Saturday, 29 August 2026

PKBM Al Zaytun Bangkitkan Semangat Belajar dan Berkoperasi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.

(Tutor PKBM Al Zaytun)

lognews.co.id - Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan menyelimuti kegiatan rutin istighazah Paguyuban Istri Peduli atau PIP Blok Gabel, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB itu diikuti sekitar 20 ibu dari Blok Gabel, Tanjungjati, dan Tanjunggarut.

Doa-doa yang dilantunkan dengan khusyuk sore itu tidak hanya mengetuk pintu langit. Di tengah kehangatan pertemuan para ibu, tumbuh pula kesadaran baru bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan pendidikan, kedisiplinan, dan kemandirian ekonomi. Istighazah menjadi kekuatan batin, pendidikan membuka jalan pengetahuan, sedangkan koperasi mengajarkan keberanian untuk membangun kesejahteraan bersama.

Istighazah tersebut merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap dua pekan sekali. Pertemuan tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi, pendidikan, penyampaian informasi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Acara dibuka dengan khidmat oleh Ibu Wasiyem, alumni PKBM Al Zaytun, yang bertugas sebagai pembawa acara. Dengan suasana sederhana namun penuh makna, seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara tertib dan penuh perhatian.

Kehadiran para ibu menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan masyarakat dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Penguatan keagamaan melalui istighazah berjalan beriringan dengan penyampaian laporan keuangan dan informasi berbagai kegiatan bersama.

Dalam pertemuan tersebut disampaikan laporan keuangan Jamaah Ka’batullah Indonesia atau JKI, laporan kas blok, laporan sedekah subuh, serta berbagai informasi terkini yang berkaitan dengan kegiatan para ibu dan program paguyuban. Keterbukaan laporan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab di antara anggota.

Pada kesempatan itu hadir Ketua Paguyuban Istri Peduli, Sri Wahyuni, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada warga Blok Gabel yang telah menuntaskan pendidikan melalui PKBM Al Zaytun, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum menyelesaikan pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas.

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Pendidikan telah membuka kembali harapan bagi para ibu untuk terus berkembang, meningkatkan pengetahuan, dan membangun kepercayaan diri. Bagi mereka, belajar bukan sekadar mengejar ijazah, melainkan proses mempersiapkan diri agar lebih mampu menghadapi perubahan kehidupan.

Menurut Sri Wahyuni, pendidikan merupakan bekal penting dalam membangun keluarga yang cerdas, mandiri, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Seorang ibu yang memiliki semangat belajar akan membawa pengetahuan itu ke dalam keluarga, mendampingi anak-anak, serta memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Alhamdulillah, ibu-ibu telah menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dan blok kita akhirnya tuntas, selanjutnya kita akan melangkah dengan mengikuti program lainnya, yaitu Kodeko. Semoga ilmu yang nanti disampaikan dapat dipahami,” ujar Sri Wahyuni.

Pernyataan tersebut disambut dengan penuh semangat oleh para peserta. Keberhasilan menuntaskan pendidikan melalui PKBM Al Zaytun bukan dipandang sebagai akhir perjalanan, tetapi menjadi pintu untuk mengikuti program pemberdayaan berikutnya.

Sebelum memasuki sesi utama mengenai Kodeko, Sri Wahyuni memberikan pengantar tentang pentingnya masyarakat terlibat dalam koperasi. Ia menjelaskan bahwa koperasi bukan hanya tempat menyimpan uang atau menjalankan transaksi ekonomi, tetapi merupakan sarana untuk membangun kebersamaan, tanggung jawab, dan kemandirian anggota.

Koperasi tumbuh dari kekuatan bersama. Ketika setiap anggota memiliki kesadaran untuk memenuhi kewajiban dan saling mendukung, manfaat koperasi akan kembali dirasakan oleh seluruh anggota. Karena itu, keberhasilan koperasi tidak hanya bergantung pada besarnya modal, tetapi juga pada kejujuran, kedisiplinan, dan kepercayaan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Ibu Dewi Asih, Pembina Paguyuban sekaligus representatif Kodeko. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para ibu yang telah bergabung menjadi peserta Kodeko.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh keterlibatan dan kedisiplinan anggotanya. Salah satu bentuk kedisiplinan tersebut adalah memenuhi kewajiban menyetor simpanan secara rutin.

