Budaya “Katanya” Harus Diakhiri, Umat Islam Perlu Tabayun Sebelum Berkomentar

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Akademisi dan aktivis kemanusiaan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia mengajak masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, membangun budaya literasi dan tabayun sebelum memberikan penilaian terhadap suatu gagasan atau karya. Menurutnya, kebiasaan berkomentar hanya berdasarkan “katanya” harus diakhiri agar ruang publik dipenuhi diskusi yang sehat dan berbasis pengetahuan.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Musdah saat menjadi pembicara utama dalam launching dan bedah buku Islamku Islam Al-Zaytun: Refleksi Diri Menuju Basharan Sawiyah. Pada Hari Jumat (25/09/2026) Dalam forum akademik tersebut, ia menilai tradisi membaca, menelaah, dan berdialog merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang perlu terus dihidupkan.

“Jangan berkomentar sebelum membaca bukunya. Kalau ada tanggapan terhadap buku ini, tanya dulu, sudah baca atau belum. Jangan sampai pandangan kita hanya berdasarkan katanya,” ujar Prof. Musdah.

Menurutnya, budaya menyampaikan pendapat tanpa memahami persoalan secara utuh masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat. Padahal, Islam mengajarkan prinsip tabayun, yaitu memeriksa dan memastikan informasi sebelum menarik kesimpulan atau menyampaikan penilaian kepada orang lain.

Ia mengatakan tabayun bukan sekadar sikap kehati-hatian dalam menerima informasi, melainkan karakter intelektual yang harus dibangun sejak dini melalui pendidikan.

“Mari kita menjadi orang yang suka tabayun, cek dan ricek. Jangan asal bunyi sebelum memahami duduk persoalannya,” tegasnya.

Literasi Dimulai dari Iqra

Dalam pemaparannya, Prof. Musdah mengaitkan pentingnya tabayun dengan perintah pertama dalam Al-Qur’an, yakni Iqra. Ia menjelaskan bahwa Iqra tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks, tetapi juga membangun tradisi literasi, berpikir kritis, dan mencari kebenaran secara rasional.

Menurutnya, peradaban besar lahir dari masyarakat yang memiliki budaya membaca dan menulis yang kuat. Karena itu, kegiatan peluncuran dan bedah buku dinilai sebagai bagian dari kerja intelektual yang patut diapresiasi.

“Iqra bukan sekadar membaca, tetapi membangun literasi, membangun pemahaman yang lebih holistik tentang Islam, ketuhanan, kemanusiaan, dan alam semesta,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya budaya literasi akan membuat masyarakat mudah terjebak pada stigma, prasangka, maupun informasi yang belum tentu benar.

Perbedaan Pendapat Dijawab dengan Karya

Prof. Musdah menilai ruang akademik seharusnya menjadi tempat lahirnya dialektika gagasan, bukan ruang saling menghakimi. Ia mendorong siapa pun yang tidak sepakat terhadap isi sebuah buku untuk menjawabnya melalui tulisan dan argumentasi, bukan dengan tudingan atau pelabelan.

“Kalau tidak setuju dengan buku ini, tidak usah marah. Tulislah buku yang lain. Begitulah tradisi keilmuan berkembang, melalui dialog dan karya,” ujarnya.

Ia mencontohkan tradisi intelektual pada masa keemasan Islam, ketika para ulama dan cendekiawan saling mengkritik gagasan melalui karya tulis sehingga memperkaya khazanah pemikiran Islam.

Menurutnya, setiap orang memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda dan pengalaman tersebut layak ditulis sebagai bagian dari kekayaan perspektif dalam memahami Islam.

Bedah Buku Jadi Ruang Dialog Pemikiran Islam

Bedah buku Islamku Islam Al-Zaytun: Refleksi Diri Menuju Basharan Sawiyah menghadirkan ruang dialog mengenai pengalaman keberagamaan, literasi, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam. Prof. Musdah mengapresiasi keberanian penulis menuangkan refleksi pribadi dalam bentuk buku dan berharap tradisi intelektual semacam ini semakin berkembang di Indonesia.

Menutup pemaparannya, ia mengajak masyarakat menjadikan membaca, menulis, dan tabayun sebagai bagian dari praktik keagamaan sehari-hari, sehingga perbedaan pandangan dapat disikapi melalui argumentasi yang sehat dan saling memperkaya, bukan melalui prasangka ataupun stigma.

 

(Saheel untuk Indonesia)