NDRAMAYU, lognews.co.id - Kehadiran Dr. (H.C.) Gita Irawan Wirjawan, B.B.A., M.B.A., M.P.A. dalam rangkaian Milad ke-80 Syaykh Al Zaytun di Kampus Ma'had Al- aytun, Indramayu, memberikan kesan mendalam. Mantan Menteri Perdagangan RI tersebut mengaku terkesan dengan skala kawasan pendidikan, konsep kemandirian, hingga kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Al Zaytun.
Hal itu disampaikannya saat doorstop bersama LognewsMedia usai menyampaikan orasi ilmiah di Grand Musholla Rahmatan Lil Alamin, Kampus Ma'had Al Zaytun.
Kunjungan Perdana, Gita Terpukau Skala dan Kemandirian Al-Zaytun
Gita mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Ma'had Al-Zaytun. Ia mengaku tidak menyangka kawasan pendidikan tersebut memiliki fasilitas yang begitu lengkap dan terintegrasi.
"Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Syaykh Al-Zaytun. Ini pertama kali saya datang ke sini. Terus terang saya tidak menyangka skalanya begitu besar. Masjidnya seperti ini, sarana pendidikannya seperti ini, sarana pertaniannya seperti ini," ujar Gita.
Menurutnya, keberhasilan Al-Zaytun tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang menjadi penggerak seluruh sistem pendidikan.
"Yang lebih penting adalah sumber daya manusianya luar biasa. Apa yang sudah dilakukan Al-Zaytun menurut saya sudah sangat baik. Tinggal bagaimana best practice yang sudah ada ini dapat ditularkan kepada masyarakat yang lebih luas," katanya.
Ia menilai konsep kemandirian yang dibangun Al-Zaytun tidak hanya sebatas swasembada pangan, tetapi juga mencakup kemampuan menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
"Bayangkan kalau model seperti ini dapat direplikasi dari Sabang sampai Merauke. Menurut saya, ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kepentingan nation building Indonesia," tambahnya.
Kunci Replikasi Ada pada Human Capital
Menanggapi gagasan Syaykh Al-Zaytun mengenai pengembangan 500 pusat pendidikan, Gita menilai konsep tersebut sangat realistis untuk diwujudkan. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada infrastruktur.
"Sangat memungkinkan. Tetapi semuanya kembali kepada sumber daya manusianya. Kita bisa membangun ratusan bahkan ribuan titik, tetapi yang harus dipastikan bukan hanya hardware, melainkan juga software, yaitu human capital yang mampu mengeksekusinya," jelasnya.
Menurut Gita, investasi pada manusia merupakan fondasi utama agar model pendidikan seperti Al-Zaytun dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia.
Apresiasi terhadap Konsep LSTEAM Al-Zaytun
Dalam wawancara tersebut, Gita juga memberikan apresiasi terhadap penerapan konsep LSTEAM (Life Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Spiritual) yang telah dikembangkan Ma'had Al-Zaytun sejak satu dasawarsa lalu.
Menurutnya, pendekatan tersebut mampu menggabungkan kemampuan berpikir logis dan kreatif sehingga peserta didik memiliki wawasan yang lebih luas.
"Itu merupakan manifestasi dari kapasitas untuk mengombinasikan penggunaan otak kiri dan otak kanan. Semakin luas wawasan seseorang, semakin besar pula kemampuannya mengantisipasi blind spot serta memitigasi berbagai risiko," katanya.
Ia menambahkan, pendekatan seperti ini memungkinkan peserta didik melakukan spesialisasi pada tahap yang lebih matang sehingga memiliki perspektif yang lebih komprehensif.
Keterbukaan Menjadi Kekuatan Pendidikan
Di akhir wawancara, Gita menyampaikan pandangannya mengenai sosok Syaykh Al-Zaytun setelah melihat langsung kawasan pendidikan beserta sistem yang diterapkan.
Ia menilai Syaykh Al-Zaytun berhasil membangun konsep pendidikan yang mengedepankan kemandirian sekaligus keterbukaan terhadap berbagai sumber ilmu pengetahuan.
"Tadi saya melihat yang hadir bukan hanya umat Islam, tetapi juga banyak non-Muslim. Ini mengingatkan pada Bayt al-Hikmah atau House of Wisdom yang membuka ruang bagi ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dan berbagai keyakinan," ujarnya.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi modal penting dalam membangun tradisi intelektual yang sehat.
"Kalau itu dikombinasikan dengan proses intelektual yang kuat dan keterbukaan, insyaallah hasilnya akan menjadi sesuatu yang luar biasa," tuturnya.
Layak Menjadi Role Model Pendidikan Nasional
Menutup wawancara, LognewsMedia menanyakan apakah Ma'had Al-Zaytun layak menjadi salah satu role model pendidikan di Indonesia.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Gita menjawab singkat namun penuh keyakinan.
"Siap," pungkasnya.
Pernyataan tersebut mempertegas penilaiannya bahwa sistem pendidikan, konsep kemandirian, pengembangan sumber daya manusia, serta keterbukaan intelektual yang diterapkan Ma'had Al-Zaytun merupakan model yang layak menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan nasional. (Sahil Untuk Indonesia)



