Oleh Ali Aminulloh
lognews.co.id - Indonesia tengah bergerak menyongsong 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045. Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas, Ma’had Al-Zaytun, sebuah institusi pendidikan berasrama, secara konsisten melakukan terobosan dengan menggagas transformasi revolusioner pendidikan, menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21.
Fokus Al-Zaytun tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga pada isu fundamental negara: Kedaulatan Pangan. Konsistensi tersebut diwujudkan melalui serangkaian pelatihan strategis yang menghadirkan para Profesor dari berbagai perguruan tinggi ternama..
Pada Sesi ke-23, tepatnya Ahad, 9 November 2025, pembahasan mendalam mengenai fondasi pangan nasional diselenggarakan. Pelatihan ini diisi oleh dua tokoh sentral yang mewakili dimensi ilmiah dan filosofis.
Sosok pertama adalah Prof. Dr. Momon Sidik Imanudin, S.P., M.Sc., Guru Besar Bidang Pengelolaan Air dari Universitas Sriwijaya Palembang, yang memaparkan strategi teknis pengelolaan sumber daya air dan lahan.
Sosok kedua adalah pimpinan Ma’had Al-Zaytun sendiri, Syaykh A.S. Panji Gumilang, S.Sos., MP., yang memberikan landasan spiritual, pendidikan, dan visi kelembagaan.
Sinergi antara ilmu terapan dan visi pendidikan ini menghasilkan sebuah cetak biru yang futuristik. Al-Zaytun tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan civitas kampus secara mandiri—sebuah praktik yang sudah lama menjadi model—tetapi juga mentransfer komitmen ini kepada anak didiknya melalui ekstrakurikuler pertanian nyata.
Visi ini kemudian dilembagakan melalui rencana pendirian Politeknik Tanah AIR (Al Zaytun Indonesia Raya). Peletakan batu penjuru politeknik yang dilaksanakan pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2028, oleh Bupati Indramayu, Bapak Lucky Hakim, menandai dimulainya era baru pendidikan pertanian yang modern.
STRATEGI PROF. MOMON: MENAKLUKKAN LAHAN RAWA
Keberhasilan sektor pertanian sangat bergantung pada unsur air. Unsur krusial ini bahkan telah diisyaratkan secara tegas dalam Al-Qur'an Surat Abasa (80): 24-32, yang menegaskan agar manusia merenungkan sumber makanan yang Allah sediakan.
Dalam sesi pelatihan, Prof. Dr. Momon Sidik Imanudin secara spesifik mengarahkan perhatian pada potensi nasional yang paling menantang: Lahan Rawa di luar Pulau Jawa.
Prof. Momon menjelaskan bahwa potensi Lahan Rawa ini sangat besar, tersebar luas dengan estimasi luasan mencapai 5 juta hektare. Jika berhasil dikelola dengan benar, lahan ini akan menjadi lumbung pangan raksasa.
Pemanfaatan lahan rawa ini strategis karena dapat menambah produksi hingga 10 juta ton beras dan berfungsi sebagai cadangan pangan nasional saat lahan irigasi di Pulau Jawa mengalami tekanan kekeringan atau alih fungsi lahan.
Namun, mengelola rawa bukanlah perkara mudah. Tantangan utamanya adalah masalah tata air yang ekstrem, di mana terjadi banjir saat musim hujan dan kekeringan saat kemarau.
Lebih lanjut, karakteristik tanah rawa seringkali bersifat masam dan mengandung racun tinggi, seperti zat besi, yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan.
Prof. Momon menggarisbawahi bahwa lahan jenis ini tidak bisa langsung ditanami. Diperlukan treatment khusus untuk perbaikan kualitas air dan tanah, yang bisa memakan waktu minimal satu tahun. Treatment ini termasuk penambahan kapur, dolomit, dan pupuk hayati untuk menetralisir racun dan keasaman.
Secara teknis, terdapat dua pendekatan: Adaptasi (tradisional, satu kali panen) dan Modifikasi Lingkungan. Prof. Momon menyarankan pendekatan modifikasi untuk hasil optimal.
Pendekatan modifikasi inilah yang melahirkan teknologi Sistem Mini Folder. Ini adalah rekayasa lingkungan skala luas yang melibatkan pembangunan tanggul keliling, saluran drainase, dan stasiun pompa untuk mengontrol debit air secara total.
Selain Mini Folder skala besar, Prof. Momon juga menawarkan solusi sederhana namun jenius: Tata Air Terkendali (Control Drainage).
Teknologi ini menggunakan pipa paralon yang dipasang seperti "leher angsa" di saluran pembuangan. Alat ini memungkinkan petani mengontrol muka air secara efektif.
Pipa ini dapat dipasang (diangkat) untuk menahan air hujan dan menjaga kelembaban tanah saat padi membutuhkan air. Sebaliknya, pipa dapat dilepas (diturunkan) untuk membuang kelebihan air saat menanam komoditas lain, memastikan saluran tidak benar-benar kering.
Inovasi ini memastikan air selalu tersedia dalam batas optimal, mengubah rawa yang tadinya beracun dan ekstrem menjadi sawah yang mampu panen hingga dua kali setahun.
Prof. Momon juga menekankan pentingnya partisipasi petani (participatory farmer) dalam Operasi dan Pemeliharaan (O&M). Kemitraan menjadi kunci keberlanjutan.
