Saturday, 05 September 2026

PBB Peringatkan Ancaman Super El Niño, Indonesia Diminta Siaga Hadapi Kemarau Ekstrem dan Karhutla

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

LOGNEWS.CO.ID, – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras terkait potensi Super El Niño yang diprediksi menjadi salah satu fenomena terkuat dalam lebih dari 70 tahun terakhir. Fenomena iklim ini diperkirakan memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dengan dampak berupa kemarau yang lebih panjang, kekeringan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan dunia kini telah memasuki fase yang disebut sebagai "zona bahaya cuaca ekstrem" seiring menguatnya El Niño di Samudra Pasifik.

Menurut Guterres, kenaikan suhu permukaan laut yang terus terjadi menjadi sinyal bahwa dampak El Niño akan semakin luas dan sulit diprediksi.

WMO Prediksi El Niño Berlangsung Hingga Awal 2027

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Niño akan terus berkembang hingga Februari 2027. Data terbaru menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis bagian tengah dan timur meningkat jauh di atas kondisi normal, bahkan di beberapa wilayah mencapai lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata.

Kondisi tersebut membuat para ilmuwan menilai El Niño kali ini berpotensi menjadi yang paling kuat sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.

Sekretaris Jenderal WMO, Prof. Celeste Saulo, mengatakan dampak fenomena ini tidak hanya menyasar kondisi cuaca, tetapi juga berpotensi mengguncang sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat di banyak negara.

Indonesia Diprediksi Mengalami Kemarau Lebih Panjang

Indonesia menjadi salah satu negara yang diperkirakan menerima dampak signifikan dari Super El Niño. WMO memperkirakan kawasan Asia Tenggara akan mengalami penurunan curah hujan dalam beberapa bulan ke depan, sehingga musim kemarau berlangsung lebih lama dibanding biasanya.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.

Saat ini, Indonesia juga tengah menghadapi kebakaran hutan di sejumlah wilayah. Lebih dari 107 ribu hektare lahan di Kalimantan, Sumatra, dan Papua dilaporkan telah terbakar selama musim kemarau tahun ini.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk operasi modifikasi cuaca melalui penyemaian awan untuk memicu hujan di daerah terdampak serta pengerahan sumber daya tambahan guna mempercepat pemadaman kebakaran. Aparat juga telah menangkap puluhan orang yang diduga melakukan pembakaran lahan secara sengaja.

Dampak Global: Banjir, Topan, hingga Gangguan Perdagangan

Selain menyebabkan kekeringan di Asia Tenggara, Super El Niño juga diperkirakan memicu curah hujan ekstrem di wilayah lain, seperti Amerika Selatan, Afrika Timur, dan sebagian Amerika Serikat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir besar dan tanah longsor.

Di China, para ahli memperkirakan hingga tujuh topan akan mencapai daratan sepanjang tahun ini. Sementara di Panama, rendahnya curah hujan memaksa otoritas mengurangi jumlah kapal yang melintasi Terusan Panama lebih dari 10 persen, yang berpotensi mengganggu rantai perdagangan global.

PBB Minta Negara Fokus pada Kesiapsiagaan

PBB menekankan bahwa ancaman Super El Niño harus direspons melalui kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Penguatan sistem peringatan dini, kesiapan layanan kesehatan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi.

 

Fenomena ini juga diperkirakan dapat memperparah dampak perubahan iklim yang telah terjadi akibat aktivitas manusia, sehingga cuaca ekstrem berpotensi menjadi lebih sering dan lebih intens di berbagai wilayah dunia. (Saheel untuk Indonesia)