Gagasan Syaykh Al Zaytun Kedaulatan Nilai pangan: Menjaga Tanah untuk Generasi pelanjut

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

LEMBANG, lognews.co.id – Gagasan kedaulatan nilai pangan yang dikembangkan Syaykh Al-Zaytun dinilai memiliki relevansi dengan upaya membangun sistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas hasil panen dan kelestarian lingkungan. Gagasan tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti Dr. Eti Heni Krestini, S.P., M.P., saat menanggapi keterlibatan mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Sayuran di Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lembang, Kamis (22/10/2026).

Eti, yang merupakan narasumber sekaligus Ketua Tim Kerja Layanan dan Pendayagunaan Hasil, menyampaikan pandangannya saat diwawancarai Tim Lognews Media Dynasti, S.I.Kom., di Balai BRMP Lembang.

Menurut Eti, kedaulatan nilai pangan perlu dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan menghasilkan pangan. Pembangunan pertanian ke depan juga perlu memperhatikan mutu produk yang dihasilkan serta dampaknya terhadap lingkungan.

“Jadi mungkin kedaulatan nilai pangan itu nilainya lebih tinggi daripada hanya ketahanan pangannya,” ujar Eti dalam wawancara tersebut.

Ia menjelaskan, orientasi pembangunan pertanian tidak semestinya berhenti pada pencapaian produktivitas. Kualitas hasil pertanian dan dampak kegiatan budidaya terhadap lingkungan juga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan arah pengembangan sektor pangan.

“Nah, itu kan jangka panjangnya. Lingkungan juga dengan kedaulatan pangan dimungkinkan,” katanya.

Eti menilai, keberlanjutan pertanian berkaitan erat dengan cara manusia mengelola sumber daya alam. Tanah sebagai salah satu fondasi utama produksi pangan perlu dijaga agar tetap memiliki kualitas yang baik dan mampu mendukung kegiatan pertanian dalam jangka panjang.

“Jadi kita itu tidak hanya berpikiran untuk menghasilkan produktivitas sekarang, tetapi juga harus melestarikan tanah itu. Jangan sampai dirusak,” tuturnya.

Ia turut mengingatkan pentingnya memperhatikan dampak penggunaan bahan kimia dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Menurutnya, praktik pertanian perlu mempertimbangkan konsekuensi lingkungan agar peningkatan produksi tidak menimbulkan persoalan baru bagi keberlanjutan lahan.

“Tanah dan alam ini bukan hanya milik kita, tapi kita harus mewarisi ke generasi berikut itu dengan kualitas yang kita pertahankan, tidak dengan kualitas yang lebih menurun,” ujar Eti.

Mahasiswa Syaykh Al-Zaytun dan Pengembangan Pertanian

Dalam wawancara yang sama, Eti juga mengapresiasi perhatian Syaykh Al-Zaytun terhadap pengembangan ilmu pertanian di lingkungan pendidikan yang selama ini dikenal memiliki fokus pada pendidikan agama.

“Alhamdulillah, karena di mata kami itu Syaykh Al-Zaytun fokusnya ke agama. Ternayat beliau concern juga ke pertanian,” katanya.

Menurut Eti, penguasaan ilmu agama dan ilmu pertanian dapat berjalan beriringan. Keduanya dapat membentuk sumber daya manusia yang memiliki wawasan keagamaan sekaligus kompetensi untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor pangan.

“Dengan kita ada ilmu-ilmu pertanian, kita juga bisa jadi ustaz dan jadi ahli pertanian,” ujarnya.

Sebanyak 18 mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun mengikuti Bimtek Sayuran yang menjadi bagian dari kegiatan pengembangan pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanian tersebut.

Keterlibatan mahasiswa itu menjadi relevan dalam konteks pengembangan gagasan kedaulatan nilai pangan. Pendidikan pertanian tidak hanya perlu membekali peserta dengan kemampuan teknis budidaya, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai kualitas pangan, pengelolaan lahan, dan keberlanjutan lingkungan.

Gagasan kedaulatan nilai pangan dengan demikian membuka ruang pembahasan mengenai bagaimana sistem pangan dikembangkan, bukan hanya berdasarkan jumlah produksi, tetapi juga berdasarkan mutu hasil dan tanggung jawab terhadap sumber daya alam.

 

Melalui pengembangan kompetensi pertanian dan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan, generasi muda diharapkan dapat mengambil peran dalam membangun sistem pangan yang lebih berkualitas dan berorientasi jangka panjang. (Saheel untuk Indonesia)