lognews.co.id, Indramayu — Kuliner khas tradisionel es cuwing bisa dijumpai di Indramayu dan Cirebon yang terbuat dari olahan daun cuwing atau Tiliacora triandra. Minuman ini dikenal sebagai pelepas dahaga dengan cita rasa gurih dari santan dan manis gula merah, serta populer saat musim kemarau. (19/2/26)
Cuwing berbentuk gel menyerupai cincau atau agar-agar yang dihasilkan dari remasan daun cuwing. Secara visual mirip cincau, namun cuwing berwarna hijau tua, sedangkan cincau umumnya hitam. Daun cuwing juga berbeda dengan daun cincau karena lebih sempit dan tipis.
Penyajian es cuwing biasanya menggunakan santan kental, sirup gula merah cair, serta es serut. Kombinasi rasa gurih dan manis membuat minuman ini banyak dijajakan pedagang keliling dan warung pinggir jalan, terutama di Indramayu dan Cirebon.
Tanaman cuwing tumbuh di wilayah beriklim tropis dan banyak ditemukan di pesisir Jawa Barat bagian utara. Selain menjadi minuman tradisional, daun cuwing diketahui mengandung klorofil yang dipercaya membantu meredakan panas dalam dan menyegarkan tubuh saat cuaca terik.
Olahan daun cuwing dikenal berkhasiat mendukung kesehatan pencernaan dan membantu meredakan gejala ringan seperti demam atau masuk angin. Namun manfaat tersebut tetap memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut dan tidak menggantikan pengobatan medis.
Sebagai kuliner lokal, es cuwing menjadi identitas daerah seperti halnya es cendol di Bandung atau es dawet di Banjarnegara. Keberadaannya mencerminkan kekayaan minuman tradisional berbasis bahan alami yang masih bertahan di tengah modernisasi kuliner. (Amri-untuk Indonesia)


