Prof. Ermaya: Pendidikan Vokasi Al-Zaytun Harus Jadi Rujukan Pendidikan Indonesia

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Indramayu, lognews.co.id – Pendidikan vokasi harus mampu menjawab kebutuhan nyata bangsa, terutama dalam mengatasi persoalan pangan dan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang maritim, pertanian, dan perikanan. Orientasi pendidikan tidak cukup berhenti pada penguasaan teori, tetapi harus menghasilkan lulusan yang mampu menerapkan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Ermaya Suryadinata dalam wawancara bersama tim lognews Media di sela-sela peringatan Hari Sumpah Pemuda di Wisma Tamu Al-Islah, Kampus Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya” tersebut sekaligus menjadi momentum pelaksanaan lokakarya penyusunan kurikulum enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya.

Menurut Ermaya, pengembangan program studi di lingkungan Al-Zaytun semestinya berangkat dari kebutuhan bangsa Indonesia, bukan sekadar keinginan untuk mendirikan program pendidikan baru. Kebutuhan terhadap tenaga terampil yang mampu mengatasi persoalan pangan menjadi salah satu alasan penting bagi pengembangan pendidikan vokasi.

“Agar program studi ini memang bukan karena dibuat atas kemauan dari Al-Zaytun, tapi justru kebutuhan bangsa Indonesia untuk mencari lulusan atau pendidikan yang bisa praktik mengatasi kekurangan pangan maupun untuk mengatasi masa depan pangan Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai, pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat mengelola potensi nasional secara produktif. Sektor maritim, pertanian, dan perikanan merupakan bidang yang membutuhkan dukungan tenaga profesional dengan kompetensi sesuai kebutuhan lapangan.

Menurutnya, pengelolaan potensi sumber daya manusia atau human capital harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membentuk manusia berkualitas yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.

“Kalau ini tercukupi dari hasil pendidikan vokasi seperti ini, maka program seperti inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh masyarakat bangsa Indonesia,” katanya.

Generasi Pelanjut Harus Menciptakan Sejarah

Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, Ermaya juga menyampaikan pesan kepada para alumni dan pelajar Ma’had Al-Zaytun agar tidak sekadar menjadikan sejarah sebagai bahan untuk dikenang. Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda harus menjadi dorongan bagi generasi saat ini untuk menciptakan sejarah baru melalui karya dan kontribusi nyata.

Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita para pendahulu sekaligus membangun masa depan Indonesia sesuai tantangan zamannya.

“Memperingati Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang sejarah besar, sejarah masa lalu semata. Kita harus membuat sejarah besar masa lalu itu diciptakan saat ini oleh generasinya untuk masa depan,” tutur Ermaya.

Ia menjelaskan, peringatan Sumpah Pemuda yang telah berlangsung selama puluhan tahun semestinya menjadi pemantik bagi generasi sekarang untuk mengambil peran aktif dalam menentukan arah perjalanan bangsa.

Semangat tersebut, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui kemampuan menciptakan perubahan, membangun kompetensi, dan menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat. Dengan begitu, generasi pelanjut tidak hanya mewarisi nilai-nilai perjuangan, tetapi juga meninggalkan capaian yang dapat menjadi bagian dari sejarah Indonesia pada masa mendatang.

Penguatan Kompetensi Pengajar dan Kolaborasi Pendidikan

Selain menyoroti orientasi lulusan, Ermaya menilai pengembangan enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya perlu ditopang oleh kualitas tenaga pengajar yang memadai. Kompetensi pengajar, menurutnya, menjadi salah satu unsur penting dalam menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan vokasi.

Ia menegaskan bahwa pemenuhan standar akreditasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan pengajar, baik dalam kompetensi bidang maupun kompetensi dasar yang relevan dengan program studi masing-masing.

“Ini harus memiliki kompetensi pengajar yang bisa, tentu secara akreditasi harus dipenuhi,” ujarnya.

Ermaya juga mendorong penguatan kerja sama dengan pemerintah daerah, masyarakat, serta lembaga pendidikan dan perguruan tinggi lainnya. Kolaborasi tersebut diperlukan agar proses pembelajaran terus berkembang, mengikuti kebutuhan dunia kerja, dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan yang telah berjalan.

Menurutnya, pengembangan program studi baru membutuhkan perencanaan kurikulum yang matang, termasuk penyesuaian kompetensi pengajar dengan karakteristik keilmuan dan keterampilan yang akan diberikan kepada mahasiswa.

Melalui langkah tersebut, pendidikan vokasi di Al-Zaytun diharapkan dapat berkembang menjadi model pendidikan yang memiliki kualitas dan daya saing, sekaligus menjadi rujukan bagi penyelenggaraan pendidikan vokasi di Indonesia.

Momentum lokakarya kurikulum enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya pun menjadi bagian dari upaya menyelaraskan arah pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Dengan menempatkan ketahanan pangan, penguatan sumber daya manusia, dan kompetensi generasi muda sebagai perhatian utama, pendidikan vokasi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia. (Saheel untuk Indonesia)