Oleh: Ali Aminulloh
Ladang yang Menginspirasi: Ketika Almamater Mempertemukan Kembali Generasi dalam Satu Ruang Pengabdian
lognews.co.id - Ada pemandangan yang tidak setiap hari dapat disaksikan di sebuah lembaga pendidikan. Dalam proses wawancara Penerimaan Peserta Didik Baru Mahad Al-Zaytun yang berlangsung pada 23–27 Juni 2026, terukir sebuah momen yang sarat makna: alumni menguji alumni. Orang tua yang dahulu datang sebagai santri kini hadir mengantarkan putra-putrinya sebagai calon santri, sementara di balik meja wawancara berdiri para alumni yang kini mengemban amanah sebagai pewawancara. Sebuah perjumpaan yang memperlihatkan bahwa estafet pendidikan benar-benar hidup dan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejak awal berdirinya, Mahad Al-Zaytun mempertahankan wawancara sebagai salah satu ciri khas dalam proses penerimaan santri baru. Wawancara bukan sekadar tahapan seleksi, melainkan ruang dialog untuk mengenal lebih dekat calon santri beserta keluarganya. Pada pelaksanaan tahun ini, ruang-ruang wawancara justru menghadirkan kisah-kisah yang menghangatkan hati.
Salah satu momen menarik terjadi ketika calon santri kelas VII, Hamman Abdul Jabbar, mengikuti proses wawancara bersama ibunya, Yayah, alumni angkatan ke-4 Mahad Al-Zaytun. Yang bertugas sebagai pewawancara adalah Diaz Dzulfahmi Hadi, yang juga merupakan alumni Mahad Al-Zaytun. Pertemuan itu bukan sekadar dialog antara panitia dan wali santri, tetapi juga perjumpaan dua insan yang pernah ditempa oleh nilai, tradisi, dan kehidupan di almamater yang sama.
Momen serupa juga terjadi pada calon santri Rayya Andro Salaga. Ayahnya, Hendra Setyo, merupakan alumni angkatan pertama Mahad Al-Zaytun. Menariknya, proses wawancaranya dilakukan oleh Ramadhani Izuddin, yang merupakan teman seangkatannya semasa menjadi santri. Suasana wawancara pun terasa akrab. Mereka bukan hanya berbincang mengenai pendidikan putra-putrinya, tetapi juga dipertemukan kembali oleh almamater yang pernah menjadi rumah belajar mereka.
Peristiwa-peristiwa seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan makna yang sangat mendalam. Al-Zaytun tidak hanya berhasil meluluskan santri, melainkan juga membangun ikatan emosional yang kuat antara alumni dengan almamaternya. Ketika para alumni mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada tempat mereka dahulu dididik, itu merupakan bukti nyata tumbuhnya kepercayaan dan rasa memiliki terhadap lembaga.
Di sisi lain, keterlibatan alumni sebagai pewawancara menunjukkan keberhasilan sistem kaderisasi. Mereka memahami karakter pendidikan Al-Zaytun bukan hanya dari dokumen atau pedoman, melainkan dari pengalaman hidup yang mereka jalani sendiri sebagai santri. Karena itu, setiap pertanyaan yang diajukan lahir dari pemahaman yang utuh, dan setiap penjelasan yang diberikan memiliki kekuatan pengalaman yang nyata.
Bagi para calon santri, pemandangan ini juga memberikan pelajaran yang berharga. Mereka menyaksikan bahwa orang-orang yang kini menyambut dan membimbing mereka adalah generasi yang pernah belajar bersama ayah atau ibu mereka. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, pewawancara adalah teman seangkatan orang tua mereka. Kedekatan seperti ini melahirkan rasa percaya, kehangatan, sekaligus keyakinan bahwa mereka akan memasuki lingkungan pendidikan yang memiliki tradisi panjang dalam menjaga nilai dan kebersamaan.
Inilah wajah sustainabilitas pendidikan yang sesungguhnya. Estafet pengabdian tidak berhenti ketika seorang santri dinyatakan lulus. Ia terus bergerak. Alumni kembali sebagai orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada almamater, sementara alumni lainnya kembali sebagai pendidik dan penguji yang mengawal lahirnya generasi baru.
Di ruang-ruang wawancara itu, estafet tersebut tampak begitu nyata. Alumni menguji alumni, sementara generasi penerus bersiap melangkah mengikuti jejak orang tua mereka. Sebuah mata rantai pendidikan yang terus menyala, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu semangat: mengabdi kepada almamater, menyiapkan generasi, dan menjaga keberlanjutan peradaban.




