LEMBANG, lognews.co.id – Penggunaan benih bawang merah bersertifikat di kalangan petani masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan mutu perbenihan nasional. Dr. Joko Pinilih, S.P., M.P., memperkirakan penggunaan benih bersertifikat oleh petani saat ini baru mencapai sekitar 5 persen.
Hal tersebut disampaikan Joko saat menjadi narasumber dalam podcast bersama lognews media pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sayuran di BRMP Tanaman Sayuran, Lembang, Kamis (22/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa sebagian besar petani bawang merah masih mengandalkan benih hasil produksi sendiri.
Menurut Joko, benih yang diproduksi secara mandiri tidak otomatis memiliki mutu buruk. Benih tersebut tetap berpotensi menghasilkan tanaman yang baik apabila diproduksi dengan mengikuti langkah-langkah yang benar. Namun, benih yang tidak melalui proses sertifikasi tidak memiliki jaminan mutu formal dari proses pengawasan dan pengujian.
“Sebetulnya bisa saja benih yang tidak bersertifikat itu ditanam juga bagus, tapi tidak ada jaminannya,” jelasnya.
Tantangan Meningkatkan Penggunaan Benih Bermutu
Joko mengatakan, sertifikasi memberikan jaminan karena proses produksi benih diawasi dan hasilnya diuji. Pengawasan tersebut diperlukan untuk memastikan benih memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.
Dalam produksi benih secara mandiri, petani perlu memahami cara menjaga kemurnian varietas dan mencegah tercampurnya benih dengan varietas lain. Proses produksi yang tidak mengikuti kaidah perbenihan dapat menyulitkan petani memastikan kualitas benih yang akan ditanam.
Meski demikian, Joko menilai peningkatan mutu tidak harus semata-mata bergantung pada penggunaan benih bersertifikat. Petani juga perlu dibekali pengetahuan agar mampu menghasilkan benih bermutu melalui proses produksi yang benar.
Pelatihan Menjadi Sarana Transfer Pengetahuan
Menurut Joko, peserta bimtek diharapkan dapat meneruskan materi yang diperoleh kepada petani di daerah masing-masing. Dengan begitu, pengetahuan mengenai produksi benih yang baik dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha tani.
“Harapannya, dengan ada yang pelatihan di sini nanti akan mengajarkan bagaimana memproduksi benih yang baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa peningkatan kesadaran petani menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki praktik perbenihan. Pengetahuan teknis perlu diterapkan secara konsisten agar benih yang dihasilkan memiliki mutu yang baik.
Keterangan mengenai angka penggunaan benih bersertifikat sekitar 5 persen tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan narasumber dalam wawancara. Angka itu perlu dikonfirmasi lebih lanjut melalui data resmi untuk menggambarkan kondisi penggunaan benih bersertifikat secara nasional. (Saheel untuk Indonesia)



