Saturday, 29 August 2026

Jangan Terjebak pada Satu Kalimat, Pahami Dulu Konteksnya Penggunaan Kata ”Aing”

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Lognews.co.id - Belakangan ini media sosial ramai memperdebatkan potongan video tausiah Syaykh Al Zaytun pada kegiatan PELATIHAN PELAKU DIDIK, ”Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan”, 04 Januari 2026 ,  yang membahas penggunaan kata "aing". Potongan video tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sehingga diskusi publik semakin meluas.

Tidak sedikit masyarakat kemudian ikut memperdebatkan sejarah bahasa Sunda, penggunaan kata "aing", hingga budaya berbahasa masyarakat Sunda.

Namun, ada satu hal yang patut menjadi perhatian bersama.

Apakah pembahasan tersebut masih sesuai dengan konteks tausiah yang disampaikan?

Jika mendengarkan tausiah Syaykh Al Zaytun secara utuh, tema yang dibangun sejak awal sebenarnya adalah ”Pemerataan Pendidikan di Indonesia”.

Syaykh Al Zaytun menyampaikan gagasan agar Indonesia memiliki sekitar 500 pusat pendidikan yang tersebar di setiap kabupaten. Menurutnya, pendidikan harus menjadi hak seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya bagi mereka yang dianggap pintar.

Di tengah pembahasan tersebut, Syaykh Al Zaytun  kemudian memberikan beberapa ilustrasi, salah satunya mengenai penggunaan kata "aing". Bagian inilah yang kemudian ramai diperbincangkan publik.

Padahal, secara alur pembahasan, bagian tersebut bukanlah tema utama tausiah.

Dalam dunia akademik, ada satu prinsip yang sangat sederhana, yaitu ’jangan menilai satu kalimat tanpa memahami keseluruhan pembahasannya.”

Seorang dosen tidak akan mengoreksi skripsi mahasiswa hanya dengan membaca satu paragraf. Seorang peneliti juga tidak akan mengkritik sebuah jurnal ilmiah hanya dari satu kutipan. Semua harus dibaca secara utuh agar maksud penulis benar-benar dipahami.

Prinsip yang sama seharusnya juga berlaku ketika kita menyimak ceramah, pidato, maupun diskusi publik.

Boleh saja seseorang tidak setuju dengan pendapat Syaykh Al Zaytun  mengenai istilah "aing". Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Namun, akan lebih baik apabila kritik tersebut tetap melihat keseluruhan konteks ceramah yang sedang disampaikan.

Sebab, jika yang menjadi tema utama adalah gagasan mengenai pemerataan pendidikan, maka diskusi mengenai pendidikan juga layak mendapatkan perhatian yang sama besarnya.

Bukankah lebih menarik apabila publik juga mendiskusikan pertanyaan seperti:

  1. ·       Apakah konsep 500 pusat pendidikan itu memungkinkan diwujudkan?
  2. ·       Bagaimana jika setiap kabupaten benar-benar memiliki pusat pendidikan unggulan?
  3. ·       Bagaimana dampaknya terhadap pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru dapat melahirkan diskusi yang lebih bermanfaat bagi masa depan bangsa.

Media sosial memang sering membuat perhatian kita tertuju pada satu potongan kalimat. Namun sebagai masyarakat yang semakin melek informasi, kita juga perlu membiasakan diri melihat sebuah persoalan secara utuh.

Karena terkadang, yang paling ramai diperbincangkan bukanlah pesan utamanya, melainkan hanya satu bagian kecil dari keseluruhan cerita.

Literasi bukan hanya tentang cepat berkomentar, tetapi juga tentang kesediaan memahami konteks sebelum memberikan penilaian. (Indah-untuk Indonesia Raya Abadi)