الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Al-Zaytun Dorong Pembangunan 500 Pusat Pendidikan Berasrama, Prof. Makrum Nyatakan Dukungan

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

BATANG, lognews.co.id – Gagasan besar pembangunan pendidikan berasrama terintegrasi di 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan akademisi. Salah satunya datang dari Prof. Dr. Makrum Kholil, M.Ag., Guru Besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yang menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Prof. Makrum saat menerima kunjungan jurnalis Radio Prima 95,8 FM beserta tim di kediamannya pada Senin malam (22/6/2026), dalam suasana dialog santai selepas Salat Isya.

Foto: Jurnalis Radio Prima 95,8 FM pak Husna di kediaman Prof. Makrum saat di wawancarai

Menurut Prof. Makrum, semangat kebangkitan pendidikan nasional yang ia rasakan saat menghadiri Peringatan 1 Syuro 1448 Hijriah pada 16 Juni 2026 lalu masih terus menggelora dan menjadi energi positif bagi masa depan pendidikan Indonesia.

"Saya melihat gagasan pembangunan pendidikan berasrama ini sangat strategis dan memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan Indonesia ke depan. Saya optimistis program ini dapat diwujudkan. Insya Allah saya siap memfasilitasi pengadaan lahan untuk arena pendidikan maupun lahan penunjang lainnya," ujarnya.

Ia juga menyatakan kesiapan untuk membangun komunikasi dan melakukan lobi kepada berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta, guna mendukung realisasi program tersebut.

"Insya Allah saya memiliki peluang untuk melakukan komunikasi dan lobi-lobi kepada pemerintah maupun kalangan swasta agar program ini mendapatkan dukungan yang lebih luas," tambahnya.

Grand Design Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045

Program pembangunan pendidikan berasrama di 500 titik merupakan bagian dari Grand Design Transformasi Devolusi Pendidikan yang digagas oleh Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Panji Gumilang.

Gagasan tersebut lahir melalui rangkaian Simposium Pendidikan yang berlangsung selama satu tahun penuh, mulai 1 Juni 2025 hingga 1 Juni 2026. Simposium itu menghadirkan sekitar 50 profesor dan pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas arah pembangunan pendidikan nasional dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 sekaligus peringatan 100 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Konsep pendidikan berasrama yang ditawarkan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan sosial secara terpadu.

Tantangan Pendidikan Nasional

Meskipun berbagai indikator pembangunan manusia Indonesia menunjukkan tren peningkatan, sektor pendidikan masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2025 mencapai 75,90, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 75,02. Pada dimensi pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 13,30 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) baru mencapai 9,07 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Indonesia masih menempuh pendidikan setara kelas IX SMP.

IPM sendiri dibangun atas tiga dimensi utama, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Dengan demikian, kualitas pendidikan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Prof. Makrum, pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus didukung oleh pembangunan manusia yang kuat melalui pendidikan yang terintegrasi.

"Pendidikan harus menjadi fondasi utama pembangunan nasional. Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas, maka kualitas manusianya harus dipersiapkan sejak sekarang melalui sistem pendidikan yang mampu membentuk intelektualitas, karakter, dan kemandirian peserta didik," jelasnya.

Pendidikan Berasrama sebagai Role Model Masa Depan

Prof. Makrum menilai model pendidikan berasrama terintegrasi memiliki potensi menjadi role model pembangunan pendidikan nasional karena mampu menggabungkan berbagai aspek pembinaan dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Menurutnya, pembangunan nasional harus berlandaskan pendekatan yang menyeluruh dalam bidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, dan Keamanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM). Dalam konteks tersebut, pendidikan menjadi instrumen strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjaga jati diri bangsa.

"Pendidikan berasrama terintegrasi bukan hanya kebutuhan hari ini, tetapi kebutuhan Indonesia masa depan. Kita membutuhkan generasi yang unggul secara ilmu pengetahuan, kuat secara moral, sehat secara fisik, memiliki wawasan kebangsaan, dan mampu bersaing di tingkat dunia," tegasnya.

Ia berharap berbagai elemen bangsa dapat bersinergi untuk mendukung lahirnya pusat-pusat pendidikan berasrama di berbagai daerah sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.

 

"Kalau kita serius membangun pendidikan hari ini, maka kita sedang membangun peradaban Indonesia untuk seratus tahun ke depan," pungkasnya. (Husna untuk Indonesia)