Dalam aspek keadilan ekonomi, Prof. Momon memperkenalkan konsep Operasi Perseribu. Ini adalah sistem insentif yang memastikan pemilik tanah ikut bekerja, menerima upah harian, di samping mendapatkan bagi hasil yang jelas dari keuntungan panen.
Sistem ini, menurut Prof. Momon, adalah model yang akan mengabadikan sustainable penghasilan di sektor pertanian, menciptakan jaminan kesejahteraan bagi para pelaku pangan nasional.

VISI SYAYKH PANJI GUMILANG: KECERDASAN DAN REVOLUSI PENDIDIKAN
Jika Prof. Momon memetakan jalan ilmiah di lahan, maka Syaykh A.S. Panji Gumilang menyajikan fondasi spiritual dan pendidikan untuk mencetak SDM pelaksana strategi tersebut.
Syaykh Panji Gumilang memulai dengan menegaskan kembali bahwa Kedaulatan Pangan adalah urusan ketuhanan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam sektor ini juga harus diukur dari keberkahan dan kualitas pangan (halalan toyyiban).
Dari sinilah muncul visi untuk mencetak minimal 75.000 ahli pertanian yang terdidik dan siap tempur. Ini adalah kebutuhan absolut bagi pertanian modern.
Untuk menjawab kebutuhan ini, Syaykh Panji Gumilang merumuskan kurikulum revolusioner bernama L-STEAMS. Ini adalah kurikulum multidimensi yang melampaui kurikulum pertanian biasa.
L-STEAMS adalah akronim dari Law (Hukum/Regulasi), Science (Ilmu Pengetahuan), Technology (Teknologi), Engineering (Rekayasa), Art (Seni/Estetika), Matematika (Perhitungan), dan Spiritual (Etika/Moral).
Syaykh Panji Gumilang memandang, petani masa depan harus menguasai Ilmu (Science), mampu merekayasa lingkungan (Engineering), mengelola data presisi (Matematika), dan memahami hukum pertanahan (Law).
Teknologi menjadi fokus utama. Syaykh Panji Gumilang menyatakan bahwa Politeknik Tanah AIR akan berbasis Internet of Things (IOT) dan merevolusi cara belajar.
Beliau menyebut perangkat digital pintar modern sebagai "malaikat di kantong". Metafora ini merujuk pada perangkat AI generatif yang berfungsi sebagai malak (kekuatan besar), mampu menjawab pertanyaan kompleks dan menyediakan data secara instan.
Syaykh Panji Gumilang menegaskan bahwa di era ini, proses belajar konvensional harus berhenti. Peserta didik harus diarahkan untuk memanfaatkan "malaikat di kantong" ini sebagai sumber ilmu yang tak terbatas, menanamkan keahlian untuk bertanya dengan baik.
Ini adalah mandat yang visioner: mempersiapkan pendidikan hari ini bukan hanya untuk esok hari, melainkan untuk menjawab tantangan tahun 2100 dan bahkan 2200.
SINERGI DAN PROYEKSI KEDAULATAN 2031
Visi Syaykh Panji Gumilang tentang SDM terdidik berpadu sempurna dengan strategi lahan rawa Prof. Momon. Sinergi ini menguatkan proyeksi kedaulatan pangan.
Dengan SDM terdidik (minimal S1 terapan) dan pertanian berbasis IOT, target lahan yang dibutuhkan untuk kedaulatan pangan menjadi lebih efisien.
Prof. Momon memproyeksikan, Indonesia hanya memerlukan 7 juta hektare lahan yang dikelola secara optimal dan terintegrasi untuk mampu mencukupi kebutuhan 350 juta rakyat dalam jangka waktu satu setengah tahun panen. Ini adalah kalkulasi berbasis ilmiah dan teknologi, bukan angan-angan.
Berdasarkan timeline ini, jika gerakan pendidikan dan pengembangan lahan dimulai secara masif pada tahun 2026, maka pada tahun 2031—lima tahun kemudian—Indonesia akan memiliki stok ahli dan sistem yang matang untuk mencapai swasembada pangan yang tidak tergoyahkan.
Investasi pada pendidikan, teknologi, dan model kemitraan yang adil seperti Operasi Perseribu adalah kunci dari kesuksesan proyeksi ini.
EPILOG: JANJI KECERDASAN BANGSA
Kedaulatan pangan adalah cerminan kecerdasan dan tanggung jawab sebuah bangsa. Syaykh A.S. Panji Gumilang menutup pemaparannya dengan pesan moral yang tajam: "Jangan takut kekurangan pangan. Asal pintar. Kalau tidak pintar, pasti wong bodoh dadi pangane wong pinter."
Kecerdasan yang dimaksud adalah kemampuan mengelola sumber daya—air, tanah, dan teknologi—yang diajarkan secara komprehensif melalui kurikulum L-STEAMS.
Gerakan ini bukan sekadar upaya pertanian, tetapi gerakan moral dan spiritual untuk mewujudkan rasa aman dan kedaulatan abadi. Inilah jalan untuk memastikan bahwa Indonesia, dengan kekayaan spiritual dan ilmiahnya, tidak akan pernah lagi bergantung pada impor.
Melalui Al-Zaytun, visi ini telah menjadi praktik, menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri tegak, mandiri, dan berdaulat penuh atas pangannya, menyongsong Indonesia Emas 2045. Jaya Indonesia! Merdeka!


