Disarikan dari Taushiyah Syaykh Al-Zaytun pada Qabliyah Jum’at oleh Ali Aminulloh
lognews.co.id - Pagi Jum’at (31/10/2025) di Basement Ali bin Abi Thalib Ma'had Al Zaytun dipenuhi aura khidmat dan penuh dengan energi pembaruan. Dalam agenda rutin Qabliyah Jumat, sebuah forum pertemuan Syaykh Al-Zaytun dengan para eksponen yayasan, guru, dosen, pimpinan unit, serta perwakilan pelajar dan koordinator wali santri, inilah tempat benih-benih pemikiran progresif ditanamkan.
Acara diawali dengan penampilan paduan suara santri Al Zaytun yang melantunkan Mars Al Zaytun, Mars Universitas Al-Zaytun (UAZ), Mars Politeknik, dan ditutup dengan Hymne Piliteknik Tanah AIR. Deretan lagu kebanggaan ini ternyata bukanlah sekadar rutinitas, melainkan sebuah kurikulum filosofis yang tersirat:
• Mars Al Zaytun: diibaratkan Akar (Pondasi).
• Mars UAS: diibaratkan Batang (Pengembangan).
• Mars Politeknik: diibaratkan Buah (Hasil Nyata).
• Hymne: diibaratkan Deklarasi (Pernyataan Visi).
Seni, Artikulasi, dan Pesan Ilahi: Agama sebagai Peradaban
Syaykh menekankan pentingnya Art (Seni) dan penataan tempat penampilan, di mana musik harus mengalir tanpa menenggelamkan suara. Artikulasi suara lirik lagu wajib terdengar jelas, agar pesan dari lagu tersampaikan. Ini adalah bagian dari khidmah (pelayanan) melalui seni. Salah satu poin penting yang digarisbawahi adalah akan dirilisnya lagu Darma Bakti. Untuk mendukung pengembangan seni, akan dibangun studio baru berukuran 8x12 meter. Pembangunan studio ini menjadi simbol nyata bahwa art dan keterampilan teknis terus dikembangkan untuk mewujudkan merdeka ilmu.
Lagu-lagu di Al Zaytun, mulai dari Mars hingga Hymne, sengaja tidak pernah menyebut kata "agama," melainkan "Ajaran Ilahi". Ini adalah pesan mendalam agar "agama menjadi peradaban."
Inti pesannya adalah pendidikan kontemporer. Pendidikan kontemporer bertujuan mengubah ajaran ilahi menjadi peradaban yang berakar kuat dan berdampak nyata. Kontemporer disini didefinisikan bukan hanya hari ini, tetapi sejak zaman Rasulullah sudah ada, bermakna pendidikan yang selalu relevan dengan zamannya.
Pendidikan Kontemporer: Menumbuhkan Tiga Kesadaran
Menurut Syaykh, Pendidikan yang mampu mewujudkan perjalanan masa depan adalah pendidikan kontemporer, yaitu pendidikan untuk menanamkan tiga kesadaran utama, yang juga menjadi struktur filosofis kurikulum. Kesadaran filosofis sebagai akarnya, kesadaran ekologis menjadi batangnya, dan buahnya, kesadaran sosial.
Akar: Kesadaran Filosofis (Filosofis Consciousness)
Langkah hidup harus ditimbang secara filosofis. Orang yang hanya "sadar" belum tentu "berfilsafat". Filosofi menjadi akar yang mencegah keluhan dan keputusasaan. Kita mendengat para pakar hukum mengeluh tentang kondisi hukum di Indonesia. Negara mengharapkan agar masyarakatnya sadar hukum, tapi tidak pernah mengajarkan hukum dalam pendidikan.

Pendidikan yang benar harus menanamkan Kesadaran Hukum sejak dini. Hukum tidak lagi hanya dikenalkan saat masuk fakultas, melainkan harus dihidupkan melalui kurikulum sejak kelas 1 Sekolah Dasar hingga kelas 15 (setara diploma/S1). Mengapa? Karena pendidikan adalah kebiasaan yang tidak pernah putus.
