السبت، 29 آب/أغسطس 2026

Mahad Al-Zaytun Dorong Inovasi Pertanian Organik bersama pelajar

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Pelajar Ekstrakurikuler Pertanian Mahad Al Zaytun terus mengembangkan inovasi pertanian organik melalui kegiatan praktikum lapangan yang memadukan pembelajaran teori dan praktik. Sebanyak 20 siswa kelas X mengikuti praktik pemberian pupuk kompos berbahan dasar daun jati kering pada tanaman padi varietas Hoshikari di lahan praktikum Raden Paku Mahad Al Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).

Kegiatan tersebut dipandu langsung oleh guru pembimbing, Ustadz Widodo. Praktikum menjadi bagian dari pembelajaran Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) yang bertujuan membentuk generasi muda yang memahami pertanian modern sekaligus memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Menurut Ustadz Widodo, sebanyak 20 peserta yang terdiri atas 16 siswa laki-laki dan empat siswi perempuan mengikuti proses penyebaran kompos yang berasal dari limbah organik daun jati kering. Pemanfaatan daun jati dipilih karena jumlahnya melimpah di lingkungan Mahad Al Zaytun, terutama saat musim kemarau ketika daun-daun berguguran.

"Kami memanfaatkan limbah daun jati yang selama ini banyak tersedia. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian sederhana yang kami lakukan, kompos dari daun jati memiliki kandungan yang baik untuk memperbaiki kondisi tanah, khususnya lahan persawahan," ujarnya.

Ia menjelaskan, penggunaan kompos organik bertujuan memperbaiki struktur tanah yang mulai mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.

"Kalau tanah tidak diberi bahan organik, strukturnya lama-kelamaan akan rusak. Karena itu kami mengambil inisiatif menggunakan kompos dari daun jati yang tersedia di sekitar lahan. Selain ramah lingkungan, bahan bakunya juga tidak perlu membeli," katanya.

Belajar Langsung di Lahan Pertanian

Praktikum tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran sejak awal semester. Para siswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman padi.

Ustadz Widodo menjelaskan, tanaman padi varietas Hoshikari yang menjadi objek praktikum telah memasuki usia sekitar 55 hari atau fase generatif sehingga membutuhkan tambahan nutrisi untuk mendukung proses pembentukan bulir padi.

"Anak-anak kami ajak melakukan penelitian langsung. Mereka mengukur tinggi tanaman, menghitung populasi, mengamati hama dan penyakit, hingga memahami kebutuhan nutrisi tanaman. Tujuannya agar mereka tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktik di lapangan," jelasnya.

Tanamkan Jiwa Inovasi Sejak Dini

Salah seorang pelajar, Athaya Fikri Rizkulloh, mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sektor pertanian akan menjadi bidang yang sangat penting di masa depan sehingga generasi muda harus mulai terlibat sejak sekarang.

"Saya merasa menjadi pionir dunia karena ke depan pangan akan menjadi kebutuhan utama. Investor global juga mulai banyak melirik sektor pertanian. Saya berharap Al Zaytun menjadi pionir dan Indonesia menjadi salah satu penghasil pangan terbaik di dunia," ungkap Ataya.

Ia juga menegaskan tidak merasa malu memilih bidang pertanian sebagai fokus pembelajarannya.

"Bagi saya tidak masalah kotor di sawah. Yang penting saya bisa ikut membangun dunia melalui pertanian," katanya.

Berbasis Teknologi Pertanian Modern

Sementara itu, pelajar lainnya, Kachla Hutama Nasution, mengatakan dirinya bersama rekannya memiliki cita-cita mengembangkan sistem pertanian berbasis teknologi.

Menurutnya, mereka ingin membangun sebuah sistem bernama Smart Farming Operation System (SFOS) sebagai solusi pengelolaan pertanian yang lebih modern, efisien, dan otomatis.

"Kami ingin mengembangkan sistem operasi pertanian yang dapat diterapkan pada lahan sawah maupun budidaya lainnya sehingga pengelolaan pertanian menjadi lebih otomatis dan efisien," ujar Kahla.

Ia juga menilai penggunaan kompos daun jati merupakan pilihan yang tepat karena mudah diperoleh di lingkungan Mahad Al Zaytun sekaligus mampu meningkatkan kesuburan tanah secara alami.

Siapkan Generasi Pertanian Berdaya Saing Global

Menanggapi semangat para pelajar, Ustadz Widodo mengatakan Mahad Al Zaytun terus mengembangkan kurikulum yang mampu menjawab tantangan pertanian modern. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi sehingga pendidikan pertanian perlu diarahkan menuju inovasi berbasis digital.

"Kami sebagai pembimbing mengarahkan mereka agar memiliki cara berpikir global. Kurikulum yang kami susun diharapkan mampu menghasilkan lulusan Mahad Al Zaytun yang siap bersaing di tingkat dunia, baik dalam bidang pertanian maupun penguasaan teknologi," tuturnya.

Melalui kegiatan praktikum tersebut, Mahad Al Zaytun berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya memahami ilmu pertanian secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan praktik, jiwa inovasi, serta kepedulian terhadap pertanian berkelanjutan. Pembelajaran langsung di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi para pelajar untuk berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional sekaligus menghadapi tantangan sektor pertanian di masa depan. (Sahil untuk Indonesia)