الجمعة، 06 شباط/فبراير 2026

Pertanian Islandia Andalkan Panas Bumi

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Dunia - Bayangkan sebuah negeri di ujung utara dunia, dikepung es dan api, dengan tanah yang nyaris mustahil ditanami. Bertani adalah mimpi yang nyaris mustahil. Itulah Islandia di masa lalu.

Namun hari ini, negara terpencil itu justru menjelma menjadi pusat industri global dari pabrik-pabrik berat hingga pusat data kecerdasan artifisial.

Bagaimana mungkin sebuah negara yang “gagal” di sektor pertanian justru bangkit dan menjadi pemain penting dunia? Jawabannya terletak pada kemampuan Islandia mengubah keterbatasan geografis menjadi kekuatan ekonomi: energi panas bumi dan tenaga air.

Energi Alam sebagai Mesin Perubahan

Secara geologis, Islandia berdiri di atas Mid-Atlantic Ridge, jalur patahan lempeng tektonik yang membuat wilayah ini dipenuhi gunung berapi aktif dan mata air panas. Dahulu, kondisi ini dianggap ancaman. Kini, justru menjadi sumber daya strategis.

Energi panas bumi dimanfaatkan untuk listrik, pemanas rumah, hingga pertanian modern. Saat ini, sekitar 90 persen rumah tangga di Islandia terhubung ke jaringan pemanas berbasis panas bumi. Energi ini juga mengalir ke rumah-rumah kaca yang memungkinkan pertanian berlangsung di tengah iklim dingin ekstrem.

Di pinggiran Reykjavik, rumah kaca milik Tomas Ponzi menjadi simbol transformasi tersebut. Di luar, suhu hanya sekitar 12 derajat Celsius, tetapi di dalam rumah kaca suhu dijaga pada kisaran 20 derajat—kondisi ideal bagi tanaman tomat.

Air panas dipompa dari sumur bawah tanah melalui jaringan pipa untuk menciptakan suhu stabil bagi tanaman. Dengan teknologi ini, tomat yang tumbuh di Islandia mampu menyaingi kualitas tomat dari negara-negara Mediterania.

Pertanian di Negeri Es

Eksperimen pertanian di Islandia tidak berhenti pada tomat. Di wilayah barat daya yang dekat dengan sumber panas bumi, berbagai rumah kaca dikembangkan untuk menanam sayuran dan buah-buahan yang sebelumnya mustahil tumbuh di sana.

Di salah satu universitas pertanian Islandia, bahkan terdapat perkebunan pisang paling utara di dunia. Selama lebih dari 70 tahun, pisang dibudidayakan di rumah kaca dengan suhu tropis yang diciptakan oleh energi panas bumi.

Fenomena ini mengubah pola konsumsi masyarakat Islandia. Jika dahulu makanan utama didominasi ikan, daging, dan produk fermentasi, kini sayuran segar menjadi bagian penting dari budaya kuliner mereka.

Dari Keterbatasan ke Keunggulan Global

Transformasi Islandia menunjukkan bahwa keterbatasan alam tidak selalu menjadi hambatan. Dengan strategi energi yang visioner, negara ini berhasil membangun fondasi ekonomi berbasis sumber daya terbarukan.

Energi murah dan ramah lingkungan menarik industri berat, teknologi, dan pusat data global. Dari negeri yang pernah kesulitan bertani, Islandia kini berdiri sebagai contoh bagaimana inovasi dan keberanian strategi mampu mengubah nasib sebuah bangsa.

Islandia bukan hanya kisah tentang energi, tetapi juga tentang cara sebuah negara mengubah “kutukan alam” menjadi keunggulan peradaban. (Amri-untuk Indonesia)