Oleh: Ali Aminulloh (Disarikan dari Taushiyah Syaykh pada Qabliyah Jum'at)
lognews.co.id- Jumat pagi (26/12) di Ma'had Al-Zaytun bukan sekadar rutinitas. Di Basement Ali bin Abi Thalib, tepat pukul 09.30 WIB, majelis "Qabliyah Jumat" digelar. Hadir pada forum tersebut, seluruh eksponen yayasan, akademisi IAI, Guru, pengurus asrama, komandan unit, hingga perwakilan organisasi pelajar. Namun, atmosfer pagi itu terasa berbeda; Syaykh Al-Zaytun hadir membawa narasi besar tentang dekonstruksi pemikiran dan kedaulatan ekonomi.

Membongkar Belenggu Konservatisme: Fikih yang Progresif
Setelah gema Mars Al-Zaytun, UAS, Politeknik, dan Sapta Janji Dharma Bakti selesai, Syaykh naik ke mimbar dengan kritik tajam. Beliau menyoroti masih adanya tenaga pendidik yang terjebak dalam pola pikir konservatif, terutama dalam memandang persoalan fikih seperti najis anjing.
"Harus dirombak pemikirannya," tegas Syaykh. Beliau menegur para guru untuk tidak membelenggu nalar murid dengan pandangan sempit. "Cari di dalam Al-Qur'an, adakah dalil eksplisit yang menyatakan anjing itu najis? Gus Baha saja, ulama NU kawakan, mengakui tidak menemukan dalil kenajisan itu dalam kitab suci."

Syaykh mengingatkan bahwa fikih adalah produk pemikiran yang seharusnya progresif. Beliau memberi contoh konkret: dalam fikih, hasil buruan yang digigit anjing pemburu justru halal dimakan. Beliau juga menyentil kecenderungan di Indonesia di mana klaim "paling benar" dan "pasti masuk surga" seringkali dimonopoli oleh kelompok tertentu, seperti narasi Ahlussunnah Wal Jamaah yang diwakili NU dan Muhammadiyah. Bagi Syaykh, pendidikan harus merujuk langsung pada kitab suci dan membuka ruang diskusi, bukan sekadar mendikte dari buku paket.
Visi "Emas Hijau": Sinergi Durian dan Kopi Linggarjati
Usai membedah nalar, Syaykh menunjukkan wujud nyata dari pemikiran progresif: kemandirian ekonomi melalui proyek Emas Hijau.
Targetnya masif. Ma'had tengah memacu penanaman 20.000 hingga 30.000 pohon durian di atas lahan ratusan hektar. Di Ciputat saja, tersedia 100 hektar untuk 10.000 pohon, sementara di dalam kampus akan ditanam 5.000 pohon durian ditanah seluas 50 ha. Namun, ini bukan sekadar kebun buah biasa; ini adalah ekosistem "Linggarjati".
1. Tumpang Sari Cerdas: Di sela-sela pohon durian Duri Hitam yang ditanam di tanah hitam subur, akan ditanam 5.000 hingga 6.000 pohon kopi per hektar. Sinergi inilah yang melahirkan nama "Linggarjati".
2. Mobilisasi "KDM Linggarjati": Untuk mengelola lahan luas seperti di Cipatujah, Ma'had menerapkan sistem pengawasan bergilir bagi para petugas dari Ma'had. Bagi lokasi yang berjarak sekitar satu jam dari kampus, telah disiapkan armada antar-jemput khusus yang dinamakan "KDM Linggarjati".
3. Kesejahteraan Petugas: Tak hanya transportasi, setiap 10 hektar lahan dilengkapi dengan tempat singgah yang layak. Ini adalah bukti bahwa pembangunan peradaban di Al-Zaytun selalu memanusiakan para pelakunya.
Menuju Masa Depan Mandiri
Di akhir taushiyah, Syaykh memaparkan aset masa depan Ma'had berupa lahan seluas 182 hektar di area strategis pelabuhan dengan nilai ekonomi tinggi. Semua ini dipersiapkan agar Ma'had tidak hanya kuat secara intelektual, tapi juga berdikari secara finansial.
Maka, ketika doa "Rabbana anzilna munzalan mubaraka..." dipanjatkan, ada keyakinan kuat yang mengalir. Bahwa setiap pohon yang ditanam dan setiap pikiran yang dibebaskan dari kejumudan adalah langkah nyata menuju Indonesia yang diberkahi. (Amri-untuk Indonesia)


