Friday, 27 February 2026

Lucky Hakim Siap menjadi Penasehat Politeknik Tanah AIR (Al-Zaytun Indonesia Raya): Hapus Paradoks Indramayu dengan Teknokrat

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indonesia – Bertepatan dengan semangat Sumpah Pemuda, Mahad Al-Zaytun mengukir babak baru dalam perjalanannya dengan menggelar peletakan batu penjuru Politeknik Tanah Air Indonesia Raya di Indramayu, Selasa (28/10/2025). Di hadapan para pejabat daerah, tokoh nasional, dan puluhan guru besar, langkah ini menjadi sebuah deklarasi futuristik untuk menjawab krisis teknokrat dan mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Momentum ini bukan sekadar seremoni pembangunan, melainkan penanda dimulainya sebuah ikhtiar besar dari Indramayu untuk meretas salah satu persoalan paling fundamental yang dihadapi bangsa, yaitu kemandirian pangan.

1000233349

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada momen penting ini, hadir tokoh tokoh akademisi dan pemerintahan memberikan sambutan. Sambutan perdana disampaikan Prof. Dr. Hamja, Dekan Fakultas Hukum Universitas Wiralodra Indramayu. Beliau menggarisbawahi bahwa momentum peletakan batu penjuru politeknik Tanah Air, bukanlah sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah tonggak yang dipilih secara sadar karena kandungan nilai filosofisnya yang mendalam.

Ia mengapresiasi kebijaksanaan Syaykh Panji Gumilang dalam memilih hari yang penuh berkah, seraya menyatukan berbagai disiplin ilmu, dari ketahanan pangan hingga ketahanan hukum, dalam satu tujuan mulia yang sama, yaitu perjuangan abadi untuk mewujudkan keadilan. Dengan harapan tulus, pembangunan institusi ini didoakan menjadi sumber kemanfaatan yang kekal dan menjadi saksi lahirnya generasi baru yang akan terus memperjuangkan nilai-nilai keadilan di sepanjang zaman.

Selanjutnya Prof. Dr. Ciek Julyati Hisyam. M.M. M.Si. - Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, menyampaikan sambutan bahwa dengan semangat Hari Sumpah Pemuda, Ma'had Al-Zaytun di bawah kepemimpinan Syaykh Panji Gumilang mengukir tonggak sejarah baru melalui pendirian Politeknik Tanah Air Indonesia Raya sebagai wujud komitmen nyata dalam mencetak SDM unggul dan mencerahkan masa depan bangsa. Dengan visi yang jauh untuk menjadi standar politeknik nasional, institusi ini akan fokus pada inovasi terapan, salah satunya adalah pengembangan beras revolusioner yang tidak hanya kaya karbohidrat namun juga unsur lainnya, seperti protein, vitamin, mineral dan lainnya.

Langkah strategis ini tidak hanya diharapkan mampu membawa nama Al-Zaytun ke panggung internasional melalui riset-riset mutakhir, tetapi juga menjadi jawaban tegas untuk mengubah stigma negatif dan membuktikan perannya sebagai lembaga pembaharu yang berkontribusi luar biasa bagi kemajuan pertanian serta pendidikan di Indonesia.

Penyambut ketiga, disampaikan oleh putra asli daerah Gantar, Indramayu, Prof. Dr. H. Sugianto, S.H., M.H. - Guru Besar Hukum Tata Negara dan Otonomi Daerah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Beliau menyuarakan kebanggaan dan dukungan penuhnya saat menyaksikan peletakan batu pertama Politeknik Tanah Air Indonesia Raya, yang dianggapnya sebagai momentum kebangkitan sebuah peradaban modern di tanah kelahirannya. Ia menekankan bahwa kemegahan Al-Zaytun saat ini telah menghapus citra masa lalu dan kini harus menjadi motor penggerak kemajuan yang nyata, dengan menantang pemerintah untuk turut hadir dan mendukung sesuai amanat undang-undang. Dengan komitmen pribadi untuk berada di garda terdepan dalam pengembangan institusi, ia berharap kehadiran politeknik ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan nasional, tetapi juga menjadi jawaban konkret atas persoalan lokal, seperti nasib para petani, sehingga Al-Zaytun benar-benar mampu mengangkat harkat martabat masyarakat dari tingkat lokal hingga mengukuhkan dirinya sebagai aset berharga bagi seluruh bangsa Indonesia.

