INDRAMAYU, lognews.co.id – Anggapan bahwa sekitar 2,5 juta generasi Z di Indonesia mengalami masalah mental hingga disebut sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dinilai sebagai penyederhanaan yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Psikolog pendidikan anak dan remaja, Poppy Rianti Kemala, menegaskan bahwa stres, kecemasan, gangguan mental, dan ODGJ merupakan kondisi yang berbeda dan tidak bisa disamakan.
Hal tersebut disampaikan Poppy saat menjadi narasumber dalam program Breaking News Prima (BNPPN) Primetime News 10.11 di Prima FM Indramayu, Rabu (9/9/2026). yang di wawancarai oleh Dynasti, S.I.Kom dan di produser oleh Saheel dan disiarkan melalui sosial media oleh baim.
Menurutnya, penggunaan kalimat "2,5 juta Gen Z bermasalah" tanpa penjelasan konteks klinis dapat memunculkan stigma negatif terhadap generasi muda.
"Kalimat itu kurang tepat karena masalah itu sangat luas. Kalau hanya menyebut angka tanpa konteks, masyarakat bisa salah paham dan menganggap seluruh Gen Z mengalami gangguan jiwa. Padahal tidak demikian," ujar Poppy.
Stres dan Gangguan Mental Tidak Sama
Poppy menjelaskan bahwa stres dan kecemasan merupakan respons alami manusia ketika menghadapi tekanan atau ancaman. Kondisi tersebut masih tergolong normal selama seseorang tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, belajar, makan, tidur, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Namun, apabila gejala tersebut berlangsung terus-menerus hingga mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari selama lebih dari dua minggu, seseorang perlu mendapatkan perhatian profesional.
"Kalau stres dan kecemasan sudah berkepanjangan, mulai sulit tidur, sulit fokus bekerja, dan mengganggu aktivitas harian selama lebih dari dua minggu, itu bisa masuk kategori gangguan mental dan perlu konsultasi dengan profesional," jelasnya.
Ia menambahkan, istilah ODGJ memiliki makna yang berbeda karena digunakan untuk individu yang telah memperoleh diagnosis klinis dari tenaga kesehatan profesional.
Gen Z Lebih Berani Mencari Bantuan Psikolog
Dalam diskusi tersebut, Poppy juga menyoroti perubahan perilaku generasi Z yang dinilai lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya.
Menurutnya, kemudahan akses informasi melalui internet membuat Gen Z lebih mengenal berbagai istilah psikologi, sehingga mereka terdorong mencari bantuan ketika merasa membutuhkan.
"Sekarang akses ke psikolog dan psikiater jauh lebih mudah, baik secara langsung maupun daring. Itu membuat Gen Z lebih berani berkonsultasi dibanding generasi sebelumnya," katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa meningkatnya keberanian berkonsultasi bukan berarti seluruh Gen Z memiliki gangguan mental.
Media Sosial Bisa Memicu Kecemasan
Poppy menyebut media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kecemasan pada remaja. Konten yang didominasi pencapaian dan kebahagiaan orang lain sering kali membuat pengguna membandingkan dirinya dengan orang lain.
Akibatnya, sebagian remaja memilih menarik diri, bahkan menghentikan aktivitas di media sosial ketika kondisi psikologisnya sedang tidak baik.
"Media sosial bisa memicu perbandingan diri. Mereka melihat orang lain tampak bahagia, sementara dirinya sedang mengalami tekanan. Itu bisa menjadi salah satu pemicu kecemasan," ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa berhenti sementara dari media sosial tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan mental, melainkan perlu dilihat bersama perubahan perilaku lainnya.
Orang Tua Diminta Tidak Menghakimi
Poppy mengajak orang tua dan lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak maupun remaja. Pendekatan yang paling penting, menurutnya, adalah hadir, mendengarkan, dan tidak menghakimi.
Ia menyarankan agar masyarakat menghindari kalimat seperti "kurang bersyukur", "lemah", atau "lembek" ketika seseorang sedang mengalami tekanan psikologis.
Sebaliknya, orang tua dianjurkan bertanya mengenai apa yang sedang dirasakan anak dan bantuan apa yang mereka butuhkan.
"Menyuarakan isi hati atau mencari bantuan bukan tanda lemah. Itu justru menunjukkan seseorang memiliki kesadaran diri untuk mencari pertolongan," tegasnya
Pisahkan Spiritualitas dan Kesehatan Mental
Dalam penutup wawancara, Poppy menekankan pentingnya membedakan persoalan spiritualitas dengan kesehatan mental. Menurutnya, keduanya sama-sama penting, tetapi membutuhkan pendekatan yang berbeda.
"Kesehatan mental adalah bagian penting dari kesehatan manusia. Mengakui sedang tidak baik-baik saja dan mencari bantuan bukan kekalahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan," pungkasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif agar generasi muda tidak takut mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan psikologis. (Saheel untuk Indonesia)



