lognews.co.id — Video seorang anak berusia empat tahun yang kerap terbangun sambil menangis dan berteriak saat tidur viral di media sosial dan dikaitkan dengan kondisi night terror atau teror malam. Peristiwa tersebut disebut terjadi berulang dalam periode tertentu dan muncul terutama saat anak baru memasuki fase tidur lelap.
Night terror merupakan gangguan tidur yang umumnya terjadi pada anak usia prasekolah dan sekolah dasar. Kondisi ini ditandai dengan terbangun mendadak dalam keadaan panik, berteriak, menangis, namun tidak sepenuhnya sadar dan biasanya tidak mengingat kejadian tersebut keesokan harinya.
Secara medis, night terror berbeda dengan mimpi buruk biasa. Teror malam terjadi pada fase tidur non-REM, biasanya di awal malam, sementara mimpi buruk muncul pada fase REM dan lebih mudah diingat anak saat bangun. Pada night terror, anak sulit ditenangkan karena masih berada dalam kondisi setengah sadar.
Sejumlah faktor dapat memicu night terror, antara lain kelelahan, kurang tidur, stres, demam, hingga overstimulasi dari tontonan atau aktivitas sebelum tidur. Pola tidur yang tidak teratur juga dapat meningkatkan risiko gangguan tidur ini.
Pakar menyarankan orang tua tidak membangunkan anak secara paksa saat episode berlangsung, melainkan memastikan lingkungan aman dari risiko cedera dan menenangkan dengan suara lembut hingga episode mereda. Konsultasi medis diperlukan jika frekuensi sering, berlangsung lama, atau disertai gejala lain yang mengganggu aktivitas harian.
Night terror umumnya bersifat sementara dan dapat membaik seiring pertumbuhan anak. Orang tua dianjurkan menjaga rutinitas tidur konsisten, membatasi paparan layar sebelum tidur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman untuk mendukung kualitas istirahat anak. (Amri-untuk Indonesia)