Ketika anak usia 6-16 tahun merasa boleh melakukan apapun yang berujung pada perundungan, atau murid membentak guru, atau ortu melaporkan guru, itu adalah bukti rendahnya kesadaran hukum dan peran. Mereka belum memahami tugas dan kewajibannya mereka secara hukum. Konsep pendidikan berbasis LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic, and Spiritual) hadir untuk mengobati kesadaran bangsa yang rendah ini.
Kesadaran filosofis akan melahirkan karakter. Benih benih karakter yang merupakan Fitrah Ilahi yang tertanam dalam jiwanya akan menumbuhkan khuluq (akhlak). Khuluq akan membimbing suluk (perjalanan) manusia, yaitu cara mengimplementasikan nilai-nilai mulia dalam hidupnya. Nilai yang dimplementasikan dengan dasar ilmu akan menghantarkannya untuk mencapai pada tujuan (jannah). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad: “Man salaka thoriqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah. Bisa dimaknai, ‘barangsiapa yang menempuh perjalanan dengan ilmu maka ia akan mudah memperoleh jalan menuju syurga (tujuan hidup)”

Suluk membawa pada pertanyaan filosofis: Mengapa saya cari ilmu? Bagaimana caranya? Untuk apa?
Batang: Kesadaran Ekologis (Ecological Consciousness)
Manusia yang berkarakter akan hidup selaras dengan alamnya. Kesadaran ekologi pun tumbuh. Ia berkeyakinan bahwa merusak alam sama dengan merusak Tuhan yang menciptakan alam. Menghormati lingkungan sama dengan menghormati Sang Pencipta, yang Laisa Kamitslihi Syai’un (tidak serupa dengan sesuatu pun). Alam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidupnya.
Buah: Kesadaran Sosial (Social Consciousness)
Buah dari semua proses ini adalah simah (performa atau tampilan) manusia. Manusia yang dididik secara kontemporer akan memiliki penghormatan kepada manusia dan tumbuhlah kesadaran sosial. Maka ketika menanan kesadaran, maka akan menumbuhkan kemanusiaan.
Tujuh Janji Darma Bakti: Menjadi Kupu-Kupu Peradaban
Ketiga kesadaran—Filosofis (Akar), Ekologis (Batang), dan Sosial (Buah)—kemudian dimanifestasikan dalam Sapta Darma Bakti Penghuni Ma'had (Sab’atun ‘Uhud fil Khidmah Al-Wājibah). Janji kesadaran ini memuat hal-hal sebagai berikut:
• Disiplin: dalam waktu, ruang, dan niat.
• Keberanian: berfikir, bertindak, dan bertanggung jawab.
• Kesetiaan: membela nilai-nilai kampus dan pemimpin yang menanamkan warisan.
• Kejujuran: dalam kata, kerja, dan niat.
• Tanggung Jawab: hidup hemat, sederhana, dan bertanggung jawab terhadap ciptaan.
• Cinta Sesama: mencintai dan merawat sesama sebagai bagian dari persaudaraan.
• Pantang Menyerah: dalam belajar, berbakti, dan mewariskan nilai.
Syaykh menghendaki agar, seluruh sivitas bisa hapal, lalu menghayati dan menginternalisasikan dalam keseharian. Janji ini menjadi bagian dari ritual yang dibacakan pada setiap momen-momen tertentu di Al-Zaytun seperti Qabliyah Jum’at, termasuk mengawali kegiatan pembelajaran.Semua janji ini berpegang pada konsep: banyak bicara, banyak berbuat, dan laksanakan apa yang dibicarakan. Secara lengkap naskah Sapta Janji Darma Bakti adalah sebagai berikut:
SAPTA JANJI DARMA BAKTI
سَبْعَةُ عُهُوْدٍ فِي الْخِدْمَةِ الْوَاجِبَةِ
Seven Vows of Devoted Service
Dengan Kesadaran Jiwa Saya Berjanji :
