Greenpeace Klarifikasi Relawan Turun dari Patung Selamat Datang Secara Mandiri!

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Greenpeace Indonesia mengklarifikasi informasi mengenai proses penurunan enam relawan yang melakukan aksi memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Para relawan disebut memutuskan turun secara mandiri dengan menggunakan peralatan yang telah mereka persiapkan. Klarifikasi tersebut disampaikan Jeanny Sirait, Climate Justice Campaigner Greenpeace Indonesia, saat diwawancarai melalui sambungan telepon dalam program Konferensi Pers (Prima Edukasi Ruang Siaran) di Radio Prima 95,8 FM Indramayu, Rabu (21/10/2026).

Jeanny menjelaskan, informasi yang menyebut para relawan diturunkan oleh aparat kepolisian tidak sepenuhnya sesuai dengan kronologi yang terjadi. Menurutnya, upaya aparat untuk mencapai posisi para pemanjat sebelumnya terkendala akses dan perbedaan kelengkapan peralatan keselamatan.

“Jadi sebagai ini tambahan cerita aja gitu kronologi, bahwa kemarin itu polisi tidak berhasil juga menurunkan teman-teman,” ujar Jeanny.

Ia mengatakan, para relawan mempertimbangkan keselamatan ketika melihat petugas yang berupaya naik ke atas patung tanpa perlengkapan pengaman yang dinilai memadai.

Menurut Jeanny, para pemanjat akhirnya memutuskan turun karena tidak ingin memaksakan situasi yang berpotensi membahayakan petugas maupun diri mereka sendiri.

“Teman-teman climbers memutuskan untuk turun sebenarnya karena beberapa hal,” katanya.

Jeanny menjelaskan, salah satu pertimbangannya adalah keselamatan petugas yang berupaya mencapai posisi mereka. Selain itu, kondisi cuaca yang panas dan kabut asap di Jakarta turut mengganggu penglihatan serta pernapasan para relawan ketika berada di atas patung.

Atas pertimbangan tersebut, para pemanjat memutuskan mengakhiri aksi dan turun menggunakan peralatan mereka sendiri.

Gunakan Peralatan Milik Tim Pemanjat

Jeanny menegaskan, proses penurunan para relawan dilakukan menggunakan peralatan yang telah disiapkan tim pemanjat Greenpeace. Sistem penurunan yang terlihat dalam dokumentasi, yakni flying fox, merupakan bagian dari peralatan yang mereka gunakan.

Ia menjelaskan, sistem tersebut ditambatkan pada mobil pemadam kebakaran untuk mendukung proses penurunan. Namun, menurut Jeanny, keberadaan mobil pemadam kebakaran tidak berarti petugas membantu secara langsung proses penurunan para relawan.

“Pemadam kebakaran DKI juga sudah klarifikasi bahwa mereka tidak membantu proses penurunannya teman-teman, itu pakai alatnya teman-teman climbers sendiri,” ujarnya.

Jeanny menambahkan, kelengkapan peralatan menjadi bagian dari upaya para relawan untuk meminimalkan risiko selama menjalankan aksi.

Ia juga menjelaskan bahwa para pemanjat merupakan relawan Greenpeace yang memiliki spesialisasi dalam kegiatan climbing. Mereka menjalani latihan rutin sesuai dengan keterampilan masing-masing, sehingga persiapan teknis tidak hanya dilakukan menjelang aksi tersebut.

Enam Relawan Ditempatkan di Rumah Aman

Dalam wawancara yang sama, Jeanny Sirait menyampaikan bahwa enam relawan yang terlibat dalam aksi memanjat Patung Selamat Datang belum kembali ke rumah masing-masing. Mereka sementara ditempatkan di rumah aman yang disediakan Greenpeace Indonesia sebagai bagian dari prosedur keamanan organisasi.

Jeanny meluruskan informasi yang menyebut para relawan telah kembali ke rumah masing-masing setelah aksi tersebut berakhir.

“Pak, bukan ke rumahnya. Kami sediakan safe house buat teman-teman karena memang kondisi keamanan mereka juga saat ini jadi concern kami,” ujar Jeanny.

Ia menjelaskan, penempatan di rumah aman dilakukan untuk memisahkan sementara para relawan dari lingkungan mereka. Langkah tersebut merupakan bagian dari standar keamanan Greenpeace bagi orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan organisasi.

“Jadi sejauh ini mereka masih ada di tempat yang memang kami pisahkan dulu dari lingkungannya,” katanya.

Meski demikian, Jeanny menegaskan bahwa hingga wawancara berlangsung, belum ada indikasi ancaman khusus terhadap para relawan. Ia menyebut penerapan prosedur keamanan tersebut merupakan langkah standar yang diterapkan Greenpeace, bukan karena adanya ancaman tertentu yang telah teridentifikasi.

“Enggak ada indikasi apa-apa, itu standar keamanan di Greenpeace aja,” kata Jeanny.

Menurutnya, para relawan yang terlibat dalam aksi tersebut merupakan sukarelawan yang menginisiasi kegiatan dan meminta dukungan Greenpeace Indonesia untuk membantu mengorganisasi aksi tersebut.

“Jadi mereka ini adalah teman-teman yang memang berinisiasi untuk melakukan aksi ini, dan kemudian minta kami membantu untuk mengorganisir, membantu mereka men-support mereka,” ujarnya.

Jeanny menambahkan, Greenpeace menerapkan standar keamanan bagi para relawan yang bekerja sama langsung dengan organisasi, termasuk mereka yang memiliki keahlian khusus seperti tim pemanjat.

“Teman-teman volunteer memang harus ada standar keamanannya sendiri,” katanya.

Ia berharap tidak ada ancaman terhadap para relawan setelah aksi tersebut. Greenpeace, lanjut Jeanny, tetap memperhatikan aspek keselamatan mereka sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi terhadap orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. (Saheel untuk Indonesia)