Friday, 28 August 2026

Peringatan 40 Hari Wafat Ustaz Abdul Halim, Al-Zaytun Lanjutkan Tilawah Al-Qur'an 24 Jam hingga 100 Hari

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Ribuan jamaah yang terdiri atas guru, dosen, pelajar, tutor PKBM, tenaga kependidikan, hingga karyawan Mahad Al-Zaytun memadati Masjid Rahmatan Lil Alamin dalam rangka tahlilan dan doa bersama memperingati 40 hari wafatnya almarhum Ustaz Abdul Halim, Jumat (24/7/2026) malam.

Sebelum memasuki rangkaian tahlilan 40 hari, keluarga besar Mahad Al-Zaytun terlebih dahulu melaksanakan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran secara bergiliran selama 24 jam tanpa henti di depan makam almarhum Ustaz Abdul Halim. Kegiatan istighosah dan tilawah tersebut dimulai sejak hari-hari awal wafatnya almarhum sebagai bentuk doa yang terus mengalir, dan akan dilanjutkan hingga peringatan 100 hari wafat beliau.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat. Sejak pagi hari, lantunan ayat suci Al Quran, zikir, dan tahlil menggema di seluruh area masjid. Seluruh jamaah secara bersama-sama memanjatkan doa agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhum, melapangkan alam kuburnya, serta menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya selama hidup.

Tahlilan Menjadi Wujud Penghormatan Keluarga Besar Al-Zaytun

Peringatan 40 hari wafatnya Ustaz Abdul Halim menjadi momentum penghormatan sekaligus ungkapan rasa kehilangan dari keluarga besar Mahad Al-Zaytun. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur civitas akademika, mulai dari pimpinan, guru, dosen, pelajar, hingga karyawan yang selama ini mengenal dedikasi almarhum.

Acara berlangsung tertib hingga selesai salat Isya. Sebagian jamaah kembali ke aktivitas masing-masing, sementara sebagian lainnya tetap berada di Masjid Rahmatan Lil Alamin untuk melanjutkan doa dan beristirahat.

Sosok yang Mengawal Perjalanan Al-Zaytun Sejak Awal

Dalam wawancara usai kegiatan, alumni angkatan pertama Mahad Al-Zaytun, Ustaz Iqbal, menyampaikan bahwa almarhum merupakan salah satu tokoh yang sangat memahami sejarah dan perkembangan Al-Zaytun sejak masa awal pendiriannya.

"Ustaz Abdul Halim adalah orang yang sangat memahami Al-Zaytun. Sejak awal pembangunan hingga perjalanan Al-Zaytun berkembang, beliau selalu berada di sisi Syaykh Al-Zaytun. Beliau sangat memahami bagaimana Al-Zaytun dibangun dan berkembang," ujar Ustaz Iqbal.

Menurutnya, pengalaman panjang tersebut menjadikan almarhum sebagai sosok rujukan dalam berbagai persoalan kelembagaan, baik yang berkaitan dengan pembangunan maupun tata kelola administrasi.

Ketelitian Administrasi Menjadi Warisan Berharga

Selain dikenal sebagai pendidik, almarhum juga dikenang karena ketelitiannya dalam membangun sistem administrasi yang profesional. Ustaz Iqbal mengaku banyak memperoleh pelajaran langsung dari almarhum, terutama dalam penyusunan dokumen resmi.

"Saya banyak belajar dari beliau dalam urusan administrasi. Beliau mengajarkan bagaimana membuat surat, tata letak tanda tangan, ukuran font, spasi, menyusun tabel, hingga menyiapkan berkas laporan. Semua diajarkan secara detail karena beliau sudah memiliki standar administrasi yang sangat baik," kenangnya.

Menurutnya, perhatian almarhum terhadap detail tidak hanya bertujuan menciptakan dokumen yang rapi, tetapi juga membangun budaya kerja yang disiplin, sistematis, dan bertanggung jawab.

Nilai Pengabdian yang Terus Dikenang

Bagi para alumni dan civitas Mahad Al-Zaytun, Ustaz Abdul Halim meninggalkan lebih dari sekadar kenangan. Keteladanan dalam bekerja, kedisiplinan, kesabaran membimbing generasi muda, serta dedikasinya terhadap dunia pendidikan menjadi warisan yang terus hidup.

Ustaz Iqbal menegaskan bahwa ilmu dan nilai-nilai yang diajarkan almarhum masih diterapkan hingga sekarang oleh para alumni maupun pengelola lembaga. Baginya, sosok Ustaz Abdul Halim akan selalu dikenang sebagai pribadi yang memberikan fondasi penting dalam membangun tata kelola dan budaya kerja di Mahad Al-Zaytun.

Melalui tahlilan 40 hari tersebut, keluarga besar Mahad Al-Zaytun tidak hanya memanjatkan doa untuk almarhum, tetapi juga memperkuat komitmen untuk melanjutkan semangat pengabdian, profesionalisme, dan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan oleh Ustaz Abdul Halim selama hidupnya. (Saheel untuk Indonesia)