1. Saya akan berdisiplin dalam waktu, ruang, dan niat.
أَلْتَزِمُ بِالْاِنْضِبَاطِ فِي الْوَقْتِ وَ الْمَكَانِ وَ النِّيَّةِ
I commit to discipline in time, space, and intention
2. Saya akan berani berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab.
أَكُوْنُ شُجَاعًا فِي التَّفْكِيْرِ وَ الْعَمَلِ وَ تَحَمُّلِ الْمَسْؤُوْ لِيَّةِ
I will be brave in thought, action, and responsibility
3. Saya akan membela nilai-nilai kampus dan pemimpin yang menanamkan warisan.
أُدَافِعُ عَنْ قِيَمِ الْمَعْهَدِ وَقَادَتِهِ الَّذِيْنَ يَغْرِسُوْنَ الْإِرْثَ
I will uphold the values of the campus and its legacy-bearing leaders
4. Saya akan jujur dalam kata, kerja, dan niat.
أَكُوْنُ صَادِقًا فِي الْقَوْلِ وَ الْعَمَلِ وَ النِّيَّةِ
I will be honest in speech, work, and intention
5. Saya akan hidup hemat, sederhana, dan bertanggung jawab terhadap ciptaan.
أَعِيْشُ بِبِسَاطَةٍ وَ مَسْؤُوْلِيَّةٍ تِجَاهَ الْخَلْقِ
I will live simply and responsibly toward creation
6. Saya akan mencintai dan merawat sesama sebagai bagian dari jiwa kampus.
أُحِبُّ وَ أَرْعَى زُمَلَائِي كَجُزْءٍ مِنْ رُوْحِ الْمَعْهَدِ
I will love and care for others as part of the campus soul
7. Saya akan pantang menyerah dalam belajar, berbakti, dan mewariskan nilai.
لَا أَسْتَسْلِمُ فِي التَّعَلُّمِ وَ الْخِدْمَةِ وَتَوْرِيْثِ الْقِيَمِ
I will never give up in learning, serving, and passing on values
Janji ini dibuat dalam trilingual. Masing-masing bahasa di bacakan secara bergiliran. Konsep trilingual ini, mengawali budaya yang akan dibangun di politeknik. Dalam pembelajaran di politeknik Tanah AIR akan menggunakan trilingual, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa Arab.
Tujuah janji dharma bakti ini merupakan metaforfosis dari perjalanan pendidikan. Seperti halnya Sapta Marga yang dinyatakan tentara. Konsep metamorfosisnya seperti ulat. Ulat seringkali ditakuti dan dihina, tapi ia diam, lalu menjadi menjadi kepompong. Selanjutnya menjadi kupu-kupu yang bisa terbang kesana-kemari, "susah dikejar”. Hal ini karena memiliki kemerdekaan ruh, merdeka fikir, dan merdeka ilmu
Epilog: Dari Benih Fitrah Menuju Jannah yang Nyata
Qabliyah Jumat ini bukan sekadar pertemuan pra-salat, melainkan sebuah sesi penajaman visi yang radikal dan progresif. Syaykh Ma'had Al Zaytun mengajak seluruh sivitas untuk melihat Islam sebagai energi peradaban, bukan sebatas dogma. Dengan menanamkan Akar Kesadaran Filosofis, memelihara Batang Kesadaran Ekologis, dan memanen Buah Kesadaran Sosial, institusi ini mencetak manusia kupu-kupu yang mampu terbang tinggi, jauh melampaui keterbatasan berpikir tradisional.
Refleksi atas paparan ini adalah: Pendidikan sejati adalah menanam fitrah hingga menjadi akhlak, dan mengimplementasikan akhlak melalui suluk yang didasari ilmu, sehingga Jannah (surga) tidak lagi abstrak, tetapi sebuah tujuan hidup yang terwujud dalam kontribusi nyata, cerdas, dan manusiawi di dunia. Mereka sedang tidak hanya membangun Ma'had, tetapi merancang cetak biru karakter bangsa masa depan yang merdeka, berkarakter, dan bermanfaat bagi semesta.



