lognews.co.id, Jakarta - Harga Jagung yang melonjak dengan lonjakan tertinggi hingga Rp7.000 per kg pada akhir Agustus 2025 jika tidak segera diatasi, masalah ini berpotensi menaikkan harga telur dan daging ayam secara keseluruhan.
Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio mengatakan kenaikan ini membuat harga telur di tingkat konsumen naik Rp2.000-Rp3.000 per kg karena peternak ayam petelur, yang umumnya membuat pakan sendiri, harus membeli jagung dengan harga tinggi.
Meskipun perusahaan pakan diminta pemerintah untuk tidak menaikkan harga, Alvino khawatir stok jagung mereka juga menipis.
Sementara itu, Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, menyatakan bahwa Kementerian Pertanian telah mengambil langkah antisipatif untuk mengatasi kenaikan harga jagung. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Mengimbau industri pakan agar tidak menaikkan harga.
2. Memetakan calon penerima jagung dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
3. Mempertemukan kelompok tani dengan pemasok jagung.
4. Berkoordinasi dengan lintas kementerian dan lembaga, termasuk Bapanas dan Satgas Pangan, untuk menjaga stabilitas pasokan dan mencegah penimbunan.
Menurut Tri Melasari, langkah-langkah ini bertujuan agar pasokan jagung tetap stabil, biaya produksi pakan tidak melonjak, dan harga telur dan daging ayam tetap terjangkau bagi masyarakat. Ia juga menambahkan bahwa dari pantauan Kementan, harga jagung kini mulai turun dan di beberapa daerah sudah berada di bawah harga acuan pembelian (HAP). (Amri-untuk Indonesia)



