Lognews.co.id - Selama ini toleransi kerap dipahami secara sempit, sebatas sikap terhadap pemeluk agama lain. Begitu tidak ada gesekan antarumat beragama, persoalan keberagaman dianggap tuntas. Cara pandang ini keliru, sebab ia mengabaikan bentuk-bentuk perbedaan lain yang sebenarnya jauh lebih sering dihadapi mahasiswa sehari-hari.
Di lingkungan kampus, perbedaan asal daerah, latar belakang ekonomi, hingga cara memaknai satu keyakinan yang sama juga menuntut toleransi, meski jarang diakui sebagai bagiannya. Pertanyaannya, dari titik mana peran mahasiswa dalam membangun perdamaian di tengah keberagaman ini semestinya dimulai?
1. Logat dan gaya bicara yang berbeda-beda dalam satu kelas

(Gambar ilustrasi AI)
Coba perhatikan satu ruang kuliah yang biasa dihuni mahasiswa dari berbagai penjuru daerah. Aksen, kebiasaan, sampai cara menyampaikan pendapat jelas tidak seragam antara satu orang dengan yang lain. Ironisnya, perbedaan sesederhana ini justru sering memicu kesalahpahaman, seperti: mahasiswa yang terbiasa langsung ke pokok pembicaraan bisa dicap kasar, sementara yang lebih memilih diam dan mengamati dulu malah dianggap tidak berminat berdiskusi.
Padahal tidak ada satu gaya komunikasi yang lebih sah dibanding yang lain. Kesediaan menyesuaikan diri dengan ragam cara orang berekspresi semacam inilah yang sebetulnya membentuk fondasi paling awal dari sikap terbuka terhadap perbedaan, bahkan sebelum seseorang benar-benar diuji oleh perbedaan yang lebih besar
2. Satu keyakinan, ragam cara memahaminya

(Gambaar Ilustrasi AI)
Menariknya, perpecahan pandangan tidak selalu terjadi antarpemeluk agama yang berlainan. Bahkan di antara orang-orang yang menganut keyakinan sama, cara menafsirkan ajarannya bisa jauh berbeda, ada yang berpegang teguh pada makna tekstual, ada pula yang lebih terbuka pada penafsiran kontekstual. Justru gesekan semacam inilah yang paling sering memantik perdebatan panjang di ruang kelas maupun forum organisasi.
Fenomena ini menyingkap sisi toleransi yang jarang disadari, bahwa esensinya bukan sekadar menerima keberadaan pemeluk agama lain, melainkan kesediaan mendengarkan cara berpikir yang berbeda, sekalipun itu datang dari kelompok yang tampak "sama" secara identitas.
3. Momen langka yang justru paling berkesan
(Gambaar Ilustrasi AI)
Bukan rahasia kalau kampus yang homogen jarang kedatangan pihak dari luar kalangan sendiri. Namun ketika itu terjadi, entah lewat kunjungan tamu atau kegiatan lintas latar belakang, dampaknya justru lebih terasa dibanding forum-forum rutin yang sudah biasa dijalani. Ada yang menyambutnya dengan rasa ingin tahu, ada yang masih ragu-ragu, tak sedikit pula yang canggung karena belum terbiasa.
Kelangkaan itulah yang justru jadi kekuatannya. Sebuah lingkungan tidak perlu terus-menerus beragam untuk bisa melatih penghuninya berdialog dengan yang berbeda. Cukup satu momen yang datang sesekali, asalkan dimaknai dengan sungguh-sungguh, sudah bisa meninggalkan bekas yang lebih dalam ketimbang rutinitas yang berulang setiap hari.
4. Ujian toleransi sesungguhnya bukan saat berhadapan dengan yang berbeda

(Gambaar Ilustrasi AI)
Menariknya, sikap toleran justru lebih gampang ditunjukkan ketika berhadapan dengan sesuatu yang jelas berbeda, baik itu agama, suku, maupun kebangsaan lain. Perbedaan yang kasatmata secara otomatis memancing rasa hormat. Namun cobalah amati apa yang terjadi ketika kelompok sendiri yang disorot, seperti: organisasi dikritik, almamater dipertanyakan, atau paham keagamaan yang dianut digugat. Respons yang paling sering muncul bukan sikap terbuka, melainkan pertahanan diri.
Di sinilah letak ujian yang sebenarnya, karena identitas kelompok sendiri tidak lagi bisa dijadikan alasan untuk bersikap ramah tanpa berpikir. Ada istilah dalam psikologi yang menggambarkan kondisi ini, intolerance of ambiguity, yakni kecenderungan merasa terancam saat berhadapan dengan persoalan yang tidak berujung pada jawaban pasti. Semakin seseorang terganggu oleh ketidakjelasan semacam itu, semakin besar dorongannya untuk menepis kritik yang menyasar kelompoknya, sebab kritik tersebut dianggap mengancam pijakan identitas yang selama ini diyakininya benar. Kebalikannya juga berlaku, orang yang mampu duduk dengan tenang di tengah ketidakpastian, tanpa buru-buru membela diri, sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk toleransi yang paling matang.
5. Toleransi adalah keterampilan yang dilatih, bukan bawaan otomatis

(Gambaar Ilustrasi AI)
Kebiasaan-kebiasaan kecil justru yang paling menentukan seberapa siap seseorang mengemban peran besar sebagai penggerak perdamaian: memberi ruang bagi pandangan yang berseberangan sebelum terburu menyimpulkannya salah, mencari tahu alasan di baliknya lebih dulu sebelum membantah, dan menempatkan toleransi bukan sebagai bawaan moral yang otomatis dimiliki, melainkan kemampuan yang harus terus diasah.
Fondasi itu dibangun justru dari skala paling kecil. Selama mahasiswa belum terbiasa bersikap toleran terhadap gesekan sehari-hari di lingkungan terdekatnya, apalagi ketika kritik itu menyasar kelompoknya sendiri, sulit membayangkan ia siap mengemban peran yang lebih besar dalam merawat perdamaian.
Maka, ketika membahas peran mahasiswa dalam merawat perdamaian di tengah keberagaman, pertanyaan yang lebih tepat diajukan bukan lagi "seberapa jauh kita berdialog dengan yang berbeda agama, budaya, atau negara?" melainkan "seberapa siap kita mendengarkan kritik terhadap kelompok sendiri, tanpa langsung merasa terserang?"
Penulis: Samsia Manalu (Mahasiswi Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia)



