LEMBANG, lognews.co.id – Pendidikan agama dan ilmu pertanian dinilai dapat saling melengkapi dalam membentuk sumber daya manusia yang memiliki wawasan keagamaan sekaligus kompetensi di bidang pangan. Pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti dalam keterlibatan mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Sayuran di Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lembang, Kamis (22/10/2026).
Dr. Eti Heni Krestini, S.P., M.P., narasumber sekaligus Ketua Tim Kerja Layanan dan Pendayagunaan Hasil, menyampaikan pandangan tersebut saat diwawancarai Tim Lognews Media Dynasti, S.I.Kom., di Balai BRMP Lembang pada Kamis (22/10/2026).
Menurut Eti, ilmu pertanian dapat menjadi bidang keahlian yang memperluas peran lulusan lembaga pendidikan keagamaan.
Ia menyambut baik perhatian Syaykh Al-Zaytun terhadap pengembangan ilmu pertanian, di samping pendidikan agama yang selama ini menjadi salah satu fokus lembaga tersebut.
“Alhamdulillah, karena di mata kami itu Syaykh Al-Zaytun fokusnya ke agama. Ini dia concern juga ke pertanian,” kata Eti.
Menurutnya, seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama tidak harus membatasi diri pada satu bidang keilmuan. Penguasaan ilmu pertanian dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor pangan sekaligus memperluas pemahaman mengenai alam.
“Agama itu tidak hanya harus mendalami profesi sebagai ustaz agama, tetapi dengan kita ada ilmu-ilmu pertanian, kita juga bisa jadi ustaz dan jadi ahli pertanian,” ujarnya.
Eti menjelaskan bahwa mempelajari pertanian juga dapat membuka ruang untuk memahami berbagai proses alam, mulai dari pertumbuhan tanaman hingga hubungan antara organisme dan lingkungannya.
Dalam pandangannya, ilmu pengetahuan dapat membantu seseorang memahami fenomena alam secara lebih mendalam. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk merefleksikan kebesaran Tuhan melalui berbagai ciptaan-Nya.
Ia mencontohkan bagaimana kajian ilmiah terhadap organisme dan penyakit dapat memberikan pemahaman mengenai hubungan yang terjadi di alam. Karena itu, pembelajaran pertanian tidak semata-mata berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga dapat memperluas cara pandang peserta didik terhadap kehidupan.
Keikutsertaan 18 mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun dalam kegiatan Bimtek Sayuran menjadi salah satu bentuk keterlibatan lembaga pendidikan dalam memperluas pembelajaran di bidang pertanian.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal pengetahuan dan praktik pertanian secara lebih dekat. Penguasaan ilmu di bidang ini juga relevan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung pembangunan pangan nasional.
Melalui pendekatan pendidikan yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi yang lebih luas dan mampu mengambil peran dalam menjawab tantangan pertanian di masa mendatang. (Saheel untuk Indonesia)




