Monday, 21 September 2026

PKBM Al Zaytun: Pendidikan Melahirkan Kesadaran, Kesadaran Melahirkan Pengabdian

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, LogNews.co.id – Pendidikan bukan sekadar perjalanan meraih gelar, tetapi proses membentuk kesadaran untuk memberi manfaat bagi sesama. Nilai itulah yang dirasakan Suwandi, S.Pd., M.Pd., alumni PKBM Al Zaytun yang berhasil menempuh pendidikan hingga jenjang Magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Perjalanan Suwandi menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan di PKBM Al Zaytun dapat menjadi pintu menuju pendidikan tinggi sekaligus melahirkan pengabdian di berbagai bidang. Baginya, ilmu yang diperoleh bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga membangun kesadaran filosofis, ekologis, dan sosiologis dalam kehidupan.

Berhikmat di Al Zaytun Sejak Tahun 2000

Suwandi mengawali kisahnya dengan rasa syukur atas kesempatan berhikmat di Ma'had Al Zaytun sejak tahun 2000. Lingkungan pendidikan yang mengusung nilai toleransi dan perdamaian menjadi titik awal perjalanan akademiknya.

Melalui PKBM Al Zaytun, ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan kesetaraan, mulai dari Paket B hingga Paket C.

"Atas hidayah Allah SWT saya berhikmat di Mahad Al Zaytun sejak tahun 2000. Sejak berada di pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian ini, saya mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui PKBM Al Zaytun, mulai dari Paket B hingga Paket C," ujar Suwandi.

Kesempatan tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dari PKBM Al Zaytun hingga Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Setelah menyelesaikan pendidikan kesetaraan, Suwandi melanjutkan studi di Institut Agama Islam Al Zaytun Indonesia sebagai angkatan pertama dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2019.

Semangat belajar itu berlanjut ketika ia menempuh pendidikan pascasarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga berhasil meraih gelar Magister.

"Setelah itu saya melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Al Zaytun Indonesia sebagai angkatan pertama dan lulus pada tahun 2019. Kemudian saya melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulus pada tahun 2020," tuturnya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di PKBM Al Zaytun menjadi awal dari proses pembelajaran yang terus berlanjut.

Syaykh Al Zaytun Menjadi Inspirator Pendidikan

Suwandi mengaku keberhasilannya tidak terlepas dari inspirasi dan bimbingan Yang Amat Berhormat Rahmat Syaykh Al Zaytun Dr. (C) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P.,

Menurutnya, Syaykh Al Zaytun terus memberikan motivasi dan unjuk ajar agar para alumni tidak berhenti belajar dan terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan.

"Saya bersyukur kepada Allah karena melalui hidayah-Nya saya berada di lingkungan pendidikan ini, dengan Syaykh Al Zaytun sebagai inspirator yang terus membimbing kami dalam dunia pendidikan," katanya.

Bagi Suwandi, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi tentang membangun karakter dan arah hidup.

Pendidikan Melahirkan Kesadaran dan Pengabdian

Ilmu yang diperoleh Suwandi kini diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian di lingkungan Ma'had Al Zaytun. Saat ini ia dipercaya sebagai Wakil Koordinator Halapangan Sarpama Al Zaytun, menjadi representatif Koperasi Serba Usaha Desa Kota Indonesia untuk sivitas Al Zaytun, sekaligus mengajar di Madrasah Aliyah Mahad Al Zaytun.

Menurutnya, pendidikan telah membuka ruang untuk berkontribusi lebih luas di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

"Dari seluruh proses tersebut, saya dapat melakukan banyak hal di bidang pendidikan. Saat ini saya menjabat sebagai Wakil Koordinator Halapangan Sarpama Al Zaytun. Saya juga menjadi representatif Koperasi Serba Usaha Desa Kota Indonesia untuk sivitas Al Zaytun, serta diberi kesempatan mengajar di Madrasah Aliyah Mahad Al Zaytun," ungkapnya.

Kesadaran Filosofis, Ekologis, dan Sosiologis

Suwandi menegaskan bahwa pendidikan yang ia tempuh di Al Zaytun melahirkan cara pandang yang lebih utuh terhadap kehidupan.

Ia menyebut pendidikan telah membentuk kesadaran filosofis, yaitu memahami makna kehidupan dan ilmu; kesadaran ekologis, yakni kepedulian terhadap lingkungan; serta kesadaran sosiologis, yaitu kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

"Terima kasih kepada Syaykh Al Zaytun yang terus membimbing dan memberikan unjuk ajar kepada kami agar terus melanjutkan pendidikan. Dari pendidikan itu lahir kesadaran, baik secara filosofis, ekologis, maupun sosiologis, sehingga kami dapat melakukan yang terbaik dan memberikan manfaat bagi banyak orang," tuturnya.

Adab Sebelum Ilmu Menjadi Pondasi Pendidikan

Perjalanan Suwandi menjadi gambaran nyata filosofi adab sebelum ilmu yang menjadi dasar pendidikan di PKBM Al Zaytun. Pendidikan dipahami sebagai proses membangun manusia yang berilmu sekaligus beradab, sehingga ilmu yang dimiliki berujung pada pengabdian.

Melalui kisah Suwandi, PKBM Al Zaytun kembali menegaskan bahwa pendidikan nonformal mampu membuka jalan menuju pendidikan tinggi dan melahirkan insan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (Saheel untuk Indonesia)