Sambutan berikutnya Dr. Ir. Bagus P. Purwanto, M.Si, Perwakilan dari Tim 11 IPB University. Dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, ia menyambut peletakan batu pertama Politeknik Tanah Air sebagai sebuah langkah visioner yang diharapkan akan menjadi rujukan utama nasional dibidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Ia menekankan bahwa institusi ini harus melampaui sekadar pendidikan formal, dengan menanamkan pola pikir untuk menjadi kawah candradimuka yang melahirkan produk-produk unggulan serta keterampilan praktis yang dibutuhkan bangsa. Sembari mengucapkan selamat atas tekad kuat Syaykh Panji Gumilang beserta jajarannya, Dr. Bagus berharap politeknik ini akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional, sebuah cita-cita mulia yang didoakan senantiasa mendapat ridha dari Tuhan.

Sambutan berikutnya dari Prof. Dr. Hamidah Abdurrachman, S.H.,M.Hum. Guru Besar Ilmu Hukum di Universitas Pancasakti (UPS) Tegal. Dengan bekal pengalaman 30 tahun sebagai guru besar ilmu hukum dan mantan komisioner Kompolnas, Prof. Hamidah menyuarakan sebuah keresahan mendalam mengenai sistem pendidikan yang belum mampu mencetak sarjana siap kerja, terbukti dari tingginya angka pengangguran lulusan ilmu sosial. Oleh karena itu, ia menyambut gembira pendirian Politeknik Tanah Air sebagai jawaban atas tantangan tersebut, dengan visi yang kuat agar institusi ini menjadi sebuah "laboratorium" nyata bagi para mahasiswa. Baginya, proses belajar harus bertransformasi dari sekadar transfer teori di kelas menjadi sebuah arena praktik langsung yang mengasah keterampilan, sehingga para lulusannya kelak tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga keahlian konkret untuk membangun Indramayu dan memajukan pendidikan di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, Pendeta Ir. Danny Soepangat menegaskan bahwa Al-Zaytun tengah melancarkan sebuah revolusi pendidikan melalui lembaga percepatan bernama "Lekas" (Lembaga Kesejahteraan Sosial) Indonesia Raya. Visi utamanya adalah menerapkan model transformatif yang fokus pada 70% praktik dan 30% teori, sebuah terobosan yang dirancang untuk melahirkan tenaga kerja handal yang siap menjawab tantangan zaman. Seruan inspiratif ini dibungkus dalam sebuah doa yang tulus, memohon penyertaan Tuhan agar seluruh ikhtiar yang dimulai dapat terus berjalan lancar dan diberkati hingga mencapai kesuksesan yang dicita-citakan bersama.

Dalam sambutan yang sarat makna, Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D. - Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan bahwa peletakan batu pertama Politeknik Tanah Air bukanlah sekadar seremoni pembangunan fisik, melainkan sebuah proklamasi filosofis yang menempatkan pendidikan sebagai gerbang utama menuju kesejahteraan bangsa. Ia memandang langkah ini sebagai sebuah inisiatif strategis dan monumental di mana Al-Zaytun mengambil posisi di garda terdepan dalam menjawab kebutuhan mendesak Indonesia akan pendidikan vokasi. Dengan visi untuk menciptakan sinergi nyata antara nilai-nilai luhur pesantren, ilmu pengetahuan modern, dan keterampilan teknologi, politeknik ini diharapkan mampu melahirkan generasi pekerja terampil yang tidak hanya unggul dalam kemampuan teknis (hard skill), tetapi juga kokoh dalam karakter dan moralitas (soft skill) sebagai jawaban untuk menghadapi tantangan zaman..