“Ternyata faktor rajin menyetor bukan semata-mata karena seseorang berkecukupan, melainkan karena adanya kesadaran. Kesadaran berarti memahami bahwa kewajiban harus menjadi prioritas. Dari kedisiplinan itulah lahir keberkahan, kepercayaan, dan manfaat bersama,” tutur Dewi Asih.

Kalimat sederhana itu terasa begitu dekat dengan kehidupan para peserta. Para ibu mengangguk, seolah memahami bahwa kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dari modal yang besar. Kemandirian dapat dimulai dari kesadaran, kemauan untuk disiplin, dan keberanian mengambil langkah kecil secara konsisten.

Koperasi mengajarkan bahwa kekuatan tidak hanya terletak pada kemampuan individu, tetapi juga pada kesediaan untuk tumbuh dan bergerak bersama. Simpanan yang disetorkan secara rutin mungkin terlihat kecil, tetapi ketika dikelola secara amanah dan dilakukan secara kolektif, dapat menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat besar.

Penyampaian materi yang sederhana namun menyentuh hati tersebut memberikan dampak nyata. Di penghujung acara, Ibu Wasiyem, alumni PKBM Al Zaytun yang juga menjadi pembawa acara, secara langsung mendaftarkan diri sebagai anggota Kodeko.

Keputusan spontan tersebut menjadi bukti bahwa edukasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan. Materi yang diterima telah menggugah kesadaran dan mendorong peserta untuk mengambil tindakan nyata.

Langkah Ibu Wasiyem menunjukkan hubungan erat antara pendidikan dan perubahan perilaku. Sebagai alumni PKBM Al Zaytun, ia telah merasakan bahwa belajar dapat menumbuhkan keberanian untuk menentukan pilihan. Setelah memperoleh pemahaman tentang koperasi, ia tidak ragu mengambil bagian dalam gerakan ekonomi bersama.

Kegiatan rutin PIP Blok Gabel tersebut menjadi contoh bahwa pembinaan masyarakat tidak harus berhenti pada satu bidang. Penguatan spiritual melalui istighazah dapat dipadukan dengan pendidikan, pembentukan karakter, pengelolaan organisasi, transparansi keuangan, dan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.

Istighazah menumbuhkan ketenangan dan kekuatan batin. Pendidikan menumbuhkan ilmu pengetahuan dan pola pikir yang lebih terbuka. Sementara itu, koperasi menumbuhkan kedisiplinan, kebersamaan, dan kemandirian ekonomi.

Ketiganya menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga yang religius, berilmu, mandiri, dan sejahtera. Keluarga yang kuat secara spiritual akan memiliki pedoman moral. Keluarga yang sadar pendidikan akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Adapun keluarga yang mandiri secara ekonomi akan lebih mampu memenuhi kebutuhan dan berkontribusi bagi lingkungan masyarakat.

Sinergi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan masyarakat Kabupaten Indramayu, khususnya dalam mendukung program bersama Ma’had Al Zaytun sesuai dengan arahan pimpinan, Syaykh, agar masyarakat terus membangun kesadaran, meningkatkan kualitas diri, dan bergerak menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Tepat pukul 16.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah. Para peserta kemudian mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama.

Dua jam pertemuan itu mungkin terasa singkat. Namun, para ibu pulang membawa lebih dari sekadar kenangan pertemuan. Mereka membawa kekuatan doa, kesadaran akan pentingnya pendidikan, dan pemahaman baru mengenai manfaat berkoperasi.

Dari istighazah, hati mereka dikuatkan. Dari PKBM Al Zaytun, semangat belajar mereka dibangkitkan. Dari Kodeko, langkah menuju kemandirian mulai ditapakkan.

Sebab, perubahan besar sering kali tidak bermula dari ruang yang megah. Perubahan dapat tumbuh dari pertemuan sederhana para ibu, dari doa-doa yang dilantunkan bersama, dari keberanian kembali belajar, serta dari kesediaan menyisihkan sebagian penghasilan untuk membangun kesejahteraan bersama.