Oleh Ali Aminuloh
lognews.co.id - Jumat siang, 19 Desember 2025, suasana Masjid Rahmatan Lil Alamin di Ma'had Al-Zaytun terasa terasa sangat. Dalam taushiyah Dzikir Jumat, Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, menyampaikan sebuah ikhtiar besar: menata ulang denyut pendidikan Al-Zaytun melalui implementasi LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual) sebagai ruh kurikulum dari hulu ke hilir.
Arahan itu bukan sekadar seruan normatif. Syaykh meminta seluruh kepala satuan pendidikan, dari PAUD hingga perguruan tinggi, dari pendidikan kesetaraan PKBM Al-Zaytun, asrama, hingga Komite Olahraga dan Seni Ma’had Al-Zaytun (Kosmaz) agar segera menyusun konsep implementasi LSTEAMS sesuai karakter masing-masing satuan. Sebuah kerja kolosal, lintas jenjang, lintas ruang, dan lintas disiplin.
Untuk memastikan orkestrasi berjalan rapi, Syaykh menugaskan Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd. dan Ketua Majelis Pengendali Asrama Pelajar (MPAP), Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. sebagai koordinator perumusan. Kepemimpinan kolektif ini menandai keseriusan Al-Zaytun: perubahan harus dipikirkan, dirancang, dan dikerjakan bersama.
Langkah cepat pun diambil. Selasa, 23 Desember 2025, ruang rapat Majelis Guru Gedung Abu Bakar menjadi saksi awal kerja sunyi yang menentukan. Selama satu setengah jam, Majelis Guru dan Majelis Asrama duduk satu meja, menyelaraskan peta jalan. Mereka membahas pembentukan tim perumus di tiap satuan pendidikan dan instansi, lalu menyusun rancangan garis besar pemetaan mata pelajaran, mata kuliah, kegiatan, serta pendidik yang relevan dengan LSTEAMS.

Diskusi mengalir dari yang konkret hingga yang visioner. Unsur Law nantinya dipetakan melalui mata pelajaran, tema belajar, dan kegiatan yang beririsan dengan hukum, lengkap dengan siapa pendidik yang mengampu. Demikian pula Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, hingga Spiritual: semuanya ditata agar saling menyapa, saling menguatkan, dan hadir nyata dalam kelas, lapangan, serta kehidupan asrama.
Rumusan awal ini bukan titik akhir. Ia disiapkan sebagai bahan konsultasi dan dialog lanjutan dengan Syaykh Al-Zaytun yang dijadwalkan pada Kamis berikutnya. Di sanalah visi dan detail akan dipertautkan, agar LSTEAMS tidak berhenti sebagai jargon, melainkan menjelma praksis pendidikan.
Pada akhirnya, LSTEAMS diproyeksikan menjadi nafas kurikulum Al-Zaytun yang menyatu dalam pendidikan formal di ruang kelas, pendidikan nonformal di kegiatan lapangan dan ekstrakurikuler, serta pendidikan informal di asrama. Sebuah pendekatan utuh yang menumbuhkan kemerdekaan sejati: merdeka berpikir, merdeka ruh, dan merdeka ilmu.
Lebih jauh, LSTEAMS ditanamkan untuk menumbuhkan kesadaran filosofis (memahami apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa); kesadaran ekologis (bertindak selaras dengan keberlanjutan alam sekitar); serta kesadaran sosial (menghadirkan manfaat bagi sesama). Di titik inilah pendidikan menemukan maknanya: bukan hanya mencetak cerdas, tetapi menanamkan kesadaran, menumbuhkan manusia yang merdeka dan berperikemanusiaan.