Menyambut inisiatif Al-Zaytun sebagai wujud kolaborasi nyata antara pendidikan tinggi dan lembaga keagamaan, Rektor Universitas Swadaya Gunung Djati, Prof. Dr. Ir. H. Achmad Faqih, SP., MM. menawarkan dukungan penuh seraya menggarisbawahi sebuah visi fundamental: bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencetak tenaga terampil, tetapi harus menjadi pusat pembentukan karakter. Ia menekankan bahwa kurikulum multidisiplin yang akan dibangun wajib berfondasi pada nilai moralitas dan kejujuran—sebuah 'modal sosial' yang kini menjadi barang langka—guna melahirkan generasi yang mampu menerjemahkan nilai akademis menjadi karya nyata. Dengan demikian, politeknik ini ditantang untuk melampaui sekadar pencapaian IPK tinggi, dan sebaliknya fokus untuk menciptakan insan-insan unggul, berdaya saing, dan berintegritas yang siap menjadi pemenang dalam persaingan global serta menjadi pilar utama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045

Puncak sambutan, disampaikan oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim. Mengawali sambutannya, beliau menyampaikan refleksi mendalam yang lahir dari pengamatan sederhana di gerbang Al-Zaytun. Ia terkesima oleh barisan pohon besar yang rapi, yang ternyata tidak ditebang, melainkan dipindahkan dengan alat khusus. Sebuah pertanyaan singkat dari Syekh Panji Gumilang, "Memangnya Pemda tidak punya alat pemindah pohon?" menjadi tamparan telak yang menyadarkannya akan paradigma pembangunan yang selama ini seringkali destruktif. Pelajaran dari pohon itu menjadi metafora kuat tentang bagaimana kemajuan seharusnya berjalan: menghargai proses, menjaga kehidupan, dan membangun tanpa merusak. Inilah filosofi dasar yang ia harap akan menjadi nafas bagi generasi baru yang lahir dari rahim Politeknik Tanah Air.

Dari pelajaran tersebut, Lucky Hakim memaparkan sebuah visi besar untuk mengubah takdir wilayah Gantar, yang dulu dikenal sebagai "tempat jin buang anak", menjadi pusat peradaban baru yang menopang ekonomi, teknologi, dan pertanian. Komitmennya tidak main-main, ia berjuang keras untuk menghadirkan infrastruktur vital seperti perbaikan jalan dan akses tol, serta merancang kawasan industri hijau yang terintegrasi. Ia menantang para akademisi dan mahasiswa politeknik kelak untuk menciptakan inovasi, seperti memberikan nilai tambah pada setiap jengkal tanaman padi—mulai dari sekam hingga batangnya—sehingga petani tidak lagi terjerat dalam lingkaran kemiskinan, melainkan menikmati hasil kerja keras mereka secara utuh dan bermartabat.

1000233308

Pada puncaknya, sang bupati mengurai sebuah paradoks ironis yang telah lama membelenggu Indramayu: sebuah daerah yang bergelimang kekayaan alam—mulai dari minyak, gas, ikan, hingga sawah yang subur—justru menyandang predikat sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Baginya, jawaban atas teka-teki ini sudah jelas; masalahnya bukan terletak pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, ia menaruh harapan besar di pundak Al-Zaytun dan entitas pendidikan lainnya. Pendirian Politeknik Tanah Air bukanlah sekadar pembangunan gedung, melainkan sebuah investasi peradaban untuk mencetak manusia-manusia cerdas dan berkarakter yang akan menjadi kunci untuk membuka gerbang kemakmuran dan mengakhiri paradoks kemiskinan di tanah Indramayu.

