Friday, 06 February 2026

Kesetaraan Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi: Membangun Peradaban Bangsa dari Asrama

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

Mahad Al-Zaytun kembali menunjukkan konsistensinya dalam merawat dan menyiapkan masa depan pendidikan Indonesia. Melalui pelatihan pendidik yang berkesinambungan, lembaga ini menegaskan bahwa kontribusi terhadap negara tidak selalu harus hadir dalam bentuk kebijakan politik atau proyek infrastruktur, tetapi dapat dimulai dari investasi paling fundamental: membangun manusia. Pendidikan, bagi Al-Zaytun, adalah jalan peradaban dan pendidik adalah aktor kuncinya.

Pelatihan pendidik yang diselenggarakan kali ini mengusung tema besar Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad ke-21 dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia. Tema ini lahir dari kesadaran historis bahwa Indonesia tengah berada di persimpangan zaman. Bonus demografi, disrupsi teknologi, krisis etika publik, serta ketimpangan pendidikan antarwilayah menuntut sebuah lompatan paradigma. Pendidikan berasrama dipandang bukan sekadar model alternatif, melainkan sebagai ekosistem strategis untuk membentuk karakter, literasi, dan kemandirian generasi masa depan secara utuh, menyatu antara ilmu, nilai, dan kehidupan.

WhatsApp Image 2025 12 28 at 23.36.33 1

Pada sesi ke-30 yang berlangsung pada Ahad, 28 Desember 2025, Mahad Al-Zaytun menghadirkan narasumber nasional dari kawasan timur Indonesia, Prof. Buyung Sarita, SE., MSi., Ph.D., Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara. Kehadiran Prof. Buyung memberi bobot penting bahwa diskursus pendidikan tidak dapat dipisahkan dari agenda besar pembangunan ekonomi bangsa. Pendidikan, dalam perspektif ekonomi pembangunan, bukan sekadar sektor belanja negara, tetapi merupakan mesin utama pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan.

Dalam paparannya yang berjudul “Kesetaraan Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Negara (Implementasi L-STEAMS dalam Manajemen Keuangan Pendidikan Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan Ekosistem Pendidikan)”, Prof. Buyung menegaskan satu tesis utama: pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan hanya mungkin dicapai jika negara berhasil mewujudkan kesetaraan pendidikan secara sistemik. Pemerataan pendidikan, menurutnya, tidak cukup dimaknai sebagai pembangunan sekolah atau distribusi guru, tetapi harus mencakup pemerataan kualitas pengalaman belajar, pembentukan karakter, serta literasi finansial dan etika publik.

Prof. Buyung menguraikan bahwa model sentra pendidikan berasrama memiliki keunggulan strategis karena mampu menghadirkan standar pendidikan yang konsisten lintas wilayah. Dalam ekosistem berasrama, pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menjelma menjadi proses pembentukan karakter, disiplin, etika, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial yang berlangsung sepanjang hari. Inilah fondasi yang, menurutnya, sulit dicapai oleh model pendidikan reguler yang terfragmentasi oleh ruang dan waktu.

Lebih jauh, Prof. Buyung mengaitkan kesetaraan pendidikan dengan teori human capital dan berbagai temuan ekonomi global. Negara-negara yang berhasil meratakan kualitas pendidikan seperti Korea Selatan, Finlandia, dan Tiongkok, menunjukkan lonjakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam beberapa dekade. Pendidikan yang merata mendorong produktivitas tenaga kerja, memperluas kelas menengah, menurunkan biaya sosial, serta menggeser struktur ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

WhatsApp Image 2025 12 28 at 23.36.33

Dalam konteks Indonesia, Prof. Buyung menyebut target pertumbuhan ekonomi 8–9 persen bukanlah mimpi kosong. Target tersebut realistis jika Indonesia berani melakukan investasi besar pada kesetaraan pendidikan, khususnya melalui pembangunan sentra pendidikan berasrama di seluruh kabupaten dan kota. Setiap sentra pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang memicu multiplier effect: tumbuhnya UMKM, lapangan kerja, inovasi lokal, dan penguatan ekonomi regional.

Paparan Prof. Buyung menjadi semakin bernas ketika ia mengaitkannya dengan Islamicity Economic Index yang dikembangkan oleh Hossein Askary. Indeks ini menunjukkan bahwa negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi justru banyak menerapkan nilai-nilai etika Islam seperti kejujuran, keadilan, tata kelola yang bersih, dan pemerataan pendidikan, meskipun tidak selalu berlabel negara Islam. Pesan implisitnya jelas: pendidikan yang kuat secara moral dan etis akan melahirkan tata kelola ekonomi yang sehat, menekan korupsi, dan meningkatkan kepercayaan publik.

Di sinilah konsep L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, Spiritual) menemukan relevansinya. Prof. Buyung menekankan bahwa manajemen keuangan pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek administratif, tetapi harus dibangun sebagai ekosistem pembelajaran. Literasi keuangan, menurutnya, adalah kecakapan hidup abad ke-21 yang harus ditanamkan sejak dini, bukan hanya agar siswa pandai mengelola uang, tetapi agar mereka tumbuh sebagai manusia yang amanah, rasional, kreatif, dan bertanggung jawab secara sosial.

Melalui pendekatan L-STEAMS, pendidikan berasrama dapat menjadi laboratorium kehidupan: tempat hukum dipelajari sebagai keadilan, sains sebagai rasionalitas, teknologi sebagai alat kemajuan, rekayasa sebagai sistem, seni sebagai kreativitas, matematika sebagai ketepatan, dan spiritualitas sebagai kompas moral. Integrasi inilah yang, menurut Prof. Buyung, akan melahirkan generasi Indonesia yang tidak hanya kompeten secara ekonomi, tetapi juga matang secara etika dan berperadaban.

Pelatihan pendidik di Mahad Al-Zaytun dengan demikian tidak sekadar menjadi agenda rutin kelembagaan, melainkan ruang strategis untuk merumuskan masa depan Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global, forum ini menghadirkan pesan yang jernih: pendidikan yang setara, bermutu, dan bernilai adalah jalan paling rasional dan bermartabat untuk membangun bangsa. Dan dari ruang-ruang pendidikan berasrama seperti inilah, benih Indonesia Emas 2045 perlahan ditanam. (Amri-untuk Indonesia)