantar, Haurgeulis dan Bongas. Wilayah-wilayah ini diproyeksikan membentuk satu kesatuan daerah baru dengan luas sekitar 933 kilometer persegi. Luasan daerah yang cukup untuk berdiri mandiri dan mengelola potensinya sendiri.
Kroya, Titik Tengah yang Rasional
Penunjukan Kroya sebagai calon ibu kota Indramayu Barat bukanlah keputusan emosional. Kajian akademik dari Universitas Padjadjaran merekomendasikan wilayah ini karena letaknya yang strategis, relatif berada di tengah kawasan barat, serta memiliki ruang pengembangan yang memadai.
Pemerintah Kabupaten Indramayu menindaklanjuti rekomendasi tersebut dengan langkah konkret. Lahan disiapkan, lokasi ditinjau langsung oleh bupati, dan akhirnya ditetapkan sebagai kawasan titik nol kilometer. Tugu yang akan diresmikan hari ini menjadi simbol awal perencanaan kota, infrastruktur, dan arah pembangunan Indramayu Barat ke depan.
Antara Tekad Daerah dan Kebijakan Pusat
Perjalanan menuju daerah otonomi baru tentu tidak tanpa hambatan. Moratorium pemekaran wilayah yang masih diberlakukan pemerintah pusat menjadi tantangan utama. Di sisi lain, diskusi mengenai kesiapan fiskal dan dampak terhadap Indramayu induk juga terus bergulir.
Namun satu hal yang tak bisa disangkal: dorongan masyarakat dan komitmen pemerintah daerah tetap menyala. Persetujuan DPRD dan dukungan Gubernur Jawa Barat yang telah diberikan beberapa tahun lalu menjadi bukti bahwa Indramayu Barat bukan mimpi sepihak, melainkan agenda kolektif yang terus diperjuangkan.
Titik Nol di Lingkar Pendidikan
Di sekitar Kroya pula berdiri Ma'had Al-Zaytun, sebuah institusi pendidikan besar yang selama ini dikenal luas membawa nilai-nilai keilmuan, toleransi, dan perdamaian. Keberadaannya memberi konteks tambahan bahwa kawasan titik nol ini tidak hanya diproyeksikan sebagai pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga berada di lingkungan yang hidup dengan aktivitas pendidikan dan peradaban.
Kehadiran Al Zaytun menjadi catatan penting, bukan sebagai pusat cerita, tetapi sebagai latar yang memperkaya makna. Bahwa Indramayu Barat kelak diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai wilayah baru, melainkan sebagai daerah yang memuliakan ilmu, merawat harmoni, dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan.
Awal yang Bernama Titik Nol
Ketika tugu titik nol kilometer itu berdiri tegak di Harendong, ia sejatinya tidak menandai akhir perjuangan. Ia justru menjadi kalimat pembuka. Dari Kroya, dari titik nol ini, Indramayu Barat menatap masa depan dengan keyakinan bahwa suatu hari kelak, sejarah akan mencatat: di sinilah mimpi itu pertama kali dipancang dengan tenang, sederhana, namun penuh harapan.


