Lognews.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia membuka peluang kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai, termasuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Penegasan tersebut disampaikan saat menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).
Kerja sama energi nuklir menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlangsung dalam format working lunch di sela forum ekonomi tersebut. Dalam kesempatan itu, Putin menyatakan Rusia siap memperluas kerja sama strategis dengan Indonesia di berbagai sektor, mulai dari pertanian, industri perkapalan, teknologi digital, hingga energi nuklir.
“Kami memberikan perhatian pada pengembangan kerja sama bilateral di bidang pertanian, pembangunan kapal, teknologi digital, dan energi, khususnya energi nuklir,” ujar Presiden Vladimir Putin dalam pertemuan tersebut.
Prabowo: Nuklir untuk Tujuan Damai dan Standar Keselamatan Tertinggi
Menanggapi tawaran tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan investasi dan transfer pengetahuan untuk mempercepat transisi energi nasional. Namun, ia menekankan bahwa pengembangan tenaga nuklir hanya akan dilakukan untuk kepentingan damai dengan mengedepankan standar keselamatan internasional.
Dalam pidato kuncinya di hadapan para kepala negara dan pelaku usaha dunia pada EEF ke-11, Prabowo mengatakan Indonesia tengah mencari mitra dalam pengembangan energi masa depan.
“Kami mencari pengetahuan dan investasi dalam energi terbarukan, jaringan listrik pintar, dan tenaga nuklir damai, termasuk teknologi modular dan skala penuh, di bawah standar keselamatan tertinggi dan perlindungan internasional,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai membuka ruang pembahasan lebih serius mengenai pemanfaatan teknologi nuklir sebagai bagian dari strategi ketahanan energi Indonesia.
Rosatom Sudah Bahas PLTN Sejak Mei 2026
Wacana kerja sama ini sebenarnya telah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Pada Mei 2026, Direktur Jenderal Rosatom Corporation, Alexey Likhachev, bertemu Presiden Prabowo di Istana Negara, Jakarta.
Rosatom merupakan badan usaha milik negara Rusia yang menjadi operator dan pengembang teknologi nuklir terbesar di dunia. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas peluang pembangunan PLTN di Indonesia, termasuk pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi nuklir di sektor kesehatan, pertanian, dan industri.
Pembahasan saat itu masih berada pada tahap awal penjajakan dan belum menghasilkan keputusan pembangunan proyek tertentu.
PLTN Masuk Strategi Transisi Energi Indonesia
Pemerintah Indonesia menargetkan mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Untuk mencapai target tersebut, kebutuhan listrik nasional diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan industri, kendaraan listrik, dan pembangunan kawasan ekonomi baru.
Dalam dokumen Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), pemerintah memasukkan energi nuklir sebagai salah satu sumber energi rendah karbon yang dapat mulai dimanfaatkan pada dekade 2030-an apabila seluruh persyaratan teknologi, regulasi, keselamatan, dan penerimaan publik telah terpenuhi.
Indonesia juga telah memiliki pengalaman panjang dalam penelitian nuklir melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengoperasikan reaktor riset di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Namun hingga kini Indonesia belum memiliki PLTN komersial untuk memasok listrik ke jaringan nasional.
SMR Jadi Teknologi yang Banyak Dipertimbangkan
Salah satu teknologi yang disebut Presiden Prabowo adalah Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor modular kecil.
SMR memiliki kapasitas listrik yang lebih kecil dibanding PLTN konvensional, umumnya berkisar 50 hingga 300 megawatt per unit. Teknologi ini dinilai lebih fleksibel, dapat dibangun secara bertahap, membutuhkan lahan lebih kecil, dan dirancang dengan sistem keselamatan pasif yang mampu mengurangi risiko kecelakaan.
Rusia melalui Rosatom termasuk salah satu negara yang telah mengembangkan teknologi SMR, termasuk PLTN terapung Akademik Lomonosov yang beroperasi di wilayah Arktik.
Kerja Sama Energi Perkuat Hubungan Indonesia-Rusia
Selain isu nuklir, pertemuan Prabowo dan Putin juga membahas penguatan hubungan ekonomi kedua negara di kawasan Asia-Pasifik. Prabowo hadir di EEF ke-11 sebagai tamu kehormatan utama atas undangan Presiden Putin, menandai semakin intensifnya hubungan bilateral Indonesia dan Rusia sepanjang 2026.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, terbuka bekerja sama dengan seluruh negara tanpa berpihak pada blok atau aliansi tertentu. Menurutnya, kerja sama dengan Rusia merupakan bagian dari upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi, investasi, dan pembangunan jangka panjang demi kepentingan nasional. (Saheel untuk Indonesia)



