Oleh: Wiwin Suwiani, S.Pd.I
lognews.co.id - Minggu (28/6/2026) siang, suasana hangat menyelimuti kediaman Ibu Shofiyah di Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu. Sejak pukul 13.30 WIB, puluhan ibu-ibu warga belajar dan anggota masyarakat berkumpul untuk mengikuti kegiatan istighosah rutin yang diselenggarakan setiap dua pekan secara bergiliran dari rumah ke rumah.
Di tengah kesibukan mengurus keluarga dan menjalani rutinitas kehidupan, ternyata masih tersimpan satu impian yang belum pernah benar-benar padam: keinginan untuk kembali belajar. PKBM Al Zaytun hadir bukan sekadar membuka ruang pendidikan kesetaraan, tetapi juga membangkitkan harapan yang lama terpendam, meneguhkan keyakinan bahwa belajar tidak mengenal usia, waktu, maupun latar belakang. Dari majelis-majelis sederhana di tengah masyarakat, semangat itu kembali menemukan nyalanya.
Kegiatan dibuka oleh Ibu Sriyatun, alumni PKBM Al Zaytun yang kini sedang menempuh pendidikan strata satu sekaligus mengabdikan diri sebagai pendidik di salah satu RA di Kecamatan Gantar. Setelah sambutan tuan rumah, rangkaian istighosah, tahlil, dan pembacaan Surah Yasin dipimpin oleh Ibu Nurhasanah dengan suasana yang khusyuk dan penuh kekeluargaan.
Namun, istighosah kali ini memiliki makna yang lebih luas. Kehadiran Ibu Winarsih, S.Pd., tutor PKBM Al Zaytun, menjadikan majelis spiritual tersebut juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan berbagai program PKBM Al Zaytun sekaligus mengajak masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan kesetaraan untuk bergabung.
Menurutnya, PKBM Al Zaytun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan. Proses pembelajaran bagi peserta didik dewasa pun dirancang fleksibel sehingga tidak mengganggu aktivitas bekerja maupun mengurus keluarga. Pendekatan inilah yang membuat pendidikan menjadi semakin dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat.
Sebelum penyampaian materi dari tutor PKBM, peserta terlebih dahulu memperoleh informasi dari Ibu Wiwin Suwiani, penulis pemula yang aktif berkarya dan saat ini sedang berjuang menembus penerbit mayor. Ia membagikan berbagai perkembangan program Paguyuban Istri Peduli (PIP), mitra strategis PKBM Al Zaytun dalam pemberdayaan masyarakat.
Di hadapan peserta, Wiwin menjelaskan bahwa PIP telah membuka toko daring sebagai wadah pemasaran berbagai hasil karya anggota PIP dan warga belajar PKBM Al Zaytun. Selain itu, dalam waktu dekat akan diselenggarakan bazar bersama PKBM Al Zaytun yang juga akan dimeriahkan penampilan seni angklung oleh ibu-ibu anggota PIP dan warga belajar. Program-program tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kreativitas, kemandirian ekonomi, dan rasa percaya diri masyarakat.
Peran PIP dalam mendampingi masyarakat juga diperkuat melalui berbagai program kerohanian dan sosial. Ibu Nurhasanah, selaku penggerak kegiatan istighosah sekaligus tim kerohanian PIP, mengingatkan pentingnya belajar sepanjang hayat. Ia juga menyampaikan salah satu program unggulan yang telah dilaksanakan, yakni pelatihan pemulasaraan jenazah sebagai bekal ilmu fardhu kifayah yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Suasana semakin mengharukan ketika para alumni PKBM Al Zaytun menyampaikan kesan dan pesan. Ibu Siti Isnaeni, Ibu Tutik, dan Ibu Siti Salamah yang kini sedang menempuh pendidikan di IAI Al Aziz, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan belajar yang telah mengubah cara pandang dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Kesaksian mereka menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan mampu membuka jalan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Menjelang penutupan acara pukul 15.25 WIB, seluruh peserta mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama. Namun, pengabdian hari itu belum berhenti. Ibu Winarsih melanjutkan silaturahmi dengan mendatangi dua calon warga belajar di rumah masing-masing untuk melengkapi proses administrasi pendaftaran.
Di balik kunjungan tersebut tersimpan pesan penuh makna dari Ketua PKBM Al Zaytun, Ibu Sri Wahyuni, S.Pd. Meski tidak dapat hadir secara langsung, beliau mengutus tim pendidikan untuk menyampaikan semangat yang selama ini menjadi ruh perjuangan PKBM Al Zaytun: menggali dan mengokohkan semangat belajar yang telah lama terkubur oleh waktu dan terpendam di tengah beragam tuntutan kehidupan.
Ikhtiar itu membuahkan hasil menggembirakan. Dua warga Sukaslamet yang sebelumnya belum terdaftar, yakni Siti Muro'ah dan Siti Maryati, menyatakan kesiapannya bergabung sebagai warga belajar PKBM Al Zaytun. Dengan bergabungnya keduanya, seluruh sasaran warga belajar di Blok Sukaslamet dinyatakan telah tuntas.
Bagi PKBM Al Zaytun, keberhasilan tersebut bukan sekadar bertambahnya jumlah peserta didik. Lebih dari itu, setiap warga yang kembali berani melangkah ke dunia pendidikan adalah lahirnya harapan baru—bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, tidak ada usia yang menghalangi ilmu, dan tidak ada mimpi yang terlalu lama terkubur untuk kembali diwujudkan. Dari rumah-rumah sederhana, melalui istighosah dan silaturahmi, PKBM Al Zaytun terus menyalakan cahaya pendidikan bagi masyarakat.



