الجمعة، 06 شباط/فبراير 2026

Ketika Doa, Tanah, dan Masa Depan Bertemu di Sabtu Kliwon

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indonesia -  Apakah doa masih punya daya di tengah banjir kabar bohong, prasangka, dan bencana yang kian sering? Ataukah justru dari doa yang sunyi dan tekun akan lahir peradaban yang kokoh? Sabtu Kliwon di Al Zaytun memberi jawaban dengan caranya sendiri: menghamparkan tikar kesabaran, melantunkan ayat demi ayat, dan menanam harapan sampai berbuah.

1000282109

Malam Jumat, 2 Januari 2026, ribuan langkah menapak Masjid Rahmatan Lil Alamin. Sekitar seribu jamaah dari Indramayu dan Cirebon berbaur dalam satu niat, yaitu khataman Al-Qur’an dan istighasyah. Seusai shalat Maghrib berjamaah, tradisi Kliwonan dibuka. Tiga puluh orang dipilih membaca masing-masing satu juz; selebihnya mengalirkan ayat-ayat yang telah dihafal. Suara-suara itu bukan sekadar bacaan, ia menjadi denyut yang menyatukan.

1000282101

Dari Ujung Gebang, Ustadz Mansyur, perwakilan Kabupaten Cirebon, mengawali kesaksian. Di daerahnya, bibit belum ditebar karena sedekah bumi belum digelar, yaitu sebuah ikhtiar agar panen kelak baik. Ia membuka salam dari Surah Az-Zumar ayat 73: salam ahli surga bagi mereka yang berbahagia. Di hadapan jamaah, ia menuturkan tunjuk ajar yang ia petik dari Syaykh Al Zaytun: membangun peradaban setahap demi setahap. Hari ini lantai satu, kelak hingga lantai tujuh. Santri bertambah, pertanian bergerak, kurikulum LSTEAMS menjadi poros. “Beliau pemberi inspirasi,” ucapnya, menyebut Syaykh sebagai teladan nasionalis yang memadukan iman dan ikhtiar.

1000282104

Nada berbeda datang dari Indramayu. Ustadz Mukhozin mengucap terima kasih atas kesempatan hadir, lalu jujur membuka luka. Ia pernah diprotes, dituding, bahkan diseret isu-isu liar: dari kabar dianggap Yahudi hingga tuduhan syahadat berbeda. “Kami istiqamah,” katanya. Ia mengingatkan kaidah: khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Masjid dibangun, pendidikan ditegakkan. Doa-doa malam itu adalah ikhtiar agar harap yang diinginkan menemukan jalannya.

1000282097

Suara perempuan menyempurnakan malam. Ust. Leni Marlina, mewakili para ibu, mengucap selamat tahun baru dengan semangat baru, seraya menitip doa bagi mereka yang tertimpa musibah. Ia menyebut jamaah malam itu sebagai orang-orang terpilih: sejak gerbang masuk, pelajaran telah dimulai. Sawah-sawah yang digarap anak muda, sebuah pemandangan langka di banyak daerah. Di sini, generasi disiapkan mencintai pertanian dengan sains dan teknologi. “Semua orang butuh makan,” katanya lirih namun tegas. “Petanilah yang menyiapkannya.” Doanya mengalir untuk Syaykh, agar Indramayu kian maju.

1000282092

Pesan penutup mengikat makna. Ketua Jamaah Kabatullah Indonesia, Syafrudin Ahmad, SH. MH. mengingatkan tragedi akhir tahun di Sumatera, banjir besar, korban berjatuhan. Ia mengutip peringatan Ilahi dalam Surat Ar-Rum: 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat tangan manusia. Lalu mengajukan mafhum mukhalafahnya: bila keburukan lahir dari ulah manusia, kebaikan pun bisa lahir dari tangan yang sama. Dari sinilah Syaykh menyerukan trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial.

Ia menautkannya dengan perumpamaan Surah Ibrahim ayat 24: pohon yang baik berakar kuat, berbatang tegak, dan berbuah sepanjang masa. Akar adalah rencana, program dan nilai kesadaran filosofis yang berlandaskan ketuhanan. Ia masih tersembunyi dalam hati dan pemikiran. Batang adalah tindakan, wujudnya kesadaran ekologis yang menghormati alam. Buahnya adalah hasil, berupa kesadaran sosial yang menyejahterakan. Kliwonan, kata Syafrudin, adalah praktik kesadaran sosial itu sendiri.

Tunjuk ajar Surat Quraisy kembali mengemuka: fal ya‘budû rabba hâdzal-bait, alladzî ath‘amahum min jû‘in wa âmanahum min khauf. Ini isyarat bahwa cukup makan dan aman, itulah bahagia. Maka kemandirian pangan dan pendidikan yang baik menjadi penentu.
Tahun 2026, Al Zaytun memasuki periode perkebunan dengan menanam durian duri hitam: 40.000 pohon. Sebanyak 5.000 pohon ditanam di dalam kampus, 10.000 di Ciputat, 5.000 di Ciawi Tali Sumedang, sisanya di Garut dan Tasikmalaya. “Tanam saja,” pesan Syaykh, menolak bisik-bisik yang melemahkan. Dirawat, ia akan berbuah. Maka petani kuat, negara jaya.

Malam itu ditutup dengan shadaqah yang terkumpul Rp4.746.000; total kas jamaah mencapai Rp411.646.000. Angka-angka itu mungkin belum terlalu besar, namun memiliki makna yang besar. Satu saat menjadi modal gerakan ekonomi rakyat. Di Sabtu Kliwon, doa dipanjatkan, tanah disiapkan, dan masa depan ditanam. Barangkali, peradaban memang tumbuh paling kokoh dari perkara-perkara yang dilakukan dengan sabar, berulang, dan setia. (Amri-untuk Indonesia)

"Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah"