Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan, Bapanas Tekankan Mitigasi Gagal Panen dan Penguatan Produksi

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Perubahan iklim menjadi tantangan bagi ketahanan pangan karena pergeseran musim, kekeringan, dan banjir dapat mengganggu produksi pertanian. Menghadapi kondisi tersebut, penguatan mitigasi risiko, pemanfaatan teknologi pertanian, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat.

Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, S.IP., M.P., menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam program Konferensi PERS (Prima Edukasi Ruang Siaran) di Radio Prima 95,8 FM Indramayu, yang di pandu oleh tuan rumah konferensi PERS Dynasti, S.I.Kom. Pada Senin (26/10/2026).

Perubahan Iklim dan Risiko Gangguan Produksi Pangan

Perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi keberlangsungan produksi pertanian. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman, sedangkan curah hujan tinggi dan banjir dapat mengganggu kegiatan budidaya hingga menyebabkan gagal panen di wilayah terdampak.

Maino menjelaskan bahwa penanganan gangguan produksi perlu memperhatikan kondisi dan karakteristik masing-masing wilayah. Faktor geografis, kondisi lahan, serta jenis gangguan yang dihadapi menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah mitigasi.

Fenomena El Niño dan kekeringan, misalnya, perlu diantisipasi melalui informasi cuaca dan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi pertanian setempat.

Karena itu, informasi mengenai potensi gangguan iklim menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan petani untuk menyesuaikan kegiatan pertanian dengan risiko yang mungkin terjadi.

Mitigasi Gagal Panen Membutuhkan Koordinasi Lintas Sektor

Menurut Maino, upaya mengantisipasi gagal panen memerlukan keterlibatan berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah sesuai tugas dan kewenangannya.

Kementerian Pertanian bersama dinas terkait memiliki peran dalam mendukung kegiatan produksi, termasuk penyediaan sarana pertanian. Sementara itu, informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dapat menjadi salah satu dasar dalam mengantisipasi potensi gangguan iklim.

Maino menegaskan bahwa upaya menjaga produksi pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk media dan masyarakat yang berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan.

“Perlu dukungan semua sektor, termasuk radio ini. Ini juga bagian dari edukasi, memberikan informasi ke masyarakat, termasuk juga laporan dari masyarakat, dari petani atau pelaku usaha,” ujar Maino.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi risiko pangan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan arus informasi dari lapangan. Laporan petani dan pelaku usaha mengenai kondisi pertanian dapat membantu memberikan gambaran tentang persoalan yang dihadapi di daerah.

Informasi yang dihimpun secara tepat dapat mendukung identifikasi masalah dan membantu pihak terkait menentukan langkah penanganan sesuai kebutuhan.

Teknologi Pertanian sebagai Upaya Adaptasi

Selain koordinasi, pemanfaatan teknologi pertanian menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi kondisi lingkungan yang berubah.

Dalam pembahasannya, Maino mencontohkan penggunaan teknologi rumah kaca atau greenhouse pada komoditas cabai untuk membantu menghadapi kondisi hujan berkepanjangan. Ia juga menyinggung pengembangan varietas tanaman padi yang memiliki toleransi terhadap kondisi tertentu, seperti salinitas atau kekeringan.

Pemilihan teknologi dan varietas tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, kondisi lingkungan, serta kebutuhan produksi di masing-masing wilayah.

Pendekatan ini penting karena dampak perubahan iklim tidak selalu sama di setiap daerah. Wilayah yang menghadapi kekeringan membutuhkan langkah penanganan yang berbeda dengan daerah yang lebih rentan terhadap banjir atau peningkatan kadar garam pada lahan pertanian.

Dengan penyesuaian teknologi dan pengelolaan budidaya, risiko gangguan produksi diharapkan dapat diantisipasi secara lebih terarah.

Informasi Lapangan Menjadi Bagian dari Mitigasi

Selain dukungan teknis, penyampaian informasi yang akurat juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan. Informasi mengenai kondisi cuaca, potensi gangguan produksi, serta situasi di lapangan dapat membantu masyarakat memahami risiko yang dihadapi sektor pertanian.

Maino menilai media memiliki peran dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menjadi saluran penyampaian informasi dari petani dan pelaku usaha.

Laporan dari lapangan dapat membantu pemerintah mengenali persoalan yang muncul, sedangkan informasi cuaca dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan produksi.

Di sisi lain, koordinasi pemerintah pusat dan daerah tetap diperlukan untuk mengidentifikasi persoalan serta menyelaraskan langkah penanganan. Perbedaan kapasitas anggaran dan sumber daya manusia antardaerah juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program pangan.

Memperkuat Ketahanan Pangan di Tengah Perubahan Iklim

Menghadapi perubahan iklim membutuhkan pendekatan yang menghubungkan mitigasi risiko, dukungan teknologi, koordinasi kelembagaan, dan informasi yang dapat diandalkan. Seluruh aspek tersebut berperan dalam membantu sektor pertanian menghadapi gangguan produksi dan menjaga ketersediaan pangan.

Pembahasan dalam program Konferensi PERS di Radio Prima 95,8 FM Indramayu menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh kesiapan menghadapi risiko yang dapat memengaruhi proses produksi.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan informasi secara tepat, upaya menjaga produksi pertanian dapat dilakukan dengan lebih terarah. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan kondisi iklim. (Saheel untuk Indonesia)