Jejak Nakhoda Isola, Buku yang Merekam Sejarah Kepemimpinan UPI

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

LOGNEWS.CO.ID - Sejarah sebuah perguruan tinggi tidak hanya terdiri atas tanggal, perubahan kelembagaan, kebijakan, dan pergantian pimpinan. Di balik setiap fase perkembangan terdapat manusia dengan gagasan, keberanian, keputusan, pengabdian, dan nilai yang turut menentukan arah institusi. Sejarah kepemimpinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah universitas.

Buku ini berangkat dari satu harapan sederhana. Jangan sampai jejak para nakhoda pendidikan menyusut dari ingatan generasi penerus. Perjalanan dari PTPG Bandung, FKIP Universitas Padjadjaran, IKIP Bandung, hingga Universitas Pendidikan Indonesia berlangsung melalui zaman yang berbeda, dengan tantangan dan tuntutan yang terus berubah. Para pemimpinnya hadir dengan latar belakang, karakter, visi, dan gaya kepemimpinan yang beragam. Namun, semuanya bertemu dalam satu amanah: membawa lembaga pendidikan tinggi keguruan ini terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi pendidikan Indonesia.

Dari sinilah metafora “Sang Nakhoda” memperoleh maknanya. Nakhoda bertugas membaca arah, mengenali kondisi perjalanan, menentukan haluan, mengambil keputusan, dan memastikan kapal tetap bergerak menuju tujuan. Demikian pula seorang pemimpin universitas. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan internal kelembagaan, tetapi juga dengan perubahan kebijakan pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamika masyarakat, serta tuntutan zaman.

Perjalanan sebuah universitas tidak pernah ditentukan oleh seorang pemimpin saja. Kemajuan institusi merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, pemerintah, dan para mitra. Karena itu, kepemimpinan dalam buku ini dipahami bukan terutama sebagai kekuasaan atau jabatan, melainkan sebagai amanah untuk menggerakkan manusia, membangun arah bersama, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan institusi berkembang secara berkelanjutan.

Buku ini tidak dimaksudkan sebagai biografi lengkap para rektor atau pimpinan yang pernah memimpin lembaga ini. Buku ini lebih merupakan rekaman reflektif tentang perjalanan kepemimpinan: gagasan yang diperjuangkan, keputusan yang diambil, perubahan yang ditempuh, tantangan yang dihadapi, serta kontribusi yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan institusi.

Perjalanan tersebut bermula dari Prof. Dr. Mas Sadarjoen Siswomartojo, Dekan pertama PTPG Bandung (1954) sampai dengan kepemimpinan Rektor UPI sekarang, Prof.Dr. DidiSukyadi,MA (2025 - sekarang).

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan institusi merupakan hasil akumulasi lintas generasi. Tidak ada seorang pemimpin pun yang membangun universitas dari titik nol. Setiap kepemimpinan menerima kondisi yang telah dibentuk sebelumnya, kemudian memberikan respons sesuai tantangan zamannya. Ada hal yang perlu dipertahankan, ada yang harus diperbaiki, dan ada pula yang perlu ditransformasikan agar tetap relevan.

Estafet bukan sekadar pergantian pemegang jabatan, melainkan kesinambungan tanggung jawab. Tongkat yang diterima bukan sesuatu yang harus dipertahankan dalam bentuk yang sama, melainkan amanah yang perlu dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Dengan demikian, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh capaian selama masa jabatan, tetapi juga oleh kualitas fondasi yang ditinggalkan untuk perjalanan selanjutnya.

Dalam perspektif ini, legacy seorang pemimpin tidak terutama terletak pada nama yang tercantum pada sebuah bangunan atau dokumen kebijakan. Warisan yang lebih bermakna adalah nilai yang tetap hidup, budaya akademik yang tumbuh, sistem yang semakin kuat, gagasan yang terus dikembangkan, serta manusia yang berhasil dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan.

Membaca sejarah bukan berarti berhenti pada masa lalu. Justru dari sejarah kita dapat memperoleh perspektif untuk menghadapi perubahan. Pendidikan tinggi saat ini berada dalam lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Digitalisasi, kecerdasan artifisial, internasionalisasi, perubahan ekosistem ilmu pengetahuan, tuntutan mutu dan relevansi lulusan, serta kompetisi global menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan kepemimpinan adaptif, kolaboratif, visioner, dan humanistik.

Di tengah perubahan tersebut, terdapat nilai yang tetap relevan: integritas, keteladanan, keilmuan, pengabdian, kemanusiaan, dan keberpihakan pada kemajuan pendidikan. Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan perjalanan panjang lembaga ini sekaligus menjadi modal moral untuk menghadapi masa depan.

Jejak Nakhoda Isola, Estafet Kepemimpinan Pendidikan tidak dimaksudkan untuk mengagungkan masa lalu. Buku ini ditulis untuk belajar dari perjalanan yang telah dilalui. Setiap kepemimpinan dapat dibaca sebagai pengalaman yang memiliki kekuatan, keterbatasan, keberhasilan, tantangan, dan pelajaran. Dari sanalah pembaca dapat menemukan apa yang patut diteladani, apa yang masih relevan, serta apa yang perlu diperbarui.

Semoga jejak para nakhoda yang direkam dalam buku ini tidak berhenti sebagai dokumentasi. Semoga ia menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang menerima amanah kepemimpinan pendidikan untuk mampu membaca perubahan, menentukan arah, membangun kebersamaan, dan menghadirkan kemajuan yang bermakna.

Nakhoda boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi perjalanan pendidikan harus terus berlanjut. Setiap kepemimpinan memiliki waktunya sendiri. Hal yang terpenting adalah memastikan bahwa apa yang telah dibangun menjadi pijakan bagi langkah berikutnya. Estafet kepemimpinan tidak berhenti pada pergantian pemimpin, tetapi terus hidup sebagai kesinambungan gagasan, nilai, tanggung jawab, dan pengabdian bagi pendidikan Indonesia.

Bandung, Oktober 2026

Dinn Wahyudin

 

Informasi Buku

- Judul: Jejak Nakhoda Isola

- Jumlah halaman: 467 halaman

- Tahun terbit: 2026

- Penulis: Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A.

- Editor: Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si.

- Penerbit: UPI Press

- Kontak penerbit: +62 821-3055-0434