Di tengah hujan rahmat yang memaksa acara berpindah ke dalam Masjid Rahmatan lil 'Alamin, Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, menyampaikan tausiyah yang bukan sekadar pidato biasa, melainkan sebuah manifesto perjuangan dan visi pendidikan. Dengan gaya khasnya yang lugas, ia membuka tabir tantangan berat yang dihadapi: dari kenaikan pajak bumi dan bangunan yang melonjak drastis dari 240 juta menjadi 3,5 miliar rupiah, hingga dana abadi pendidikan senilai ratusan miliar yang dibekukan, sebuah kondisi yang ia sebut sebagai "diboykot oleh bangsanya sendiri." Namun, di tengah kepungan badai tersebut, ia berdiri tegak dengan falsafah kesatria Jawa "ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake" (menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa mempermalukan), menjadikan setiap rintangan sebagai pemantik untuk melahirkan sebuah terobosan baru bernama Politeknik University Tanah Air.

Visi besar di balik pendirian politeknik ini adalah sebuah revolusi terhadap kurikulum pendidikan nasional yang dianggapnya sudah usang. Syaykh Panji Gumilang secara tajam mengkritik sistem yang ada dan menawarkan sebuah formula baru: "L-STEAMS," sebuah akronim yang menyisipkan Law (Hukum) dan Spiritual sebagai fondasi tak terpisahkan dari Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics. Baginya, keluhan tentang rendahnya kesadaran hukum di masyarakat adalah akibat langsung dari absennya pendidikan hukum sejak dini. Politeknik ini, oleh karena itu, dirancang bukan hanya untuk mencetak pekerja, melainkan untuk melahirkan insan-insan mandiri yang mampu "menyambung negeri dari pulau ke pulau," sebuah generasi yang membangun dengan ilmunya sendiri, tidak seperti proyek strategis nasional yang justru dikerjakan oleh tenaga dan modal asing.

Cita-cita ini tidak berhenti pada satu politeknik, melainkan membentang menjadi sebuah cetak biru radikal untuk mentransformasi pendidikan Indonesia secara total. Syaykh membayangkan 500 pusat pendidikan terpadu seluas ribuan hektar yang tersebar di seluruh nusantara, di mana siswa belajar dan hidup selama 24 jam dengan beasiswa penuh dari negara. Ambisi ini diwujudkan mulai dari langkah konkret di depan mata: membangun politeknik yang menghadap kiblat peradaban, masjid; mendirikan program studi yang relevan dari agronomi hingga teknik mesin dengan mimpi menciptakan mobil nasional bernama "Wal Adiyat"; serta memindahkan hutan berumur 30 tahun tanpa menebang satu pohon pun. Pada akhirnya, ia menutup visinya dengan sebuah panggilan nyata, mengajak hadirin untuk menandatangani "piagam kesadaran," sebuah komitmen gotong royong untuk mendanai investasi peradaban yang sedang mereka mulai bersama.

Ikhwan

Epilog : Membangun Peradaban untuk Melahirkan Generasi Manusiawi

Di atas tanah Gantar yang sarat paradoks, peletakan batu penjuru itu menjadi lebih dari sekadar seremoni; ia adalah sebuah deklarasi peradaban tentang sebuah revolusi yang dimulai dari dalam. Di sinilah visi "Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan" menemukan rahimnya, bukan di dalam ruang kelas yang kaku, melainkan dalam setiap jengkal lahan yang akan diolah, setiap pohon yang diselamatkan alih-alih ditebang, dan setiap persoalan bangsa yang dibedah untuk dicarikan solusinya. Politeknik Tanah Air digagas bukan untuk sekadar melahirkan teknokrat-teknokrat terampil, tetapi untuk memanen generasi yang kesadarannya telah tertanam—sadar akan ironi kekayaan alam yang tak menyejahterakan, sadar akan pentingnya merawat alih-alih merusak, dan sadar bahwa kemandirian sejati lahir dari ilmu yang berpadu dengan kerja nyata. Pada akhirnya, panen sesungguhnya bukanlah deretan lulusan dengan IPK cumlaude, melainkan berseminya sebuah peradaban baru: insan-insan paripurna yang tidak hanya mampu menguasai tanah airnya, tetapi juga sanggup menyuburkan kembali kemanusiaannya.