Oleh Ali Aminuloh
lognews.co.id, Indonesia - Sabtu, 20 Desember 2025, menjadi penanda awal denyut pembelajaran di PKBM Al Zaytun. Namun pagi itu bukan sekadar soal dimulainya kegiatan akademik. Ia hadir sebagai peristiwa batin, ketika belajar diletakkan pada makna terdalamnya. Sebagaimana sunnah yang terjaga, pembelajaran diawali dengan wawasan aktual yang disampaikan Kepala PKBM, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I.ME.. Kata-katanya tidak menggurui, melainkan mengajak warga belajar merenung: bahwa ilmu seharusnya membangun nalar sehat dan menumbuhkan harapan.
Ritual kebangsaan mengalir khidmat. Indonesia Raya dikumandangkan tiga stanza, seolah menegaskan bahwa cinta tanah air tidak cukup dihafal, tetapi harus dihayati. Mars PKBM membakar semangat, sementara hymne PKBM mengetuk kesadaran bahwa pendidikan adalah ikhtiar kolektif untuk menjaga masa depan. Di ruang itulah, rasa memiliki terhadap bangsa dan kemanusiaan tumbuh tanpa perlu teriak.
Ketika Dunia Menyapa Al Zaytun
Pagi itu menjadi lebih bermakna dengan kehadiran Moh. Najib, kandidat doktor dari Western University Perth Australia. Mahasiswa asal Demak ini datang bukan sebagai tamu seremonial, melainkan sebagai peneliti yang membawa mata dunia. Ketertarikannya pada Al Zaytun lahir dari perjumpaan langsung dengan realitas yang ia temukan: toleransi yang hidup, kesetaraan yang dipraktikkan, dan nasionalisme yang tumbuh alami dalam keseharian kampus.
Melalui risetnya, Najib ingin menyampaikan kepada publik internasional bahwa citra miring tentang Al Zaytun tidak sejalan dengan kenyataan. Di sini, perbedaan tidak melahirkan jarak, tetapi menjadi ruang dialog. Cinta pada negeri tidak berhenti pada simbol, melainkan diwujudkan dalam disiplin, kebersamaan, dan etos belajar. Kampus ini, baginya, adalah laboratorium hidup tentang bagaimana pendidikan mampu menjahit kebinekaan menjadi kekuatan.
LSTEAMS dan Jalan Menuju Jannah
Pesan Dzikir Jumat yang disampaikan Syaykh Al Zaytun kembali dihidupkan. Ust. Ali Aminulloh menegaskan bahwa Syaykh mentaushiyahkan pentingnya segera mengimplementasikan konsep LSTEAMS di seluruh jenjang pendidikan dari PAUD sampai Perguruan Tinggi, termasuk PKBM. Visi Al Zaytun sebagai pusat pendidikan serta pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuntut pendekatan yang utuh, yaitu pendidikan yang tidak tercerai antara akal, etika, dan nurani.
Merujuk QS. Ibrahim ayat 24–25, pendidikan diibaratkan pohon yang baik. Akarnya menghujam kuat pada nilai, batangnya tegak menghadapi zaman, dan buahnya dapat dipetik sepanjang masa. Akar itu adalah pendidikan yang menumbuhkan batang toleran dan damai. Dari sanalah lahir buah kesehatan, kecerdasan, dan kemanusiaan, kesejahteraan yang berkelanjutan. Sikap toleran membuka ruang pergaulan dengan siapa pun, sementara sikap damai mengajarkan cara mencari jalan bersama, bukan menang sendiri.
LSTEAMS pun dipahami sebagai laku hidup, bukan sekadar konsep. Etika menjadi kompas, sains dan teknologi menjadi alat pemudah, rekayasa menumbuhkan inovasi, seni memperindah kehidupan, matematika mengajarkan kehati-hatian, dan spiritualitas memuncak sebagai kesadaran cinta. Cinta kepada alam semesta, bangsa dan negara, lingkungan, sesama manusia, serta diri sendiri. Dari sinilah tumbuh kesadaran filosofis yang membuat setiap tindakan bermakna, kesadaran ekologis yang memandang alam sebagai sahabat, dan kesadaran sosial yang melihat manusia setara sebagai makhluk Tuhan. Luka bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menjadi cermin betapa mahal harga yang harus dibayar ketika kesadaran itu diabaikan.
Dengan basmalah, pembelajaran resmi dibuka. Doa penutup mengikat syukur, amal saleh, dan harapan akan perlindungan Ilahi. Di PKBM Al Zaytun, pendidikan tidak sekadar mengejar capaian akademik. Ia adalah perjalanan sunyi menanam akar kesadaran, agar kelak peradaban memetik buahnya. Buah kesihatan, buah kecerdasan, buah kemanusiaan dan kesejahteraan. Itulah Jannah.


